MITOLOGI CERITA RAKYAT TO TOJO, Part.1 Laolita i Wali mPangipi (Kisah Wali mPangipi)
𝐎𝐥𝐞𝐡 : 𝐀𝐠𝐚𝐦 𝐏𝐚𝐦𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐬 𝐋𝐮𝐛𝐚𝐡
Alkisah di wilayah Tojo pada jaman dahulu kala, hiduplah sepasang suami isteri bangsawan. Sang suami bernama Ta Datu dan sang isteri bernama Indo i Datu. Setelah sekian lama belum memiliki momongan, akhirnya tibalah saatnya Indo i Datu hamil dan melahirkan anak laki-laki. Anak tersebut lalu diberi nama, Wali mPangipi yang berarti ‘mimpi yang terwujud’.
Laiknya anak semata wayang, sedari kecil ia dirawat penuh kasih sayang oleh kedua orang tuanya. Setiap hari ia dimandikan dengan air yang diberi mantra-mantra khusus sehingga ia tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.
Setelah Wali mPangipi tumbuh menjadi anak remaja, sudah terlihat tanda-tanda kesaktiannya dalam prilakunya sehari-hari yang di luar nalar manusia pada umumnya.
Suatu ketika ia diajak mandi oleh budak dari orang tuanya di sungai. Namun sebuah peristiwa kemudian terjadi. Sepotong kayu pelepah yang menjadi pelampung Wali mPangipi tiba-tiba terlepas dari tangannya dan hanyut terbawa arus sungai.
Tiga hari setelah peristiwa tersebut Wali mPangipi memanggil delapan orang pembantunya. Kedelapan orang pembantu itu diberi tugas untuk menjemput lelaki Tua yang berada di kebun pisang miliknya. Hal itu dikarenakan Lelaki Tua tersebut setiap pagi dan sore selalu mencuri pisang-pisang milik keluarga Wali mPangipi lalu memakannya dengan sangat rakus, sehingga membuat keluarga Wali mPangipi tidak sempat menikmati hasil panen pisang miliknya.
Di waktu yang bersamaan Pak Tua berencana hendak pergi memancing di laut. Akan tetapi ia kembali ke rumahnya dengan ketakutan yang sangat luar biasa. Hal itu dikarenakan ia melihat sebuah kapal besar yang belum perna dia lihat sebelumnya menuju ke arahnya. Dan ternyata kapal besar yang dilihat Pak Tua tersebut adalah potongan kayu Wali mPangipi yang terlepas dari tangannya saat mandi di sungai beberapa hari yang lalu.
Pak Tua lalu menceritakan kejadian yang dialaminya kepada warga kampung, namun tak ada satu pun orang yang percaya dengan cerita Pak Tua. Keesokan harinya Pak Tua kembali lagi ke laut hendak memancing. Sekali lagi dia mengalami kejadian yang sama. Sebuah kapal besar terlihat menghampirinya dan ia kembali berlari dan mengabarkan ke warga kampung. Tetap saja ceritanya dianggap melantur oleh orang-orang. Setelah hari ke tiga Pak Tua mengalaminya barulah kemudian orang-orang mempercayainya karena mereka menyaksikan dengan sendirinya telah ada sebuah kapal berlabuh di pinggir pantai.
Dalam kehebohan tersebut datanglah Wali mPangipi dan mengatakan bahwa kapal ini adalah miliknya dan ia akan melakukan pelayaran dengan kapal tersebut.
Dan untuk mempersiapkan pelayarannya, ibunya menyediakan 70 karung beras untuknya sebagai bekal, dan ayahnya menyiapkan pengawal dalam perjalanannya. Akan tetapi Wali mPangipi menolak tawaran ayahnya. Ia hanya meminta disediakan 40 orang bayi, dan tertua harus berusia tujuh hari, karena menurutnya orang dewasa tidak akan mematuhi perintahnya di perjalannan nanti.
Kemudian Wali mPangipi mengambil batang pohon kelapa besar dibawa ke kapal untuk dijadikan ayunan 40 anak-anak bayi. Dia juga meminta ibunya untuk menyediakan ASI dan dimasukkan ke dalam tong besar yang terbuat dari tanah, agar susu tetap awet bertahun-tahun dan ia dapat mememberi minum bayi-bayi tersebut dalam perjalannya.
Maka berlayarlah Wali mPangipi bersama 40 bayi-bayi dengan kapal yang diberi nama, Lapi Tambaga, (Kulit Tembaga). Namun setelah sekian lama berlayar kapal belum juga bertolak jauh, kapal hanya berjalan kemana angin dan ombak membawanya. Hal itu disebabkan tak ada yang menjadi juru kemudi kapal. Sementara Wali mPangipi hanya disibukan merawat bayi-bayi yang dibawahnya, memberi susu setiap harinya dan membersihkan badannya secara bergantian.
