Jembatan Abadi dari Poso ke Alor, Darius Raupa dan Perjuangan Kemerdekaan Sejati
Oleh: Simson Towengke
Indonesia merdeka bukan hanya tentang pena yang meneken proklamasi di Jakarta, melainkan tentang pengabdian tanpa batas yang dijalankan oleh para administrator dan aktivis di daerah-daerah terpencil. Kisah Darius Raupa, seorang intelektual asal Poso, Sulawesi Tengah, yang ditugaskan sebagai Wedana DPB pada Residen Koordinator Sulawesi Tengah di Palu, adalah monumen pengabdian yang menjangkau ribuan kilometer hingga ke kepulauan Alor dan Pantar, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Arsip-arsip sejarahβmulai dari surat resmi Kantor Sosial RI tahun 1957 hingga sebuah Kartu Pos keluarga yang sarat maknaβmenarik kita kembali ke era 1950-an. Saat itu, Darius Raupa bukan sekadar pejabat yang menjalankan tugas administratif. Ia adalah Koordinator Gerakan Pemuda Merdeka (GPM) Indonesia Timur yang bergerak memimpin apa yang kita sebut sebagai Kemerdekaan Sosial.


Melawan Kebodohan dengan Organisasi
Perjuangan GPM yang dipimpin Raupa tidak berorientasi pada politik kekuasaan, melainkan pada pembangunan fondasi masyarakat. Ia melihat bahwa kemerdekaan tidak akan tuntas tanpa pembebasan dari kebodohan. Melalui GPM, ia berhasil membuka sekolah dan menanamkan “djiwa jang belah sadar” di kalangan pemuda Alor/Pantar.
Surat-surat lama membuktikan keseriusan GPM, bahkan tercatat upaya mereka mencari bantuan dana dari luar negeri (organisasi yang didirikan oleh Drs. James B. Conant di AS) demi memajukan pendidikan lokal. Ini adalah bukti bahwa tokoh-tokoh daerah seperti Darius Raupa memiliki visi global, tetapi kaki yang tertanam kuat di akar rumput. Meskipun Pemerintah Pusat melalui Kantor Sosial RI Kupang menyarankan GPM dilebur menjadi LSD (Lembaga Sosial Desa) agar bantuan terjamin, semangat pergerakan yang diwariskan Raupa jauh melampaui kerangka birokrasi.
Kartu Pos: Ikatan yang Tak Terputus
Aspek yang paling menyentuh dari warisan Raupa adalah sebuah Kartu Pos bersejarah. Di satu sisi, tertera foto resmi beliau sebagai pejabat Palu. Di sisi lain, sebuah pesan perpisahan yang puitis dan mengikat:
“Hormat pengabdiianku, untuk seluruh Rakjat ALOR/PANTAR/ KEDANG/ADONARA dan budi djasa tetap kukenang. Semoga Allah pertemukan kita kelak.”


Keluarga mengklaim Kartu Pos ini beredar luas, menjadikannya mungkin salah satu jejak awal komunikasi publik yang masif di Sulawesi Tengah. Namun, lebih dari sekadar klaim teknis, Kartu Pos ini adalah kapsul waktu yang menyimpan ikatan emosional Raupa, seorang putra Poso, dengan masyarakat di daerah penugasannya. Ikatan ini semakin dikuatkan oleh pernikahan beliau dengan putri bangsawan Alor.
Darius Raupa adalah representasi sempurna dari “Indonesia Sentris” yang sesungguhnya: seorang pemimpin yang dengan ikhlas berpindah dari Palu ke Kalabahi, membawa visi kemajuan dan meninggalkan warisan sosial yang abadi. Kisahnya mengingatkan kita bahwa membangun Republik bukan hanya tugas di ibu kota, tetapi tugas yang diukir dengan keringat, dedikasi, dan cinta kasih melintasi batas-batas pulau.
Ia adalah jembatan abadi dari Poso ke Alor. Sebuah pengabdian yang patut dikenang.**
Sumb: Tulisan ini didukung dengan dokumen yang saat ini masih disimpan oleh Yosi Raupa.

Opini Anda