Roti Buaya vs Buaya Darat
๐๐ฅ๐๐ก : ๐๐ ๐๐ฆ ๐๐๐ฆ๐ฎ๐ง๐ ๐ค๐๐ฌ ๐๐ฎ๐๐๐ก
Bagi masyarakat Betawi Roti Buaya sudah merupakan sebuah tradisi saat akan melakukan proses lamaran kepada calon mempelai wanita. Jika tidak membawa roti yg satu ini maka akan menimbulkan kesan yg tak baik bagi orang tua calon mempelai wanita. Mengapa demikian?
Menurut budayawan Betawi JJ Rizal, makna roti buaya dalam Betawi dianggap setia. Ia hanya kawin dengan satu pasangan, tak pernah berpindah ke lain bodi atau hati. Karena dianggap hewan suci, maka buaya dimasukkan ke siklus-siklus kehidupan terpenting dalam masyarakat Betawi, seperti saat menikah.
Kalau calon mertua dari pihak laki-laki enggak bawa roti buaya akan diusir, karena itu simbol kesetiaan,โ kata Rizal menerangkan.
Study lain yg mendukung akan kesetian makhluk buaya ini bisa kita dapatkan juga melalui Penelitian yg dilakukan oleh tim ilmuwan dari Laboratorium Ekologi Sungai Savannah Universitas Georgia Amerika Serikat. Paper yang dipublikasikan berjudul โMulti-year multiple paternity and mate fidelity in the American alligator, Alligator mississippiensisโ yang terbit di jurnal terkemuka Molecular Ecology (Q1) pada tahun 2009, memuat dng rinci prilaku hewan predator yg setia terhadap lawan jenisnya ini.
Tapi pegimana mulanya Roti Buaya bs dijadikan symbol kesetiaan saat proses lamaran seorang pria Betawi?
Tidak ada yang mengetahui kapan pastinya roti buaya mulai hadir di acara pernikahan adat Betawi. Namun, dilansir dari dailyasia.com, masyarakat Betawi percaya pada awalnya Roti Buaya ini digunakan hanya untuk menyaingi bangsa Eropa yang kerap memberikan bunga dalam menunjukkan cinta kepada lawan jenis. Lama kelaman kebiasaan Roti Buaya sebagai pernyataan rasa cinta ini menjadi sebuah tradisi seserahan masyarakat Betawi yg berkepanjangan hingga saat ini.
Namun sebenarnya pada bagian ini sy enggan berkomentar. Mengapa demikian? Yah, karna bagi sy yg meneliti kebudayaan masyarakat Betawi Pinggiran sejak tahun 1994 silam, melihat bahwa telah terjadi pergesekan nilai2 budaya masyarakat Betawi Perkotaan ke masyarakat Betawi Pinggiran.
Bagi masyarakat Betawi yg mendiami wilayah Tangerang Selatan khususnya Pamulang, pada zaman dahulu tidak mengenal istilah Roti Buaya. Yang mereka tau adalah Ikan Gabus. Ikan Gabus dijadikan salah satu syarat dalam proses hantaran/seserahan calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita. Tidak diketahui pasti kenapa Ikan Gabus menjadi symbol lamaran seorang pria. Tapi menurut tokoh masyarakat Pamulang Alm.H Martawie, ikan gabus dipilih sbg symbol lamaran dikarenakan ikan ini memiliki karakter yg tenang, gk grasak grusuk dan tidak maruk. Tentu prilaku ini menjadi impian bagi calon mempelai wanita. Memiliki pasangan yg tenang dan tidak memakan yg bukan haknya adalah perlambang lelaki yg baik. Meski ia terlihat malas, sebenarnya hal tersebut hanya sebuah persepsi manusianya aja yg melihat ikan tersebut gak banyak gerak. Padahal itu adalah sebuah proses pencernaan dlm metabolisme tubuhnya agar tumbuh menjadi besar dan bermanfaat bagi manusia.
Hmmmm…bisa jadi demikian๐ค
Tapi terlepas dari semua perkara tersebut, Roti Buaya sdh menjadi sebuah tradisi masyarakat Betawi perkotaan yg menyebar ke pinggiran ibu kota sampai ke Tangerang Selatan dan sekitarnya dan diwariskan secara regenerasi ke masyarakat Betawi moderen hingga membentuk sebuah budaya yg tak lekang oleh waktu..
Lantas, bagaimana dengan *BUAYA DARAT*?
Silahkan tambahkan komentar anda di kolom komentar…***
Wallahu a’lam bishawab
Semoga Manfaat
*HISTORIA Tangsel*
*Padepokan Roemah Boemi Pamoelang*
O8 Juni 2023

Opini Anda