MITOLOGI CERITA RAKYAT TO BADA Part.2
“Legenda Asal-Muasal Padi dan Pohon Beringin (Waringin)”
𝐎𝐥𝐞𝐡 : 𝐀𝐠𝐚𝐦 𝐏𝐚𝐦𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐬 𝐋𝐮𝐛𝐚𝐡
Dikisahkan pada jaman dahulu kala di Tampo Bada’ belum terdapat tumbuhan padi. Lalu kemudian datanglah sepasang pria dan wanita dari kayangan di daerah tersebut. Karena tidak menemukan makanan pokoknya, mereka mengisi perutnya dengan tumbuhan yang ada di sekitarnya seperti, singkong, uwi ebe, dan katedo. Setelah tinggal beberapa waktu di daerah tersebut, akhirnya sang lelaki yang bernama Ala Tala berkata kepada sang perempuan yang bernama Uali :
“Saya akan kembali ke kayangan, dan kamu tetap tinggal di sini menjaga tanah ini. Jangan kuatir, tanah ini akan kujaga kesuburannya. Sebentar lagi tempat ini akan ramai berdatangan orang-orang dari selatan. Dan kamu akan kuberi rumah di pohon beringin ini agar tetap teduh meski di musim kemarau panjang. Dan ingat, jangan berbicara dengan manusia tentang makanan kami, karena saya telah menetapkan makanan lain untuk mereka. Dan jika kamu membicarakannya, maka hukumanmu akan sangat berat.”
Setelah berucap demikian, Ala Tala langsung naik ke kayangan. Sementara Uali langsung mendiami pohon beringin.
Tidak lama kemudian apa yang dikatakan Ala Tala terbukti. Banyak orang-orang dari selatan mulai berdatangan di Tampo Bada. Semakin hari semakin bertambah jumlahnya. Namun mereka sangat kesulitan untuk mendapatkan bahan makanan. Sehingga banyak diantara mereka hanya mengkonsumsi daun-daun serta buah-buahan liar. Melihat kondisi seperti itu Uali pun tak tega. Ia melanggar apa yang yang telah diamanatkan Ala Tala kepadanya.
Disuatu kesempatan saat Uali melihat ada empat orang warga yang tengah memakan buah-buahan yang buruk, segera ia menemuinya dan berkata:
“Apakah kalian ingin mencoba makananku?”
Tanpa ragu-ragu ke empat orang itu menjawab, “Jika Anda mengizinkan kami, tentu dengan senang hati kami akan mencobanya”
Lalu Uali berkata: “Kalau begitu siapkan sebidang tanah, tidak perlu terlalu besar. Bersihkan lahannya, dan jika sudah selesai datang dan beri tahu saya di pohon beringin itu, sebab di situlah rumahku.
Orang-orang pun segera melakukan apa yang diperintahkan Uali. Dan setelah selesai, mereka mendatangi pohon beringin memberi tahu Uali. Kemudian Uali menepati janjinya lalu memberi mereka segenggam jagung, dan berkata, “Ketika benih-benih ini tumbuh, jangan kalian menyentuhnya. Nanti kalian akan melihat apa yang akan terjadi setelah benih itu menjadi pohon dan berbuah.”
Setelah mendengar perkataan dari Uali, orang-orang itu pun segera bergegas ke rumahnya lalu menanam semua benih-benih yang diberikan Uali kepada mereka.
Tidak butuh waktu lama bagi tanaman itu untuk berbuah. Dan setelah melihat buahnya mereka pun ketakutan. Mulanya mereka takut untuk memakannya. Namun setelah Uali meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja, akhirnya mereka mulai berani mencobanya. Ada yang memasaknya dan ada pula yang mencoba memanggangnya atas perintah Uali. Dan ketika mereka mencicipi jagung, mereka sangat terkejut akan kenikmatannya. Lalu Uali bertanya kepada mereka:
“Bagaimana rasanya?” Mereka menjawab, “Jauh lebih enak dari makanan yang biasa kami makan.”
