Dibalik riuh tepuk tangan dan gema nada yang menghidupkan malam di Bumi Sintuwu Maroso, musisi legendaris Iwan Fals menitipkan sebuah “warisan” hijau yang sunyi: satu pohon Ebony (Diospyros celebica) yang ia tanam sendiri dengan jemarinya di kawasan Lapangan Maroso, Poso.
Bagi sang pelantun Pohon untuk Kehidupan, kedatangannya ke Poso bukan sekadar menuntaskan rindu para penggemar lewat panggung musik. Aksi menanam bibit kayu hitam khas Sulawesi Tengah itu adalah pesan mendalam tentang kepeduliannya terhadap kelestarian alam yang kian terancam.


Kini, jejak hijau yang difasilitasi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Poso tersebut menunjukkan daya tahannya.
Berdasarkan pantauan media pada Jumat (21/8/2026), pohon Ebony yang ditandai dengan label khusus di belakang area air mancur Lapangan Maroso itu berdiri tegak.
Daunnya hijau rimbun dan tumbuh subur, seolah tidak gentar menghadapi terik dan terpaan musim kemarau panjang yang sempat melanda wilayah Poso.
Kehadiran sosok bernama asli Virgiawan Listianto ini menjadi cermin sekaligus sentilan halus bagi masyarakat setempat. Poso, yang dahulu mashur sebagai salah satu rumah utama bagi kayu hitam bernilai tinggi di Sulawesi Tengah, kini justru harus menyaksikan kelangkaan flora endemiknya sendiri akibat eksploitasi berlebih di masa lalu.
Iwan Fals tidak hanya berbicara lewat ketukan gitar dan lirik lagu. Baik saat memegang sekop di tanah maupun di atas panggung di hadapan ribuan pasang mata, ia konsisten menyuarakan pentingnya menjaga bumi. Secara khusus, ia mengetuk hati generasi muda Poso dan komunitas Oi untuk tidak acuh terhadap lingkungan sekitar.


“Saya kemarin menanam satu pohon Ebony, tepatnya di belakang panggung. Jaga dan rawat, jangan sampai mati. Semoga kalau balik lagi pohonnya sudah besar,” kata Iwan Fals, mengulang pesan yang ia sampaikan pada Jumat, 22 Agustus 2022 lalu.
Seiring berjalannya waktu, sebatang pohon Ebony yang terus mengepakkan daun-daun barunya di pusat Kota Poso itu kini bukan lagi sekadar tanaman penyejuk. Ia telah menjelma menjadi simbol harapan sebuah pengingat abadi agar masyarakat terus merawat tanah kelahirannya, memastikan flora khas Sulawesi Tengah tidak hanya menjadi cerita di buku-buku sejarah. **
Simson Towengke

Opini Anda