MITOLOGI CERITA RAKYAT TO BADA Part.1
“Legenda Asal-Muasal Padi dan Perjumpaan Kakau Dengan Buriro”
𝐎𝐥𝐞𝐡 : 𝐀𝐠𝐚𝐦 𝐏𝐚𝐦𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐬 𝐋𝐮𝐛𝐚𝐡
Dahulu kala ada seorang pria dari Gintu, bernama Kakau yang pergi mencari pohon aren di Lengkeka. Kakau adalah budak dari salah seorang bangsawan dari, Gintu. Profesinya adalah penyadap tuak. Saat itu Lengkeka adalah sebuah kawasan yang belum berpenghuni. Sehingga banyak pohon-pohon aren tumbuh liar dan subur di kawasan tersebut. Hal ini memungkinkan Kakau dapat menyadap tuak dengan sebanyak mungkin dari pohon yang subur. Maka tak heran jika kualitas tuak yang disadapnya memiliki cita rasa yang sangat disukai oleh majikannya.
Pada suatu ketika saat ia tengah asyik menyadap tuak dari pohon aren, tiba-tiba muncul seorang pria tak dikenal dihadapannya. Pria tersebut mengenakan pakaian putih dengan dibalut ikat pinggang berwarna kuning. Alangkah terkejutnya Kakau dengan kehadiran sosok yang asing dimatanya tersebut.
Dengan penuh keramah-tamahan pria asing tersebut memperkenalkan dirinya dengan nama, Buriro. Ia baru saja turun dari kayangan dengan maksud bertemu dengan Kakau sekaligus ingin menjalin persahabatan dengannya. *(Buriro dalam mitologi To Bada adalah Dewa Kesuburan).
Setelah berkenalan cukup lama akhirnya Buriro bertanya:
“Apa yang menjadi makanan pokokmu sehari-hari wahai, Kakau?”
Kakau lalu menjawab:
“Apa yang harus saya makan? Hanya ini ini yang menjadi makanan pokok saya sehari-hari.” sambil menunjukan singkong, labu, dan talas yang ada dalam kantong perbekalannya.
Buriro pun merasa iba melihatnya lalu berucap:
“Jika demikian, aku ingin mencoba makananmu. Dapatkah kau memasaknya besok hari untukku? Nanti aku juga akan memasak makananku untuk kau coba agar kita bisa saling mencoba.”
Setelah keesokan harinya keduanya saling memasak makanan pokoknya. Kakau memasak singkong, labu dan talas. Sementara Buriro hanya memasak nasi semata. Setelah nasi telah masak Buroru menyuguhkan kepada Kakau. Sebaliknya Kakau juga demikian. Setelah singkong, labu dan talas telah matang, Kakau mempersilahkan Buriro untuk mencicipinya. Keduanya saling mencicipi hasil masakannya.
Mulanya Kakau menyuguhkan labu yang dicampur dengan tuak kepada Buriro. Buriro mencicipinya dengan lahap. Namun setelah singkong dicampurinya dengan tuak, Buriro merasa kurang enak, karena menurutnya terasa pahit.
Tibalah saatnya Kakau mencicipi makanan yang disuguhkan Buriro. Alangkah terkesannya Kakau saat mengunyah nasi yang terasa lembut di mulutnya itu. Rasanya pun begitu enak dan mengenyangkan. Baginya seumur-umur belum perna ia merasakan kenikmatan makanan dari kayangan yang bernama nasi ini.
Dan setelah keduanya usai saling mencicipi makannanya, Buriro berkata:
“Menurutmu makanan siapakah yang paling enak wahai Kakau?”
Kakau lalu menjawab, “Tentu saja milikmu”. Buriro’ berkata lagi, “Jika kamu benar-benar menyukainya, bersihkanlah pohon dan rumput-rumput liar di sekitar gubukmu agar aku dapat membawakan kamu gabah, jagung, dan air mata Ayu untuk kau tanam di sana.” *(Air mata Ayu kemungkinan maksudnya adalah hujan)
Seusai Buriro berucap demikian, segeralah Kakau menuju gubuknya untuk membersihkan tanah di sekitar gubuknya lalu membakar pohon-pohon yang ditebangnya. Tidak lama kemudian Buriro datang membawa benih gabah, jagung, dan air mata Ayub, lalu ia kembali ke kayangan. Kakau segera menanamnya benih-benih tersebut dengan penuh semangat. Setiap harinya ia rawat dengan baik dan mengawasinya dari gangguan binatang liar.
Setelah sekian lama ia merawatnya akhirnya sampailah ia pada masa panen. Bukan main rasa bahagianya Kakau setelah ia mengetahui benih-benih pemberian Buriro tersebut menghasilkan buah yang cukup banyak. Segera ia membawanya ke majikannya di Gintu. Melihat apa yang diberikan Kakau padanya sangatlah enak, segera bangsawan tersebut memerin-
tahkan agar tanaman ini ditanam di seluruh Tampo Bada. Walhasil tanah dan lembah-lembah yang tadinya tidak terawat, mulailah ditata sedemikian rupa. Dan masyarakat yang enggan menata tanahnya menjadi sawah di perintahkan untuk menjauh dari persawahan. Mereka diperbolehkan menanam padi di ladang asalkan jangan berdampingan dengan sawah. Masyarakat juga dihimbau untuk tidak menaruh padi sawah dan padi kering dalam satu lumbung. Apabila ada yang melanggar maka akan menyebabkan pemiliknya mengalami kematian…***
(Bersambung…)
Sumber Poto: ilustrasi google
Semoga Manfaat.
HISTORIA Tangsel, Padepokan Roemah Boemi Pamoelang
Kamis, 23 November 2023

Opini Anda