Kabupaten Poso di penghujung 2025 tidak sedang dalam suasana pesta yang riuh. Di balik deru kendaraan yang melintasi Jalan Trans Sulawesi, tersimpan sebuah kegelisahan yang menggantung di udara. Dua isu besar menjadi buah bibir di kedai-kedai kopi hingga ke ruang digital: sebuah rumah sakit megah yang belum kunjung rampung dan sebuah misteri kematian yang belum menemukan titik terang.
Debu Konstruksi di Maliwuko
Di Maliwuko, kerangka beton RSUD baru berdiri tegak, namun suasananya sunyi dari aktivitas pelayanan medis yang seharusnya sudah dimulai. Harapan masyarakat untuk memiliki pusat kesehatan modern yang mampu memangkas jarak dan waktu nampaknya harus disimpan lebih lama di dalam laci janji pemerintah.
Pembangunan yang belum selesai ini bukan sekadar soal keterlambatan kontraktor atau urusan administrasi. Ini adalah soal seorang ibu hamil yang harus dirujuk jauh, soal pasien kritis yang bertaruh nyawa di perjalanan, dan soal hak dasar warga Poso yang tertunda oleh tumpukan semen dan besi yang belum menyatu. Masyarakat bertanya-tanya: Sampai kapan anggaran miliaran rupiah ini hanya menjadi monumen beton tanpa nyawa?
Luka Menganga di Lawanga Tawongan
Bergeser ke jantung kota, luka lain terasa lebih perih karena menyangkut nyawa manusia. Di Kelurahan Lawanga Tawongan, sebuah kamar kos pernah menjadi saksi bisu berakhirnya hidup Salsa (16), seorang gadis remaja yang masa depannya direnggut secara paksa pada Oktober 2024 lalu.
Sudah lebih dari satu tahun kalender berganti, namun kursi tersangka masih kosong. Keheningan pihak berwajib selama berbulan-bulan sempat menimbulkan skeptisisme: Apakah kasus ini akan menguap begitu saja? Kapolres Poso dalam rilis akhirnya menegaskan bahwa pengungkapan kasus Salsa adalah “Prioritas Utama” di tahun 2026. Sebuah janji yang membawa secercah harapan, sekaligus beban berat bagi kepolisian. Penggunaan metode ilmiah (Scientific Investigation) kini menjadi tumpuan terakhir untuk menyeret pelaku yang diduga tengah bersembunyi di balik hiruk-pikuk industri di Morowali.
Antara Fisik dan Rasa Aman
Poso saat ini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, pemerintah daerah berambisi membangun wajah fisik kabupaten melalui infrastruktur seperti RSUD Maliwuko. Di sisi lain, aparat penegak hukum diuji komitmennya untuk menghadirkan rasa aman yang paling hakiki.
Sebab, apalah artinya gedung rumah sakit yang megah jika warganya merasa tidak aman bahkan di dalam kamar mereka sendiri? Dan apalah artinya pembangunan ekonomi jika keadilan bagi seorang anak manusia begitu sulit untuk dicapai?
Menjelang tahun 2026, warga Poso tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin melihat RSUD Maliwuko segera membuka pintu bagi pasien, dan melihat pembunuh Salsa mengenakan rompi tahanan. Poso butuh kesembuhan, baik dari segi fasilitas kesehatan maupun dari rasa sakit akibat ketidakadilan yang berlarut-larut.
Sintuwu Maroso bukan sekadar semboyan, ia adalah tuntutan untuk saling menguatkan dalam pembangunan dan saling menjaga dalam keadilan.* Simson Towengke

Opini Anda