MOROWALI — PT Sambalagi Nickel Industry (BNSI) resmi memulai era baru hilirisasi nikel nasional dengan memasang teknologi Autoclave High Pressure Acid Leach (HPAL) generasi terbaru di Sambalagi, Morowali, Sulawesi Tengah. Proyek bernilai investasi fantastis mencapai US$1,845 miliar (sekitar Rp29 triliun) ini siap memperkuat rantai pasok baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global sekaligus membuka 5.000 lapangan kerja baru bagi masyarakat.
BNSI sendiri merupakan perusahaan konsorsium lintas negara yang menggabungkan kekuatan EcoPro (Korea Selatan), GEM Co., Ltd. (Tiongkok), dan PT Vale Indonesia Tbk. Berlokasi di International Green Industrial Park (IGIP), proyek ini diproyeksikan memproduksi 90.000 ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun—bahan baku utama komponen baterai EV.
Guna menggenjot efisiensi, BNSI memasang Autoclave HPAL berkapasitas 1.268 meter kubik. Angka ini memecahkan rekor sebagai fasilitas HPAL terbesar yang pernah diterapkan di industri nikel dunia.
Teknologi modern ini dirancang khusus untuk meningkatkan kapasitas pengolahan, menghemat konsumsi energi, serta menjaga stabilitas produksi dengan tingkat emisi karbon yang jauh lebih rendah.
Konstruksi proyek yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dan berstatus Kawasan Berikat ini ditargetkan rampung pada akhir 2026, dan siap beroperasi secara komersial pada kuartal pertama 2027.
Chairman GEM Co., Ltd., Professor Xu Kaihua, menegaskan bahwa hadirnya BNSI adalah wujud nyata kolaborasi strategis tiga negara (Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok) dalam membangun kawasan industri nikel nol karbon pertama di dunia.
“Dengan menggabungkan sumber daya melimpah Indonesia, teknologi canggih GEM, dan keunggulan industri baterai EcoPro, kami ingin mempercepat transisi energi global,” ujar Prof. Xu Kaihua.
Saat beroperasi penuh nanti, BNSI diproyeksikan menyumbang nilai ekspor hingga US$1,5 miliar per tahun. Selain menyerap 5.000 tenaga kerja, pasokan MHP dari fasilitas ini diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan baterai sekitar 3 juta unit kendaraan listrik setiap tahunnya.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Kepala BPI Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyambut positif langkah besar ini. Menurutnya, BNSI membuktikan bahwa hilirisasi di Indonesia sudah naik kelas.
“Kita tidak lagi sekadar mengolah bahan mentah, tetapi membangun rantai nilai industri baterai EV yang terintegrasi dari hulu ke hilir—mulai dari HPAL, nickel sulfate, precursor, cathode active material, hingga baterai jadi,” tegas Rosan.
Tak hanya mengejar profit, proyek ini dirancang menuju Net Zero Emissions melalui pemanfaatan waste heat recovery dan energi surya. BNSI juga membuktikan komitmen sosialnya dengan merealisasikan investasi lingkungan/sosial senilai US8,5jutauntukwargaSambalagi,sertamembangun∗HPALResearchCenter∗senilaiUS37 juta demi melahirkan talenta unggul Indonesia di bidang metalurgi ramah lingkungan.**

Opini Anda