Di antara hembusan angin yang membawa aroma garam dari Teluk Tomini dan riuhnya percakapan di deretan kedai makanan yang baru berdiri, tersembunyi sebuah ingatan yang terukir samar. Papan-papan kayu kafe sederhana yang berjejer kini menggantikan toko-toko kolonial yang dulu menjadi pusat niaga. Namun, jika Anda menyimak lebih dalam, sejarah tidak pernah benar-benar pergi. Ia bersemayam dalam setiap bilah papan nama jalan tua dan di bawah pijakan kaki di tanggul sungai yang kini ramai dengan anak muda. Inilah Bonesompe, sebuah nama yang oleh leluhur diartikan sebagai “pasir yang menumpang,” seolah-olah takdirnya memang untuk menjadi tempat persinggahan sekaligus permulaan.
Bonesompe bukan sekadar tempat berlabuhnya pasir atau tujuan street food malam hari. Jauh sebelum Poso menemukan pusatnya yang sekarang, kawasan inilah yang menjadi nadi yang menghidupkan Sulawesi Tengah. Di lapangan yang kini digunakan anak-anak bermain bola, pernah berdiri tegak sebuah monumen megah—Tugu Kemerdekaan—yang diresmikan langsung oleh Presiden Soekarno. Garis tegas masa lalu sebagai pusat politik dan perdagangan kini kontras dengan ketenangan yang ia tampilkan hari ini. Lantas, bagaimana sejarah sebuah ibukota otonom bisa bergeser dan meninggalkan jantungnya sendiri?
Tiga Periode Kejayaan di Muara Sungai Poso
Kejayaan Bonesompe dimulai sejak akhir abad ke-19. Posisi geografisnya di muara Sungai Poso, jalur utama yang menghubungkan dataran tinggi penghasil komoditas dengan pesisir, menjadikannya titik strategis tak terbantahkan.
Titik Nol Pusat Pemerintahan
Pada masa kolonial, Belanda menjadikannya pusat administratif (Onderafdeeling Poso).
Semua aktivitas vital berkumpul di sini. Bahkan setelah kemerdekaan, peran strategisnya diakui. Pada tahun 1946, Poso ditetapkan sebagai ibu kota Daerah Otonom Sulawesi Tengah, sebuah keputusan yang menegaskan status Bonesompe sebagai jantung yang memompa politik dan ekonomi regional.
Denyut Nadi Para Pioner: Jejak Etnis Tionghoa
Jalanan utama Bonesompe adalah sentra ekonomi, dan denyut nadinya banyak dipengaruhi oleh para pioner perdagangan, khususnya komunitas Tionghoa. Mereka dikenal sebagai pemilik toko-toko strategis yang menjembatani hasil bumi lokal dengan pasar di luar daerah melalui pelabuhan. Bangunan pertokoan kokoh yang mereka dirikan merupakan simbol kemakmuran kawasan ini. Tokoh-tokoh pengusaha Tionghoa juga turut berkontribusi dalam pembangunan sipil, menjadikan Bonesompe sebagai titik temu budaya dan komersial yang multietnis.
Saksi Bisu Kedatangan Sang Proklamator
Puncak simbolis kejayaan Bonesompe terjadi pada 4 April 1952. Ribuan warga Poso memadati kawasan ini untuk menyambut Presiden Soekarno. Kunjungan tersebut menghasilkan peresmian sebuah monumen yang berdiri di jantung Bonesompe: Tugu Kemerdekaan.
Namun, monumen itu tidak abadi. Pada era Orde Baru, sekitar tahun (lupa), tugu bersejarah tersebut dilaporkan dibongkar, dianggap sebagai peninggalan ideologi lama. Hilangnya tugu itu seolah menjadi penanda awal pergeseran peranan Bonesompe. Perpindahan kantor-kantor pemerintahan, diikuti pergeseran pusat perdagangan, membuat kawasan ini sempat terasa seperti “kota mati,” menyisakan pertokoan tua yang terbakar dan memori kolektif yang mendalam.
Kebangkitan di Atas Puing Memori
Jika sejarah adalah serangkaian ombak, Bonesompe telah menyaksikan gelombang pasang kejayaan dan gelombang surut perpindahan. Tugu Kemerdekaan mungkin telah tiada, dan denyut perdagangan yang digerakkan para pioner kini berpindah. Namun, semangat Bonesompe—sebagai “pasir yang menumpang” dan menjadi awal—tak pernah padam.
Kini, di bawah inisiatif komunitas dan Pemerintah Daerah, gelombang kebangkitan itu datang dalam wujud acara tahunan Bonesompe Fair yang diselenggarakan di Tanggul Boneka. Acara ini bukan hanya sekadar festival, tetapi upaya eksplisit untuk mengangkat kembali citra Bonesompe sebagai kota tua dan pusat ekonomi.
Bonesompe Fair telah menjadi motor penggerak bagi UMKM, dengan perputaran uang yang mencapai ratusan juta rupiah per event. Lebih dari sekadar ekonomi, acara ini juga membawa pesan sosial yang mendalam. Pada pelaksanaannya, bahkan dilakukan penandatanganan Prasasti Perdamaian sebagai simbol merajut rekat (rekonsiliasi) pasca-konflik, menjadikannya bukan hanya tempat wisata, tetapi juga monumen harapan.
Jalanan yang pernah sepi kini ramai kembali oleh tawa, musik, dan wangi kuliner. Bonesompe telah berhasil membuktikan bahwa meskipun sejarah tidak dapat diulang, ia dapat ditemukan kembali dalam harmoni baru, mengukir babak baru sebagai Kota Tua yang bangkit dari tidur panjangnya, menjadi simbol semangat, kreasi, dan perdamaian bagi Poso. TABEA
Penulis: Simson Towengke

Opini Anda