Bagi masyarakat Kabupaten Poso dan sekitarnya, nama Paul Rantelangi atau yang akrab disapa oleh kerabat dekat sebagai Ngkai Oi adalah cerminan dari dedikasi, kedisiplinan, dan pengabdian birokrasi yang kokoh.
Namun, di balik serangkaian jabatan mentereng yang pernah diembannya, pria kelahiran Sangele, 4 Februari 1938 ini adalah sebuah jangkar emosional yang mempersatukan rumpun keluarga besar Rantelangi-Mowose.
Ketika beliau mengembuskan napas terakhirnya pada Kamis, 15 Juli 2026 di usia 88 tahun, Poso tidak hanya kehilangan salah satu putra terbaiknya. Keluarga yang ditinggalkan pun kehilangan sosok teladan yang tak ternilai bagi anak, cucu, hingga cicitnya.
Akar Silsilah dan Fondasi Karakter dari Sangele
Perjalanan hidup Paul Rantelangi berakar kuat di tanah Sangele. Beliau merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara, lahir dari pasangan Ndoke Rantelangi dan Kidjole Giamo. Tumbuh dalam keluarga besar Rantelangi-Giamo, Paul kecil ditempa oleh nilai-nilai kebersamaan dan ketelitian yang kuat.
Saudara-saudaranya turut membentuk jalinan persaudaraan erat yang kelak menjadi cikal bakal rumpun keluarga besar yang sangat solid, antara lain:
- Rantji Rantelangi (Papa Karnas)
- Dunia Rantelangi (Ine Luther)
- Gamalia Pariu (Papa Ely)
- Josephina Rantelangi (Ine Inta)
- Theresia Rantelangi (Ine Olu)
- Alfredrik Rantelangi (Papa Frengky)
Nilai-nilai ketertiban dan ketelitian yang ia bawa hingga akhir hayatnya tecermin dari bagaimana ia mendokumentasikan hidupnya sendiri dalam catatan riwayat hidup asli sepanjang 15 lembar. Meskipun buku aslinya sempat tercecer, pokok pembawaannya yang disiplin tetap hidup dalam ingatan kolektif keluarga.
Melewati Jalur Pendidikan
Pada pertengahan abad ke-20, menempuh pendidikan formal hingga tingkat atas bukanlah perkara mudah di Sulawesi Tengah. Namun, Paul menunjukkan komitmen luar biasa terhadap ilmu pengetahuan.
Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1952. Demi melanjutkan sekolah, ia rela merantau ke Sulawesi Selatan dan menyelesaikan pendidikan di SMP Gadjah Mada Makassar pada tahun 1955.
Tidak berhenti di sana, Paul membekali dirinya dengan keahlian praktis yang sangat langka di zamannya, yaitu mengikuti kursus mengetik sistem sepuluh jari di Balai Pendidikan Surya hingga tamat pada tahun 1956. Keahlian mengetik cepat inilah yang menjadi modal krusial dalam perjalanan administrasi dan karier birokrasinya di kemudian hari. Pendidikan menengah atasnya kemudian berhasil ia tuntaskan di SMA Makassar pada tahun 1959.
Rekam Jejak Karier, dari Bawah hingga Wakil Ketua DPRD Poso
Berbekal kedisiplinan tinggi dan keterampilan administrasi yang mumpuni, Paul Rantelangi menapaki dunia kerja dari bawah. Langkah awalnya dimulai sebagai Ketua Tata Usaha pada Garuda Penjagaan Keamanan Partikulir Makassar. Setelah itu, ia mulai memasuki dunia telekomunikasi sebagai Pegawai Tidak Tetap Telekomunikasi dengan penempatan di berbagai daerah, termasuk di Bitung, Sulawesi Utara (1959–1964).
Tahun 1965 menjadi tonggak penting saat ia kembali ke tanah kelahirannya dan bekerja sebagai Pegawai PT Panca Setia Perwakilan Poso. Dedikasinya yang luar biasa menarik perhatian pemerintah daerah, hingga pada tahun 1966 ia resmi diangkat menjadi Pegawai Tata Usaha pada Kantor Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Poso.
