Intinya; Kritikus itu dalam mendekati atau menganalisis karya sastra/tulis, yang harus dilakukan pertama kali adalah dengan melakukan pembacaan secara mikroskopik terhadap sebuah karya. Jangan langsung menuding karya itu jelek atau tak substansi alias ‘ngaco’. Apalagi langsung mengarah pada tudingan, “memiliki kepentingan” di dalamnya. Padahal ia belum membaca sampai selesai isi tulisannya. Tak bijak juga rasanya jika demikian.
Belajarlah membaca bijak dan teliti dengan berharap mendapatkan substansi dari isi sebuah karya sastra/tulis untuk dijadikan metedologi pembanding dengan karya2 lainnya. Dan salah satu caranya adalah melalui Metode Mikroskopik atau yg dikenal dengan istilah Close Reading.
Close Reading, merupakan metode pembacaan terhadap karya sastra yang berusaha mencermati karya sastra dengan teliti dan mendetail setiap paragraf. Ini bertujuan agar tak ada satu pun bagian dari karya sastra yang sedang diamati terlepas dari pengamatan, baik narasi sampai ke tanda baca. Tahan emosi, meski terkadang tulisan yg sedang kita amati terkadang berbeda dengan pemahaman sebelumnya yg kita pahami. Sebab semua bagian dalam karya sastra, sekecil apa pun bagian tersebut, merupakan bagian yang tidak mungkin dipisahkan. Barangkali saja di sana ada sesuatu yg belum kita ketahui untuk kita pahami. Bukankah ilmu itu tak ada habisnya, meskipun air laut kita jadikan tinta dan pohon-pohon kita jadikan kertas untuk menulis ilmu kita?
Pembacaan secara close reading membuat karya sastra menjadi hidup, menjadi konkret (concret) dalam benak pembaca. Selain itu, pembacaan dengan metode ini membuat analisis menemukan tekanannya pada kerja yang bersifat empirik, karena ia melakukan observasi langsung terhadap teks dan bukan hal-hal di luar teks. Dan itu perna d lakukan dng baik sama, Ahmad Yanusa dlm dia ‘membantai’ Puisi sy “Munajat Debu”.
Dia seperti kritikus yg mengandaikan adanya empirisme dan konkretisasi dalam melakukan pendekatannya atau kerja analisisnya terhadap satu karya sastra. Sehingga si penyair merasa puas dng analisis dan kritikanya. Merasa ter’orang’i dan ingin terus berkarya meskipun d bantai berkali2…
Nah, sampai di sini sy mengajak kepada sahabat untuk tetap rajin membaca dan memahami tulisan setiap orang dengan arif dan bijak. Sekecil apapun tulisan tersebut jika sahabat legowo untuk semata memperluas ilmu kita, maka semakin terbuka kesempatan kita meraih ekspetasi dalam pemahaman literatur sebuah karya sastra dan tulis…***
𝐎𝐥𝐞𝐡: 𝐀𝐠𝐚𝐦 𝐏𝐚𝐦𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐬 𝐋𝐮𝐛𝐚𝐡
*Wallahu a’lam bishawab, Semoga Manfaat
*Padepokan Roemah Boemi Pamulang,16 Februari 2021

Opini Anda