Di atas meja, sebuah mesin tik berdentang. Pita tintanya berwarna merah, mencetak huruf demi huruf di atas kertas buram yang kini telah menguning dimakan usia. Dokumen itu sederhana: sebuah daftar isi paket (packing list). Namun, jika dibaca dengan mata batin sejarah, kertas ini bukan sekadar daftar barang, melainkan sebuah “jendela waktu” yang mengungkap siapa sebenarnya Darioes Raoepa (Darius Raupa).
Di bagian bawah kanan, tanda tangan tegasnya tertera: “Dikirim dengan betul, oleh Darioes Raoepa.”
Kemewahan di Tengah Keterbatasan.
Saat Poso dan sebagian besar Sulawesi Tengah di tahun 1954 masih bergulat dengan keterbatasan infrastruktur dan ekonomi pasca-perang serta ketegangan daerah, Darius Raupa berada di Surabaya—sebuah kota pelabuhan kosmopolitan yang denyut nadinya jauh lebih modern.
Daftar barang dalam paket tersebut menjadi bukti tak terbantahkan tentang kapasitas finansial dan akses Darius saat itu. Perhatikan apa yang ia kirimkan untuk sang Ayah:
1 (satu) kacamata dokter: Di era itu, kacamata medis berkualitas adalah barang mewah dan langka, mungkin hanya bisa didapat di optik-optik besar Jawa.
1 (satu) Kimono dingin: Sebuah item sandang yang sangat spesifik dan tersier. Ini menunjukkan selera yang halus dan akses terhadap barang-barang impor atau gaya hidup modern yang mungkin belum terpikirkan oleh kebanyakan orang di Poso saat itu.
1 (satu) tempat rokok: Simbol status sosial pria mapan pada zamannya.
Barang-barang ini berbicara lantang. Darius Raupa di Surabaya bukanlah orang yang kekurangan. Ia memiliki daya beli. Ia berada di pusat peradaban yang menawarkan kenyamanan. Namun, di sinilah letak heroisme sesungguhnya.
Paradoks Sang Pejuang
Jika Darius Raupa mau, ia bisa saja menikmati kenyamanan Surabaya itu sendirian. Ia bisa menumpuk aset pribadi, membeli lebih banyak “kimono dingin” atau barang mewah lainnya. Namun, sejarah mencatat jalan lain yang ia pilih.
Pesan Tersirat untuk Anak “Suparta” dan “Ris”
Lihat kembali daftar paket tersebut. Di bawah barang-barang untuk Ayah dan Ibu, terselip kiriman untuk dua nama anaknya: Suparta dan Ris.
Untuk Suparta: 1 tas sekolah, 1 potlod gambar, Untuk Ris: 1 tas ketjil.
Di tengah kiriman barang gaya hidup untuk orang tua, Darius tidak melupakan esensi terpenting: Pendidikan.
Pemberian “tas sekolah” dan “potlod gambar” (pensil gambar) di tahun 1954 adalah simbolisme yang kuat. Saat itu, alat tulis dan perlengkapan sekolah yang layak adalah barang berharga. Dengan mengirimkan ini, Darius seolah mengirimkan pesan: “Tuntutlah ilmu. Saya siapkan sarananya.”
Ini adalah mikrokosmos dari visi besarnya. Jika untuk Suparta ia kirimkan tas sekolah, maka untuk pemuda-pemuda Sulawesi Tengah lainnya, ia siapkan “rumah” di Jalan Patemon agar mereka bisa bersekolah dengan tenang di Jawa.
Epilog: Tinta Merah yang Tak Pernah Pudar
Kertas daftar paket bertanggal 20 Agustus 1954 itu kini mungkin sudah rapuh. Namun, ia menjadi saksi bisu yang melengkapi kepingan sejarah Darius Raupa.
Ia membuktikan bahwa Darius bukan sekadar birokrat atau aktivis yang bermodalkan semangat kosong. Ia adalah figur yang mapan secara ekonomi di Surabaya, namun memilih hidup dalam “lorong sunyi” pengabdian. Ia menggunakan kemampuannya membeli “kimono” dan “kacamata dokter” untuk membahagiakan keluarga, tetapi menggunakan aset terbesarnya—sebuah rumah—untuk mencetak kader-kader masa depan Poso.
Darius Raupa mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu tentang mengangkat senjata, tetapi juga tentang kemampuan untuk berbagi kemapanan demi mengangkat derajat pendidikan kampung halaman.**
Penulis: Simson Towengke

Opini Anda