Mahkota di Atas Puing Pengabdian: Nyanyian Sunyi dari Negeri Zolim
Oleh: Simson Towengke
Di bawah langit yang selalu tampak mendung, istana Negeri Zolim berdiri angkuh dengan pilar-pilar marmer yang dingin. Di puncaknya, seorang Ratu dari dinasti tua bertahta. Baginya, kekuasaan bukanlah sekadar mandat, melainkan warisan darah yang harus dijaga dengan tangan besi. Namun, di penghujung periode kabinet kali ini, udara di ibukota tidak lagi beraroma wangi melati, melainkan bau anyir dari dendam politik yang belum tuntas.
Perjamuan Terakhir dan Kursi yang Kosong
Di aula-aula kementerian, suasana mencekam begitu terasa. Pergantian kabinet yang seharusnya menjadi momentum regenerasi, justru berubah menjadi medan pembersihan. Sang Ratu, dengan jemarinya yang lentur namun mematikan, sedang menyusun bidak-bidak terakhir di papan catur kekuasaannya.
Anehnya, di saat banyak urusan rakyat terbengkalai, puluhan bahkan ratusan kursi jabatan strategis dibiarkan kosong melompong. Satuan-satuan kerja kehilangan komandannya. Padahal, di luar gerbang istana, antrean panjang pegawai yang mumpuni, berprestasi, dan memenuhi syarat administrasi telah mengular. Mereka hanya bisa menatap kursi-kursi kosong itu dari balik kaca, menyadari bahwa kompetensi tak lagi punya nilai di hadapan loyalitas buta.
“Kami hanya angka dalam catatan pengabdian, tapi kami dianggap ancaman dalam catatan politiknya,” bisik salah seorang abdi dalem yang telah mengabdi puluhan tahun, namun kini nasibnya digantung tanpa kepastian.
Monopoli di Lingkaran Dalam
Sementara ratusan posisi teknis dibiarkan mati suri, jabatan-jabatan “basah” dan strategis justru dikunci rapat. Tidak ada ruang bagi orang luar. Kursi-kursi itu telah dipesan khusus untuk mereka yang memiliki kedekatan personal, mereka yang suaranya paling merdu memuji sang Ratu, atau mereka yang merupakan bagian dari gurita dinasti itu sendiri.
Monopoli kekuasaan ini menciptakan jurang yang lebar. Di satu sisi, ada segelintir orang yang memegang begitu banyak kunci pintu negara, sementara di sisi lain, ratusan pegawai profesional harus rela menjadi “tumbal”. Karir yang mereka bangun dengan peluh dan air mata, kini berada di titik nadir. Mereka diparkir di posisi-posisi yang tidak relevan, atau lebih buruk lagi, dibiarkan tanpa kejelasan tugas hanya karena dianggap “tidak sejalan” dengan syahwat politik sang penguasa.
Dendam yang Tak Kunjung Usai
Di penghujung masa jabatannya, sang Ratu tampaknya tidak ingin meninggalkan warisan keadilan. Alih-alih merangkul, ia justru sibuk memilah siapa yang harus disingkirkan sebelum fajar kabinet baru menyingsing. Dendam politik masa lalu bukan dikubur, melainkan dipupuk kembali.
Ratusan bawahan yang seharusnya menjadi mesin penggerak negeri, kini hanya bisa terdiam. Mereka menjadi saksi bagaimana birokrasi diporak-porandakan demi memastikan tidak ada lawan politik yang tersisa di dalam sistem. Karir mereka adalah ongkos yang harus dibayar demi ambisi dinasti yang tak pernah kenyang.
Senja di Zolim
Matahari mulai terbenam di ufuk barat Negeri Zolim. Di dalam istana, sang Ratu mungkin merasa telah memenangkan peperangan. Ia telah mengamankan orang-orangnya, ia telah menghukum musuh-musuhnya, dan ia telah membiarkan sistem bekerja dalam kekosongan yang terkendali.
Namun, di luar sana, ada luka yang mendalam. Ratusan pegawai yang terabaikan adalah api dalam sekam. Mereka adalah bukti nyata bahwa ketika sebuah negeri dinahkodai oleh dendam dan nepotisme, maka yang pertama kali gugur bukanlah lawan politik, melainkan rasa keadilan itu sendiri.
Negeri Zolim sedang menunggu waktu, apakah mahkota itu akan tetap bersinar, atau justru runtuh bersama puing-puing pengabdian yang ia hancurkan sendiri. **
Cerita hanya fiktif, seandainya ada kesamaan karakter itu kebetulan saja.

Opini Anda