Sejarah Desa Masamba, Miniatur Indonesia di Jantung Poso Pesisir
Oleh: Simson Towengke
Bagi siapapun yang mendengar namanya untuk pertama kali, ingatan kolektif pasti akan langsung terbang jauh ke wilayah subur di Sulawesi Selatan. Namun, Masamba yang satu ini berada di tempat yang berbeda. Ia adalah sebuah desa kecil yang tenang, bersahaja, namun sarat akan prestasi, terletak di Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.
Kesamaan nama ini bukanlah sebuah kebetulan tanpa makna. Ada benang merah sejarah dan ikatan emosional mendalam yang membentang dari masa lalu, membawa kisah tentang keberanian para perantau yang melintasi batas demi menyambung harapan di tanah baru.
Sepotong Ingatan Asal-Usul
Kisah ini bermula lebih dari delapan dekade silam, tepatnya pada tahun 1940. Saat itu, bentang alam wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Masamba masih berupa hutan dan belantara sunyi. Kesunyian itu perlahan pecah ketika sekelompok kecil perantau yang berasal dari daerah Masamba, Sulawesi Selatan, menginjakkan kaki mereka di sana. Mereka datang membawa harapan baru, menetap, dan mulai membuka lahan. “Awalnya hanya ada 7 Kepala Keluarga dengan total 13 jiwa,” urai Penjabat (Pj) Kepala Desa Masamba, Hasbullah AR. Ladatji, saat mengenang kembali babak awal berdirinya desa ini.


Untuk mengobati rasa rindu pada tanah kelahiran sekaligus menandai identitas asal-usul mereka, ruang baru yang mereka buka di sebelah barat ibu kota Kabupaten Poso tersebut dinamai sama: Masamba. Perlu ditegaskan, Desa Masamba ini bukanlah wilayah yang berada di Sulawesi Selatan, melainkan sebuah desa di Poso yang memiliki kesamaan nama karena secara historis para penduduk awalnya memang berasal dari kampung yang sama di seberang pulau.
Secara geografis, wilayah desa yang memiliki luas sebesar 675 hektare ini berbatasan langsung dengan Desa Pinedapa. Di atas tanah inilah fondasi kehidupan mulai dibangun setapak demi setapak. Tongkat estafet kepemimpinan pertama diserahkan kepada mendiang Palluba Andi Patau, yang menakhodai desa selama satu dekade penuh dari tahun 1940 hingga 1950.
Sejak saat itu, papan informasi di kantor desa mencatat telah terjadi 16 kali periode kepemimpinan yang silih berganti mengawal pembangunan. Mulai dari nama-nama ikonik seperti Latajang Randu, Vodoi Pasadji, Ahmad Fanudju, hingga kini di bawah kendali Pj. Kades Hasbullah AR. Ladatji sejak tahun 2023, Masamba terus merajut takdir mandirinya sendiri.
Patung Petani, Gerbang Sawah yang Subur, dan Deru Gilingan Padi
Menjelajahi Desa Masamba hari ini adalah menikmati bentang alam yang karib dengan kemakmuran. Desa ini diberkahi tanah yang cukuplah subur, terekam jelas dari hamparan lahan persawahan hijau yang luas sejauh mata memandang. Sektor agraris menjadi urat nadi yang menghidupi ratusan warga di dalamnya.
Uniknya, desa ini memiliki penanda visual dan auditori yang khas bagi para pelancong. Saat memasuki Desa Masamba, tepat di tikungan masuk jika Anda berkendara dari arah Poso menuju tujuan Palu, pandangan Anda akan langsung disambut oleh sebuah tugu yang gagah. Tugu ini menampilkan patung seorang petani yang sedang memikul cangkul, sebuah simbol penghormatan pada tulang punggung ekonomi desa. Berdiri tegak dan bersebelahan dengan pabrik gilingan padi, tugu ini nampak serasi dengan latar belakang hamparan sawah yang luas, menciptakan pemandangan ikonik yang menunjukkan identitas agraris Masamba.