Uali kembali berucap, “Sekarang kalian boleh menanamnya semua hasil panen kalian itu ke tanah-tanah kalian untuk kalian jadikan sebagai makanan pokok kalian.”
Selang beberapa hari kemudian Uali datang lagi kepada mereka dan berkata:
“Sekarang aku membawakan kalian benih makanan yang lebih enak lagi. Kalian bersihkan tanah kalian dan aku akan berikan kepada kalian benih gabah.”
Mereka segera mengerjakankan apa yang diperintahkan Uali. Kemudian Uali memberi mereka segenggam gabah dan berkata:
“Tanam gabah ini, dan ketika muncul tunasnya jangan sentuh sampai ia berbuah. Mereka pun melakukan apa yang diperintahkan Uali. Mereka tidak menyentuh padi, dan mereka tidak yakin apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan ketika padi sudah memasuki masa panen, Uali kembali dan berkata,
“Petik padi-padi itu, buang kulitnya, masak dan makanlah, dan katakan apakah kamu suka makanan baru itu padaku.”
Mereka mengambil buahnya, mengupas kulitnya, merebusnya, lalu memakannya. Dan ternyata mereka sangat menyukai. Mereka mengatakan pada Uali bahwa inilah makanan yany terenak yang perna mereka rasakan. Dan Uali kembali memerintakan kepada mereka untuk segera membuka sawah yang luas untuk ditanami padi.
Tidak lama kemudian Ala Tala kembali ke bumi dan melihat orang-orang telah menanam padi dan jagung di tanah mereka. Ala Tala lalu marah kepada Uali dan berkata:
“Apa yang kamu lakukan Uali? Kamu tidak menjaga apa yang aku amanatkan kepadamu. Dan karena kamu telah mengajari manusia untuk memakan apa yang aku larang, maka di masa depan tempat tinggalmu akan ditebang oleh orang-orang untuk mereka jadikan sawah dan ladang mereka.”
Setelah berucap demikian Ala Tala kembali naik ke kayangan
Kemudian Uali berkata kepada orang-orang:
“Sekarang aku telah memberi kalian makanan, kasihanilah aku juga. Jangan menanami kebun yang ada pohon beringin, apalagi sampai menebangnya, karena itu adalah tempat tinggalku.”
Sejak itu, orang-orang tidak berani menebang pohon beringin sampai sekarang, karena diyakini sebagai tempat tinggal Uali. Dan jika mereka melakukannya, mereka pasti akan mengalami sakit…***
*Note:
Ala Tala dan Buriro’ seringkali diangap identik oleh To Bada. Namun, Ala Tala lebih spesifik pada sebuah nama yang diadopsi untuk penyebutan Dewa Pencipta To Bada, Topohia Karawe, Topoteru, dan Penentu Nasib, Topebagi.
Sementara Buriro, adalah semacam Dewa Matahari. Karena dalam legenda kuno To Bada ia memiliki kuasa untuk kesuburan tanah dan penentu cuaca serta iklim wilayah. Oleh karena itu Buriro selalu dikaitkan dengan beras dan kesuburan.
*Ada juga legenda To Bada yang mengisahkan asal muasa padi. Seperti kedatangan Ala Ala dari kayangan ke bumi dan memberi mereka gabah, agar mereka memiliki sesuatu untuk ditanam.
Dan sebagai wujud kasih sayangnya ke penduduk To Bada, Ala Tala mengirim salah satu pelayannya untuk membawa gabah ke bumi sambil berkata:
“Pergi dan bawalah gabah ini ke bumi, tetapi agar itu berhasil, pertama-tama harus dilumuri dengan darah ayam sebelum ditanam”.
Itulah sebabnya sampai hari ini, sebelum padi ditanam, dan juga sebelum padi dibawa ke lumbung, terlebih dahulu dilumuri darah ayam…***
T A M A T
Sumber Poto: ilustrasi google.
Semoga Manfaat
HISTORIA Tangsel
Padepokan Roemah Boemi Pamoelang, Jumat, 24 November 2023

Opini Anda