POSO- Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Poso, Husai Kaluti, akhirnya angkat bicara terkait keluhan masyarakat mengenai kualitas pelayanan air bersih akhir-akhir ini.
Melalui pernyataan resmi yang diunggah di akun media sosial Facebook Iskandar, dalam komentatarnya, Husai membeberkan sejumlah kendala teknis hingga kondisi infrastruktur yang sudah usang.
Menurut Husai, sumber air baku PDAM Poso sepenuhnya mengandalkan air permukaan, yaitu Sungai Poso dan Sungai Tokararu di Tangkura. Kondisi ini membuat kualitas air sangat bergantung pada faktor cuaca.
“Satu minggu terakhir ini curah hujan ekstrem, akibatnya air baku Sungai Tokararu dan Sungai Poso berubah menjadi kekeruhan ekstrem juga,” tulis Husai, dikutip dari posoline.com Jumat (29/05-26)
Husai menjelaskan bahwa dalam kondisi kekeruhan ekstrem, air seharusnya melalui proses pengolahan awal sebelum masuk ke Instalasi Pengolahan Air (IPA). Jika tidak, sistem filtrasi yang ada saat ini tidak akan mampu menyaring lumpur.
Sayangnya, kondisi sarana dan prasarana PDAM Poso saat ini dinilai sudah tidak ideal akibat faktor usia. Husai merinci beberapa kerusakan fatal pada fasilitas penunjang, di antaranya:
Fasilitas Pengolahan Rusak: Bak Desinfektan, bak Flokulasi, dan Bak Aerasi yang dimiliki PDAM Poso seluruhnya telah rusak dimakan usia. Akibatnya, fungsi tawas sebagai pengikat partikel lumpur tidak optimal karena proses flokulasi terpaksa terjadi di dalam pipa transmisi saat air mengalir.
Filter Tidak Optimal: Filter air yang ada saat ini sudah tidak berfungsi maksimal dan mendesak untuk segera direhabilitasi.
Kekurangan Pipa Penguras : Dari kebutuhan ideal sekitar 25 buah pipa penguras untuk membuang lumpur di dalam pipa, saat ini PDAM Poso hanya memiliki 7 buah. Rehabilitasi pipa distribusi secara bertahap sangat diperlukan.
Mengingat keterbatasan fasilitas tersebut, Husai menegaskan bahwa jalan keluar satu-satunya saat terjadi kekeruhan ekstrem adalah menghentikan pasokan air bersih secara sementara kepada pelanggan hingga kondisi air baku kembali normal.
Pihaknya sengaja tidak mengambil opsi memaksakan produksi dengan menambah dosis tawas di luar ambang batas aman.
“Karena jika diantisipasi dengan penambahan jumlah pemakaian tawas di luar aturan yang ada, akan berpotensi menyebabkan iritasi pada kulit dan mata masyarakat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Husai mengungkapkan bahwa akar masalah dari lambatnya peremajaan sistem ini adalah keterbatasan anggaran. Meski secara internal manajemen diklaim telah tertata dengan predikat Kinerja Sehat dan laporan keuangan meraih predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), namun dukungan dana untuk perbaikan infrastruktur masih minim.
“Perlu diketahui, sampai dengan saat ini masuk tahun keempat jabatan saya, karena akibat efisiensi anggaran yang ada, saya belum pernah mendapat Penyertaan Modal untuk mengubah apa yang ada ke arah yang lebih baik,” ungkap Husai secara terbuka.
Mengakhiri penjelasannya, Dirut PDAM Poso ini menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh pelanggan atas ketidaknyamanan yang terjadi. Ia juga berterima kasih atas segala kritik dan masukan yang diberikan oleh para netizen di media sosial.
“Dengan kondisi yang ada saya minta maaf. Dan ini akan menjadi dorongan bagi kami PDAM Poso untuk lebih baik melayani dalam kondisi yang minimal,” pungkasnya. SON

Opini Anda