Deru mesin gilingan padi yang beroperasi menyambut setiap derap langkah masuk ke desa, menjadi simbol penanda bahwa Anda telah tiba di sebuah lumbung pangan lokal yang produktif. Gilingan padi dan patung petani ini bukanlah sekadar objek visual, melainkan monumen hidup dari keringat para petani Masamba yang setiap musimnya mengolah kesuburan tanah demi ketahanan pangan keluarga dan daerah.
Menjadi Rumah Bagi Sepuluh Suku
Waktu terus berjalan, dan Masamba tidak lagi sekadar menjadi milik para keturunan perantau awal. Sifatnya yang terbuka dan inklusif menarik kedatangan berbagai kelompok masyarakat dari berbagai penjuru nusantara.
Kini, Masamba telah bermutasi menjadi sebuah ‘Miniatur Indonesia’. Di dalam ruang desa yang dihuni oleh 835 jiwaโterdiri dari 410 laki-laki dan 425 perempuanโhidup berdampingan secara damai sepuluh suku yang berbeda. Mulai dari Suku Bugis, Pamona, Mori, Gorontalo, Kaili, Arab, Manado, Bali, hingga Lombok.
Keberagaman ini tidak menjadi sekat pemisah. Sebaliknya, perbedaan latar belakang kultural dan keyakinan justru luluh dalam semangat gotong royong yang kental. Saban hari, harmoni itu terlihat jelas dari interaksi warga di sawah-sawah, pekarangan rumah, hingga dalam forum-forum desa. Perbedaan warna kulit dan dialek dipandang sebagai kekayaan, bukan pembeda.
Mandiri Bersama Rakyat dan Bertabur Prestasi
Filosofi hidup berdampingan itulah yang kemudian melahirkan energi positif untuk membangun. Di bawah kepemimpinan pemerintah desa saat ini, Masamba memantapkan langkahnya lewat visi besar: “Desa Masamba Desa Mandiri, Mandiri Bersama Rakyat”. Visi ini rupanya bukan sekadar deretan kata di atas kertas pajangan kantor desa, melainkan komitmen konkret yang berbuah manis.
Dalam beberapa tahun terakhir, nama Desa Masamba berulang kali menggema di panggung penghargaan. Di tingkat kabupaten, Masamba berhasil menyabet Juara Pertama Citra Award sebagai desa dengan Pendapatan Asli Desa (PAD) tertinggi se-Kabupaten Poso pada tahun 2023, disusul penghargaan sebagai Desa Terbaik Menjadi Desa Mandiri.
Kreativitas warganya juga teruji lewat inovasi sosial dan kesehatan, seperti meraih Juara Pertama Lomba Cipta Menu Pengolahan Makanan Sehat untuk Anak Stunting, serta diakui oleh Balai POM sebagai ‘Desa Paman’ (Desa Pangan Aman). Bahkan, gaung desa ini sempat terdengar di level nasional saat meraih Juara Dua Nasional dalam Program Podcast PLD bertema “Pembangunan Desa Inklusif” yang dipandu oleh Rosiana H. Yamin.
Prestasi tersebut tidak berhenti di sana. Masamba juga dinobatkan sebagai Desa Brilian Batch 2 Tahun 2023 oleh BRI Regional Office Manado, meraih Juara 2 Lomba Desa Tingkat Kabupaten tahun 2024 beserta penghargaan Lunas Pajak, hingga puncaknya kembali merebut predikat Juara 1 Lomba Desa Tingkat Kabupaten Poso pada tahun 2025.
Menatap Masa Depan
Melihat Masamba hari ini adalah melihat sebuah pembuktian. Bahwa sebuah wilayah yang bermula dari sekelompok kecil warga yang merindukan kampung halamannya, kini mampu berdiri tegak sebagai desa percontohan yang mandiri, subur, dan kompetitif.
Kesamaan nama dengan Masamba di Sulawesi Selatan mungkin akan selalu memicu tanya bagi orang luar. Namun bagi warga setempat, Masamba di Poso Pesisir ini adalah simbol dari sebuah rumah masa depan tempat di mana sejarah dirawat, sepuluh suku bersatu, dan prestasi diukir bersama rakyat. **

Opini Anda