Menelusuri Jejak Koordinator Pergerakan yang Mengorbankan Segalanya Demi Pendidikan
Di balik gemerlap dan hiruk-pikuk kota pelabuhan Surabaya, tersembunyi lorong-lorong sejarah yang menyimpan kisah sunyi tentang pengabdian dan perjuangan. Kisah itu tersemat kuat pada nama Darius Raupa, seorang intelektual dan administrator yang berasal dari Poso, Sulawesi Tengah. Perannya di Jawa Timur jauh melampaui tugas birokrasi biasa; ia adalah figur sentral dalam sejarah pergerakan daerah pasca-kemerdekaan.
Meskipun arsip resmi modern sulit mencatatnya, jejak Raupa sebagai Koordinator Gerakan Pemuda Sulawesi Tengah (GPST) wilayah Jawa Timur menempatkannya sebagai tokoh kunci. Bagi Raupa, Surabaya bukan sekadar tempat tugas sementara, melainkan markas strategis untuk perjuangan di tingkat pusat.
Jalan Patemon: Rumah yang Menjadi Harapan dan Pos Komando
Puncak pengorbanan dan pengabdian Raupa di Surabaya terwujud dalam sebuah tindakan nyata yang berorientasi pada masa depan: pendidikan. Informasi yang tersimpan dalam ingatan kolektif menyebutkan bahwa Darius Raupa pernah membeli sebuah rumah di Jalan Patemon dan mendedikasikannya sebagai Asrama Sulawesi Tengah.
Tindakan ini melampaui transaksi properti; ini adalah investasi sosial yang visioner. Asrama di Patemon berfungsi vital sebagai:
- Pelabuhan Pendidikan: Menyediakan tempat tinggal yang aman bagi pelajar dan pemuda dari Sulawesi Tengah yang dikirim ke Jawaโpusat pendidikan dan politikโuntuk menimba ilmu. Dedikasi ini konsisten dengan semangatnya mendirikan yayasan pendidikan di NTT, menunjukkan prioritas utama pada pembangunan sumber daya manusia daerah.
- Pos Komando Pergerakan: Asrama ini menjadi pusat koordinasi untuk lobi politik dan penggalangan dukungan. Dari Patemon, disusunlah strategi untuk menghadap Presiden Soekarno demi menyampaikan aspirasi masyarakat Sulawesi Tengah.
Dalam menjalankan misi ganda ini, Raupa dibantu oleh individu terdekatnya. Almarhum Doea Langgara adalah salah satu orang yang secara khusus dibawa Raupa ikut ke Surabaya untuk membantu mengurus tugas-tugas pergerakan dan administrasi.
Dari Administrator Hingga Pelobi Pusat: Sosok yang Karismatik
Pada era 1950-an, peran Darius Raupa adalah peran ganda yang menuntut pengorbanan total. Ia harus menyeimbangkan tugasnya sebagai Wedana Diperbantukan (DPB) di Sulawesi Tengah dengan tanggung jawab berat sebagai Koordinator GPST di Jawa.
Surabaya menjadi titik lebur pertemuan peran-peran tersebut. Dari sana, Darius Raupa membuktikan dirinya bukan sekadar pegawai pemerintah, melainkan seorang pelobi ulung dan pembangun jembatan yang gigih memperjuangkan nasib daerahnya.
Kesaksian mendalam datang dari Almarhum Doea Langgara (kerabat dekat) yang menggambarkan wibawa Raupa:
“Beliau selalu kenakan pakaian stelan jas, berkacamata, rokok satu slop sebagai bekal kalau sedang bercerita,” kenang Ngkai (Kakek) Doea Langgara kepada salah satu cucu Darius Raupa, saat bertemu di kediamannya Desa Tagolu, sambil memperlihatkan salah satu arsip foto Darius Raupa sedang berada dalam mobil Jeep.
Gambaran ini menyoroti citra Darius Raupa sebagai seorang intelektual terhormat yang memperhatikan penampilan, mencerminkan citra pejuang diplomasi di era pasca-kemerdekaan. Mobilitasnya yang tinggi, seperti yang ditunjukkan oleh potretnya di dalam mobil Jeep, menggarisbawahi peran pentingnya dalam pergerakan.
Darius memahami bahwa perjuangan fisik telah usai, namun perjuangan politik dan pendidikan yang ia kerjakan dari lorong sunyi Jalan Patemonโbaru saja dimulai. Kisah Darius Raupa di Surabaya adalah pengingat bahwa pahlawan sejati tidak selalu tertulis di monumen besar. Kadang, jejak mereka ditemukan dalam wujud sebuah rumah sederhana yang diubah menjadi asrama, menjadi saksi bisu upaya seorang anak daerah yang mengorbankan sumber dayanya demi masa depan generasi penerus.**
Ditulis : Simson Towengke

Opini Anda