POSOโ Malam di pesisir Danau Poso terasa berbeda dari biasanya. Angin sejuk yang berembus dari riak air jernih danau tektonik purba ini membawa riuh rendah ribuan pasang mata yang memadati Kota Wisata Tentena, Kabupaten Poso. Tepat pada Kamis malam, 15 Oktober 2026, riak air itu seolah ikut menari menyambut dibukanya Festival Danau Poso (FDP) 2026
Mengangkat tema besar “The Power of Culture”, agenda prestisius ke-26 ini berhasil masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata RI. Perhelatan akbar ini dibuka secara resmi oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid. Bagi masyarakat setempat, FDP bukan sekadar pesta pariwisata tahunan, melainkan wujud nyata deklarasi cinta terhadap kekayaan tradisi, seni tradisional, serta kelestarian alam
Pesona Tari Silo Ndano dan Harmoni Multietnis Suku Pamona
Sorot lampu panggung di Anjungan Danau Poso seketika mengubah malam menjadi kanvas warna-warni yang megah. Suasana magis langsung terasa saat Tari Kolosal Silo Ndano mulai dibawakan oleh 175 pelajar dari berbagai sekolah di Tentena. Gerakan ritmis para penari muda, ketukan musik tradisional, serta gemerlap kostum adat yang mereka kenakan menceritakan warisan leluhur Suku Pamona yang hidup berdampingan dengan alam.
Pembukaan malam itu kian semarak melalui kehangatan ritual Molimbuโtradisi makan bersama yang melambangkan kekeluargaan erat masyarakat Poso. Puncak seremonial malam pertama ditutup dengan dentuman kembang api yang menghiasi langit Tentena, diikuti oleh penampilan memukau dari musisi nasional Marcello Tahitoe (Ello), sebelum akhirnya seluruh masyarakat berbaur dalam lingkaran Dero Umum yang sakral dan penuh keakraban.
Kekuatan Budaya Sintuwu Maroso dan Pesan Kelestarian Alam
“Sulawesi Tengah ini adalah daerah multietnis, multiagama, dan bisa menjadi kekuatan besar apabila kita memiliki rasa kasih dan sayang di dalam hati kita,” ujar Gubernur Anwar Hafid dalam pidato pembukaannya yang menyentuh hati. Ia menegaskan bahwa kebudayaan memiliki daya ikat yang luar biasa kuatโsetara dengan kekuatan cintaโyang mampu merekatkan kembali simpul-simpul persaudaraan di bumi Sintuwu Maroso
Selain sebagai panggung pelestarian tradisi, festival yang berlangsung dari 15 hingga 17 Oktober 2026 ini juga membawa misi lingkungan yang konkret. Salah satunya ditandai dengan aksi pelepasan bibit ikan ke Danau Poso oleh para pejabat daerah sebagai simbol komitmen menjaga ekosistem endemik “Permata Biru Khatulistiwa” tersebut.
Napas Baru bagi Ekonomi Kreatif dan UMKM Sulawesi Tengah
Kemeriahan Festival Danau Poso 2026 tidak hanya memanjakan mata dan telinga para pelancong, melainkan juga meniupkan angin segar bagi roda perekonomian Tentena dan sekitarnya. Kawasan panggung utama dipadati oleh puluhan stan UMKM dan industri ekonomi kreatif lokal yang memamerkan produk-produk unggulan daerah.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tengah, Bonny Hardi Putra, yang turut hadir dalam pembukaan, menyampaikan dukungannya terhadap perhelatan ini. Pihaknya menilai FDP merupakan motor penggerak nyata yang mampu mempertemukan potensi pariwisata dengan geliat ekonomi kreatif masyarakat bawah demi mendorong kesejahteraan daerah.
Malam pembukaan FDP 2026 telah usai digelar dengan pengawalan ketat ratusan personel gabungan untuk memastikan kenyamanan para wisatawan. Namun, gema The Power of Culture baru saja dimulai. Selama beberapa hari ke depan, tepi Danau Poso akan terus menjadi saksi bahwa budaya dan alam, jika dijaga dengan cinta, akan menjadi kekuatan yang tak lekang oleh waktu. (Simson Towengke)

Opini Anda