Tradisi Wanita to Bada Tempo Dulu Saat Hamil dan Cara.Mengatasi Kemandulan
𝐎𝐥𝐞𝐡 : 𝐀𝐠𝐚𝐦 𝐏𝐚𝐦𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐬 𝐋𝐮𝐛𝐚𝐡
Mandul atau ‘lalo’ dalam tradisi To Bada tempo dulu adalah sebuah peristiwa yang paling ditakuti oleh wanita To Bada ketika baru saja melakukan prosesi pernikahan. Hal ini tentunya akan membuat sang suami akan merasa tidak memiliki keturunan yang diharapkan kelak dapat mewarisi jiwa harta dan kejayaan sang suami, sehingga ia harus mencari wanita lain yang dapat memenuhi keinginannya. Jika demikian sang wanita harus rela dimadu oleh suaminya. Oleh karena itu tidak heran jika kemandulan (lalo’) sangat ditakuti oleh kaum perempuan To Bada saat itu.
Menurut kepercayaan masyarakat Bada tempo dulu, kemandulan sering dikaitkan dengan kecemburuan roh-roh jahat. Atau bisa juga terjadi bahwa anditu “roh atau jiwa” wanita itu tidak suka (matidi’) terhadap darah dari makhluk hidup, atau karena kandungannya memang terlalu kecil sehingga proses pembuahan sel telur tidak berfungsi dengan baik. Maka untuk mengatasi hal tetsebut, ada beberapa cara yang dilakukan agar kandungan bisa membuahkan sperma, seperti mengkonsumsi buah keladi/tales (daupe, Colocasia) yang dimakan pada saat sudah banyak kecambahnya. Ada juga yang memakan akar kabando, sejenis tebu merah berukuran besar. Biasanya obat-obatan ini dicincang halus dan dicampur dengan air kemudian ditelan dalam sekali teguk. Hal tersebut dilakukan secara berulang-ulang setiap waktu-waktu yang ditentukan sang dukun sampai terasa efek dan manfaatnya bagi sang ibu.
Ada juga yang meletakkan ramuan tersebut di bawah bantal dan sebagiannya lagi digenggamnya. Dan selama ramuan tersebut dalam genggaman, sang ibu tidak boleh membukanya, tetapi harus dipegang dengan kepalan tangan hingga datangnya pagi. Jika hal tersebut dipatuhi oleh sang ibu maka anditu’ (roh dan jiwa) akan melepas ikatannya dan membolehkan sel sperma membuahi indung telur sang ibu yang sedang hamil.
Dalam proses tersebut sang ibu dilarang memakan pisang yang tumbuh kembar/berdempet. Karena hal itu akan menyebabkan bayi akan lahir secara kembar, kecuali faktor genetika.
Sehubungan dengan hal di atas, orang mungkin berpikir bahwa To Bada’ menyukai anak kembar. Namun, bukan hal itu yang jadi alasannya. Kelahiran ganda seperti itu dianggap sebagai penyimpangan dari yang normal. Sebab menurut kepercayaan To Bada, bahwa ketika si kembar terlahir berbeda jenis kelamin, maka biasanya anak laki-laki yang akan segera meninggal terlebih dahulu.
Lahirnya anak kembar atau (tomoropa’) dalam istilah To Bada, bersifat turun-temurun (usukanda). Karena menurut kepercayaan hal tersebut disebabkan karena setelah melakukan hubungan (mokade’) wanita tetap berbaring telentang, sehingga sel sperma (uwai laho’) menjadi terbagi dua (mokira tanga’). Oleh karena itu, hubungan antara persetubuhan dan kelahiran anak menjadi hal yang sangat diperhatikan bagi To Bada.
Dan hal yang paling dipantang bagi sepasang suami istri ketika mengetahui bahwa sang istri mengalami gejala kehamilan adalah, tidak diperbolehkan melakukan hubungan yang terlalu intens. Karena hal tersebut akan menyebakan kemandulan. Sel sperma seharusnya tetap berada di perut bagian bawah (pangu’).
Selama kehamilan suami istri dilarang berbuat ceroboh atau hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Jika hal tersebut dilanggar maka tanuana’, jiwa, dan perlakuan tersebut akan diterima anak saat lahir. Itulah yang kemudian menyebabkan kenapa anak saat lahir dari kandungan menangis ketakutan.
Dan untuk megetahui ciri-ciri apakah wanita tersebut sedang hamil (kala’ea; rombua watana “berbadan dua”; madari watana “berbadan berat”), ada beberapa tanda yang dapat dilihat antara lain:
Pembentukan wajah (marinti-rinti lindo’na); rontoknya alis, perut yang mengecil (teloo’) pada awalnya; pandangan bobrok (masero’ lindo’na); perempuan menjadi malas dan lebih suka mengunyah tebu; dia suka memancing dengan semacam jaring (pehao’); dia suka makan lemon (doko i lemo) dan buah asam lainnya; pokoknya permintaannya yang tak masuk akal suami, namun tetap merindukan suaminya, dst…***
*Jacob Woensdregt dalam Artikelnya, “Zwangerschap en Geboorte bij de To Bada in Miden Celebes” Koloniaal Tijdscrift, 1930 Vol.6 No.S2
Sumber Photo: KITLV, Leiden University,1922
Semoga Manfaat
HISTORIA Tangsel
Padepokan Roemah Boemi Pamoelang
Rabu, 22 November 2023

Opini Anda