MITOLOGI CERITA RAKYAT To TOJO Part.2 (Selesai) Laolita i Wali mPangipi (Kisah Wali mPangipi)
𝐎𝐥𝐞𝐡 : 𝐀𝐠𝐚𝐦 𝐏𝐚𝐦𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐬 𝐋𝐮𝐛𝐚𝐡
Setelah tiga hari, Wali mPangipi berada di pulau tempat tinggal Kapita Boneaka, ia kembali melanjutkan perjalanannya dengan meninggalkan janda Kapita Boneaka yang baru saja dinikahinya. Ia berencana untuk tidur selama tujuh bulan di atas kapal. Namun baru sekitar enam bulan ia tertidur tiba-tiba kapalnya diserang oleh Kapita Malela. Dalam pertarungan yang sengit tersebut Wali mPangipi berhasil mengalahkan Kapita Malela sebagaimana ia mengalahkan Kapita Boneaka. Desanya pun berhasil ia duduki setelah mengalahkan penduduk kampung lainnya. Dan atas anjuran Wali mPangipi anak asuh sulungnya menikah dengan janda Kapita Malela. Setelah itu kembali mereka melanjutkan perjalanan.
Dan setelah mereka berada di laut lepas, kapal mereka beberapa kali kembali diserang oleh beberapa pemimpin kapal seperti: Sandopo Dada, Molemba Kayoro, Mobaju Rante, Molemba Labu, dan Molemba Apu. Dan semua janda-janda dari pimpinan tersebut dinikahi oleh anak-anak asuh Wali mPangipi, kecuali Molemba Apu. Setelah Molemba Apu dikalahkan, Wali mPangipi kembali berlayar tanpa hambatan untuk kembali ke kampung halaman orang tuanya.
Upacara penyambutan Wali mPangipi bersama anak-anak asuhnya pun disambut meriah oleh kedua orang tuanya dan warga kampung. Pesta rakyat dilakukan selama tujuh hari dengan istilah (podo’a salama), atau doa keselamatan. Dan setelah upacara tasyakuran tersebut selesai, kapal lautnya diperintakan merapat ke darat dan turunlah gadis-gadis cantik dari dalam kapal tersebut. Gadis-gadis itu adalah penduduk pulau-pulau yang pernah disinggahi Wali mPangipi bersama anak-anak asuhnya. Selama dalam pelayaran gadis-gadis tersebut ditempatkan dalam satu dek dan tak pernah diganggu oleh Wali mPangipi dan anak-anaknya kecuali hanya untuk memberikan makan dan minum. Mereka semuanya turun dari kapal tanpa cedera sedikit pun. Setelah itu, Wali mPangipi dan 40 anak asuhnya disunat.
Setelah acara sunatan selesai, tiba-tiba sebuah peristiwa terjadi. Wali mPangipi diludahi oleh To Karo Uja yang tinggal di atas langit. Wali mPangipi menafsirkan ini sebagai pernyataan bahwa To Karo Uja mengajak dirinya untuk berperang. Segera Wali mPangipi menerima tantangan tersebut, lalu berduel lah mereka di langit dan berhasil dimenangkan oleh Wali mPangipi. To Karo Uja dan pasukannya semuanya mati. Wali mPangipi lalu turun ke bumi.
Setelah kemenangannya Wali mPangipi mengajak keluarganya untuk pergi mengunjungi istri yang ditinggalkannya, yaitu janda Kapita Boneaka, dan segera mengatur perayaan pernikahan resmi. Setelah itu Wali mPangipi mengizinkan 6 anak angkatnya untuk menikahi janda-janda yang tersisa dan mempersilakan anak-anaknya melamar ke desa istrinya masing-masing. Mereka semua bepergian ke sana dengan menggunanakan Kapal Tambaga miliknya, kecuali si Bungsu, yang ingin melakukan perjalanan melalui udara.
Setelah si bungsu melompat ke atas, tiba-tiba ia menemukan dirinya sudah berada di tengah-tengah angin, sehingga dia tidak bisa naik, turun atau menyamping. Ia hanya berpasrah pada takdir dengan posisi kaki menggantung di udara. Si bungsu berpikir bahwa ia pasti akan mati kelaparan menggantung di udara.
Di sisi lain Wali mPangipi yang tengah tidur bermimpi bertemu dengan roh kakeknya yang telah mati. Dalam mimpinya kakeknya memberitahukan jika si bungsu sedang tergantung di langit dan dalam keadaan sekarat. Wali mPangipi terbangun lalu menyuruh putra sulungnya untuk melompat ke udara, dan meraih kaki si bungsu ke bawah sehingga ia selamat dan dapat kembali ke rumah.
Setelah itu, Wali mPangipi diserang sekali lagi, kali ini oleh tujuh roh jahat bernama Kombengi yang menyedot nafas kehidupan manusia. Semua penduduk desa kehilangan nyawa mereka kecuali Wali mPangipi. Rohnya tidak bisa dikeluarkan dari tubuhnya. Akhirnya Wali mPangipi berhasil membunuh Kombengi dan mampu mengembalikan nyawa-nyawa penduduk desa kepada orang tuanya.
Karena merasa dirinya telah dapat mengalahkan semua musuh-musuhnya, timbullah rasa takabur dalam diri Wali mPangipi. Sekarang ia ingin melawan Ala ta’ala, satu-satunya kekuatan yang masih lebih besar darinya. Setelah berhasil masuk ke istananya Ala ta’ala dengan membunuh Angga mBaayu, roh yang menjaga pintu masuk ke Dunia Bawah, ia mencapai rumah Ala ta’ala dan menantangnya untuk berduel. Ala ta’ala dengan sikap tenang penuh biaksana menolak tantangan dari Wali mPangipi. Wali mPangipi pun merasa kagum dengan sikap Ala Ta’ala yang penuh kewibawaan dan kesejukan. Akhirnya Wali mPangipi meminta padanya untuk menjadi gurunya. Ala Ta’ala pun mengajari dirinya dengan Aijian Dua Kalimah Saadah yang akan membuat dirinya tidak akan terkalahkan, asalkan diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari dengan tekun dan bijaksana. Setelah menerima ilmu tersebut akhirnya Wali mPangipi kembali turun ke bumi untuk mengajarkan ilmu yang diperoleh dari Ala Ta’ala kepada penduduk desa…***
T A M A T
*Note: Kisah ini di angkat dari tulisan-tulisan N.Adriani dengan judul asli: Dongeng Orang-Orang Beragam Islam di Pesisir Teluk Tomini*
Diterjemahkan oleh Albert Schrauwers Awalnya diterbitkan dalam bahasa Belanda di: N. Adriani, “Laolita i Wali mPangipi. Het Verhaal van Wali mPangipi”, Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde van Nederlandsch-Indié Vol.54, (1/2),1902 pp.203-217
Semoga Manfaat.
Sumber Photo: Ilustrasi Google
HISTORIA Tangsel
Padepokan Roemah Boemi Pamoelang
Senin, 29 November 2023

Opini Anda