Sosial Budaya

Mangore, Tradisi Tana Poso yang Hampir Hilang

POSOLINE.COM- ‘Mosureme ku membangu, noncu mo kudadu, na pokau ine yaku, da ronga ronga membangu’ bait syair lagu lama dari daerah Pamona mengiringi saat digelarnya Tradisi Budaya Mangore (mensyukuri hasil panen padi ladang sambil menikmati beras baru) di Koronjongi Desa Dewua, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso, Sulteng (Selasa 07/07-2020).

Agustin Sigilipu saat prosesi acara Mangore di Desa Dewua

Memang budaya Mangore ini tidak seheboh dengan Padungku, mungkin saja kita pernah melihat atau menyaksikan langsung dalam pegelaran yang dipentaskan prosesi upacara sebelum melakukan diawal panen padi.

Selain pesta adat Perkawinan, Pekasiwia dan tari-tarian seperti moende sering kita melihat langsung, berbeda dengan budaya yang satu ini, hanya kata Mangore yang sering didengar tapi belum pernah melihat bagaimana prosesi dalam mensyukuri awalnya panen padi.

Bupati Poso Darmin Agustinus Sigilipu pada acara Mangore di Desa Dewua

Sementara Pjs, Kades Dewua, Febrianto Saua mengatakan, pelaksanaan tradisi Mangore yang di kemas oleh masyarakat desa Dewua ini mendapat perhatian dan suport, dari Srikandi Pebato, yang juga salah satu anggota DPRD Kabupaten Poso dapil IV, Agustin LN Sigilipu.

“Dan untuk suksesnya acara tersebut, kami juga melibatkan dinas terkait, diantaranya Dinas Pariwisata, Dinas Pertanian dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan,” jelas Febrianto Saua, saat dihubungi Kamis, 09/07-2020

Terpisah, Anleg DPRD Kabupaten Poso dari Partai berlambang Beringin itu, ketika di hubungi mengatakan suport dan kepedulian yang di berikan sebagai bukti kecintaannya terhadap adat istiadat dan budaya.

“Kepedulian dan suport yg saya berikan merupakan kecintaan terhadap adat istiadat dan budaya Tana Poso. Semoga dengan pelaksanaan acara ini dapat lebih menggugah kecintaan masyarakat Poso terhadap adat istiadatnya yang semakin hari semakin terlupakan,” kata Agustin

Semua kata Agustin, sukses acara Mangore yang di gagas oleh ngkai Arnold Pebadja selaku tokoh adat dan pak Febrianto Saua sebagai pjs Kades Dewua.

“Akan mengugah kesadaran masyarakat Kab. Poso dan menjunjung tinggi nilai – nilai adat yang kita miliki,” ungkapnya.

Dirinya juga berharap, kegiatan tidak berakhir sampai disini, tapi perlu diagendakan setiap tahunnya, menjadi muatan lokal. Dengan terlaksana kegiatan Mangore ini agar lebih menggugah kecintaan masyarakat Poso. terhadap adat istiadatnya.

Sederet ungkapan turun temurun yang selalu diingat, kata orang tua kita terdahulu bahkan sampai sekarang. “Orang tua kita selalu mengingatkan, kalau makan jangan disisakan nanti nasinya maraju, meninggalkan kita,” kenang Srikandi Pebato. SON

Opini Anda

Selengkapnya

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!