POSO – Memasuki pekan kedua, harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi ukuran 3 kilogram di wilayah Poso Kota dan sekitarnya masih terpantau melambung tinggi. Di tingkat pengecer, gas melon yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin tersebut masih bertahan di kisaran Rp60.000 per tabung.
Kondisi ini memicu jeritan dan keluhan dari warga setempat. Pasalnya, masyarakat merasa belum bisa menikmati harga subsidi yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Seorang warga Poso Kota mengaku sangat terbebani dengan tingginya harga gas subsidi tersebut. Menurutnya, tidak ada pilihan lain selain membeli meski harganya mencekik leher.
“Sudah dua minggu ini harganya tetap Rp60 ribu di eceran. Mau tidak mau tetap dibeli karena untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Kami rakyat kecil merasa belum merdeka dari masalah gas ini, mana janji harga subsidi dari pemerintah?” keluh Ramadhani, saat berada di tempat penjual tabung gas, Minggu (7/6).
Melambungnya harga gas 3 kg yang berlarut-larut ini membuat masyarakat mulai mempertanyakan kinerja Pemerintah Daerah (Pemda) dan instansi terkait. Warga menilai pengawasan terhadap distribusi gas subsidi di wilayah Poso masih sangat lemah.
Masyarakat mendesak agar pemerintah segera turun tangan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lapangan, baik ke tingkat agen, pangkalan, hingga pengecer.
”Kami pertanyakan kinerja pemerintah dan dinas terkait. Kenapa harga di pengecer bisa sampai tiga kali lipat dari Harga Eceran Tertinggi (HET) resmi dan ini dibiarkan sampai berpekan-pekan? Harus ada tindakan tegas,” ungkap salah satu tokoh masyarakat setempat.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat berharap ada langkah konkret dari pemerintah untuk menstabilkan kembali harga LPG 3 kg agar tepat sasaran dan sesuai dengan harga subsidi yang telah ditetapkan. SON

Opini Anda