Setelah memasuki tahun ke tujuh satu ayunan bayi terjatuh. Itu pertanda anak tertua telah keluar dari ayunan dan dapat mengurus dirinya sendiri. Setelah itu secara bertahap, satu per satu ayunan lainnya menyusul seiring dengan batang kelapa yang menjadi gantungan ayunan bayi terlempar ke laut.
Sekarang setelah anak-anak dapat makan makanan padat, mulailah mereka belajar memasaknya sendiri. Dan setelah mereka tumbuh dewasa, yang sulung bertanggung jawab sebagai juru kemudi kapal. Yang bungsu ditunjuk sebagai navigasinya. Dan sejak saat itu kapal mulai bergerak maju. Wali mPangipi kemudian pamit pada anak-anaknya untuk tidur dan mengatakan bangunkan dirinya jika sudah sebulan ia tertidur.
Setelah sebulan mereka melakukan pelayaran, akhirnya mereka melihat beberapa pulau di depannya. Mereka lalu membangunkan Wali mPangipi. Pulau pertama yang ditemuinya adalah Pulau Besi. Di pulau ini banyak terdapat senapan dan parang. Lalu Wali mPangipi memerintahkan anak-anaknya unyuk mengangkut semua senapan dan parang-parang tersebut ke dalam kapal. Setelah semua barang telah terangkut, pulau tersebut pun menghilang di bawah laut. Wali mPangipi lalu memanggil angin untuk menggerakkan kapalnya. Setelah kapal berlayar Wali mPangipi segera memasak makanan untuknya, dan setelah itu dia pergi kembali tidur selama dua bulan.
Beberapa waktu kemudian kapal terjebak di Pulau Tembaga, yang hanya isinya terdiri dari koin-koin. Koin-koin tersebut dikumpulkan, pulau pun menghilang, dan mereka kembali berlayar. Setelah itu kapal tersangkut lagi di Pulau Kuningan, yang terdiri dari segala macam barang yang terbuat dari tembaga kuning, seperti kotak pinang, ketel dan piring tembaga. Mereka mengumpulkan lagi dan kembali berlayar. Lalu kemudian mereka mendarat lagi di Pulau Timah, tempat peluru, lalu Pulau Perak, dan terakhir Pulau Berlian.
Setelah semua pulau berhasil mereka kumpulkan barang-barang berharga tersebut, pulau-pulau itu pun menghilang di telan laut. Dan Wali mPangipi mengatakan pada anak-anaknya bahwa dia akan tidur sebulan lebih lama dari sebelumnya. Namun sudah tujuh bulan lamanya dari penemuan Pulau Berlian tersebut Wali mPangipi tak bisa tidur. Setiap kali ia akan tidur selalu terbangun. Sampai kemudian kapalnya terdampar di Pulau Emas. Segera Wali mPangipi memerintahkan anak-anaknya untuk menyemprot kapal mereka dan seisinya dengan air emas dan semua tong dan wajan yang sudah menjadi emas tersebut segera dibuang ke laut.
Dan ketika Wali mPangipi meninggalkan kapal dan pergi ke pulau untuk buang air, tiba-tiba dia menjadi sadar bahwa sekarang dia sedang berdiri di atas Pajowi besar. *(penulis tak paham arti Pojawi di sini).
Pojawi tersebut menyarankannya untuk segera berhenti mengumpulkan barang-barang, tetapi hanya mengambil dua barang bulat dari atas kepalanya, lalu sembunyikan ini di bawah lantai tempat tidurnya, dan lihat lagi setelah tiga hari kemudian.
Setelah tiga hari, ternyata seluruh kapal telah dipenuhi dengan batu-batu berharga. Dan Pulau Emas pun menghilang dan kapal pun kembali berlayar.
Namun setelah melakukan pelayaran tiba-tiba di tengah laut kapal mereka diserang oleh bajak laut yang dipimpin oleh Kapita Boneaka yang terkena akan kesaktiannya. Dalam pertarungan yang sengit antara dua orang sakti tersebut, Wali mPangipi berhasil membunuh Kapita Boneaka dan mengusir seluruh anak buahnya. Kapal Tambaga milik Wali mPangipi kembali melakukan pelayaran.
Namun beberapa hari kemudian mereka bertemu lagi dengan 150 kapal perompak yang hendak membajak kapal mereka. Kembali semua kapal-kapal perompak tersebut dapat dikalahkan oleh Wali mPangipi.
Sekarang mereka tiba di sebuah pulau tempat Kapita Boneaka tinggal. Wali mPangipi dan anak-anaknya segera turun dari kapal dan memasuki pulau yang dipagari benteng tersebut. Wali mPangipi memberi kabar kepada isteri Kapita Boneaka bahwa suaminya telah tewas dalam pertarungan dengannya dilaut dan siap mempertanggung-jawabkan, sekaligus menjadikan isteri Kapita Boneaka sebagai istrinya…***
(Bersambung…)
Semoga Manfaat.
Sumber Photo: Ilustrasi Google HISTORIA Tangsel, Padepokan Roemah Boemi Pamoelang
Senin, 27 November 2023

Opini Anda