Kariernya di lingkungan Pemda Poso terus melesat berkat kecakapannya dalam mengelola administrasi publik. Beberapa posisi strategis yang pernah diembannya antara lain:
- Penata Tata Usaha pada Kantor Pemda Kabupaten Poso (1968–1973)
- Pengatur Tata Usaha pada Kantor Pekerjaan Umum (PU) Daerah Kabupaten Poso (1973–1977)
- Pengatur Tata Usaha Tingkat 1 pada Kantor PU Daerah Kabupaten Poso (1973–1977)
- KTU Penata Muda Tata Usaha pada Dinas PU Kabupaten Poso (1978)
Puncak karier birokrasinya di tingkat wilayah tercapai ketika ia dipercaya menjabat sebagai Pejabat (Pj.) Kepala Wilayah Kecamatan Poso Kota pada tahun 1979, yang kemudian berlanjut menjadi Camat Poso Kota definitif hingga tahun 1983.
Kepemimpinannya yang mengakar membuatnya ditarik kembali ke pusat kabupaten untuk menjabat Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Umum (1983) dan Kepala Dinas Tata Kota Daerah Kabupaten Poso (1987–1993).
Kiprah di Politik dan Sosial Keagamaan
Setelah pensiun dari jalur birokrasi, pengabdian Paul tidak meredup. Ia terjun ke dunia politik praktis melalui Fraksi Golkar dan dipercaya oleh masyarakat untuk mengemban amanah sebagai Wakil Ketua DPRD Tingkat II Kabupaten Poso selama dua periode.
Di ranah spiritual dan sosial, namanya juga abadi sebagai:
- Majelis Jemaat / Bendahara Jemaat GKST Pniel Poso.
- Ketua Panitia Pembangunan Kantor Sinode GKST.
- Salah satu tokoh penasihat berdirinya Universitas Kristen Tentena (Unkrit).
Sosok Pemersatu di Mata Rumpun Keluarga Rantelangi-Mowose
Di ranah domestik, kisah kasih Paul Rantelangi diukir bersama Ibu Towelino-Mowose, yang ia nikahi pada 25 November 1966 di Jemaat GKST Moria Tentena. Dari pernikahan legendaris Rantelangi-Mowose ini, lahir tiga orang anak yang meneruskan estafet generasinya: Ferdinando Prant Tommy Rantelangi, S.T., Febrina Debbie Rantelangi, dan Beaxtries Rantelangi, S.E.
Bagi anak-anaknya, Paul adalah sosok ayah yang tegas dan penuh kasih. Namun, jika ada satu kelompok yang paling merasakan kehangatan murni dari seorang Ngkai Oi, mereka adalah para cucunya.
Di mata enam orang cucunya—Bryan Yusup Rantelangi, S.T., dr. Fanny Rantelangi, S.Ked., Ryfael Marcvano Rantelangi, Gloria Anastasia Sowolino, S.I.Kom., Priscelly Maygiesta Sowolino, S.I.Kom., dan Tri Septiawan Sowolino, S.H.—Almarhum bukan sekadar seorang kakek yang dihormati karena jabatan masa lalunya.
“Di mata kami para cucu, Ngkai adalah sosok pemersatu keluarga yang sesungguhnya,” kenang salah satu perwakilan keluarga.
Ketika dinamika kehidupan berpotensi merenggangkan jarak antarkerabat, kehadiran Paul selalu menjadi magnet yang menarik semua lini keluarga untuk kembali duduk bersama dalam satu meja kebersamaan. Perhatiannya tidak pernah membeda-bedakan; ia senantiasa memastikan setiap cucu dan cicit (termasuk cicitnya, Imanuella) merasa didengar, didukung, dan dicintai. Beliau adalah figur teduh tempat keluarga mengadu, sekaligus kompas moral yang selalu mengingatkan pentingnya menjaga nama baik dan kerukunan rumpun Rantelangi-Mowose.
Akhir Perjalanan sang Penjaga Kedamaian Keluarga
Hingga hari-hari terakhirnya di bulan Juli 2026, di tengah kondisi fisik yang terus menurun, kehangatan itu tidak pernah hilang dari pancaran wajahnya.
Paul Rantelangi telah berpulang menghadap Sang Pencipta. Ia dilepas oleh pelukan hangat keluarga tercinta, pendampingan gemala jemaat, serta Dr. Mardi Tado’u yang setia merawat.
Ia meninggalkan sebuah warisan yang utuh: sebuah cerita tentang bagaimana seorang anak bungsu dari Sangele bisa tumbuh menjadi pilar penting bagi kemajuan Kabupaten Poso, sekaligus menjadi atap pelindung yang mempersatukan seluruh keluarganya dalam ikatan kasih yang abadi.
Selamat jalan, Ngkai Oi. Dedikasi dan keteladananmu akan selalu hidup dalam sanubari kami. (Simson Towengke)

Opini Anda