Nama Pulau Pasoso mungkin lebih akrab di telinga saat berbicara tentang penangkaran penyu di Kabupaten Donggala. Namun, jika Anda melayangkan pandang sedikit lebih jauh ke perairan Kecamatan Sojol, tepat di depan Desa Pangalaseang, sebuah noktah hijau berpagar pasir putih berkilau tampak menyembul di cakrawala Selat Makassar. Masyarakat setempat menyebutnya Pulau Maputi—sebuah nama yang dalam bahasa Dampal berarti “yang tampak putih dari kejauhan”.
Maputi bukan sekadar nama. Sejauh mata memandang dari perahu motor yang bergoyang pelan membelah ombak, pulau seluas 625 hektare ini memang menyajikan gradasi warna yang magis. Dari putih bersihnya pasir pantai, hijau toska air dangkal, hingga biru pekat laut dalam yang menyimpan misteri alam bawah laut Nusantara.
Rumah Bagi Burung Punteang dan Sang Penjelajah Samudra
Pulau ini juga karib disapa Pulau Punteang oleh warga lokal. Nama itu merujuk pada sejenis burung berbulu putih bersih mirip merpati yang menjadikan rimbunnya vegetasi pulau ini sebagai rumah utama mereka. Saat matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, kawanan burung Punteang kerap terlihat terbang berputar di atas kanopi hijau pulau, menciptakan harmoni alam yang menenangkan hati siapapun yang memandangnya.
Namun, pesona Maputi tidak hanya berhenti di udara. Di balik tenangnya deburan ombak, pantai pulau ini adalah sebuah pelataran bersalin yang sakral bagi salah satu makhluk purba samudra: Penyu Hijau.
Pada malam-malam tertentu yang sunyi, di bawah temaram cahaya bulan, beberapa ekor penyu hijau besar akan merayap perlahan meninggalkan asinnya air laut. Dengan insting yang tajam, mereka menggali pasir hangat di sepanjang pantai Maputi untuk menitipkan ratusan butir telur, melanjutkan siklus kehidupan yang telah berjalan selama jutaan tahun.
Istana Karang di Bawah Selat Makassar
Bagi para pencinta petualangan bawah air, surga yang sesungguhnya justru baru dimulai ketika Anda mengenakan masker selam dan menceburkan diri ke lautnya. Berada di kawasan Segitiga Karang Dunia, bawah laut Pulau Maputi adalah sebuah metropolis maritim yang padat dan penuh warna.
Menyelam di sisi barat atau timur pulau ini bagaikan memasuki pameran seni alam yang megah. Hamparan terumbu karang keras (hard coral) yang sehat membentang luas dengan kondisi tutupan mencapai lebih dari 50 persen. Di sela-sela koloni karang yang berbentuk menyerupai meja, jemari-jemari anemon laut tampak melambai pelan searah arus, menjadi tempat petak umpet bagi ikan-ikan badut yang jenaka. Ikan-ikan karang dengan warna kuning menyala, biru elektrik, hingga kerapu besar berseliweran dengan tenang, menandakan bahwa ekosistem di sini masih terjaga dari tangan-tangan jahil manusia.
Kesunyian yang Menenteramkan
Keindahan Pulau Maputi kian terasa magis karena suasananya yang relatif sepi. Hanya ada satu dusun kecil yang dihuni oleh segelintir kepala keluarga—sebagian besar merupakan keturunan suku Bajau dan Pendau yang menggantungkan hidup dari kearifan melaut. Keramahan khas warga pesisir akan menyambut siapa saja yang singgah, menawarkan kelapa muda segar atau sekadar cerita-cerita petualangan mereka di laut lepas.
Berada di Maputi membuat waktu seolah berjalan lebih lambat. Di sini, hiruk-pikuk kedai kopi kota atau bisingnya kendaraan bermotor digantikan oleh simfoni gesekan daun kelapa dan desau angin Selat Makassar.
Pulau Maputi kini bukan lagi sekadar titik koordinat di peta tata ruang wilayah Donggala. Bagi mereka yang pernah menjejakkan kaki di atas pasir putihnya dan mengintip keindahan bawah lautnya, Maputi adalah sebuah puisi alam yang nyata—sepotong surga di ujung Sojol yang selalu berbisik memanggil untuk kembali. SON

Opini Anda