Dalam ingatan kolektif masyarakat Pamona, buaya bukanlah sekadar predator air yang menakutkan. Lebih dari seabad yang lalu, hubungan antara manusia dan reptil besar ini terjalin dalam ikatan emosional dan spiritual yang sangat dalam. Albert C. Kruyt, seorang misionaris dan etnograf terkemuka, mencatat fenomena unik ini dalam tulisannya yang berjudul “De Krokodil In Het Leven Van de Posoers”.
Pertemuan di Sungai Kodina
Kruyt mengisahkan pengalamannya saat menyusuri Sungai Kodina. Ketika seekor buaya raksasa tiba-tiba muncul di hadapan perahu mereka, ketakutan sempat melanda para penumpang. Namun, reaksi sang kapten perahu sungguh tak terduga bagi mata Barat Kruyt.
Dengan penuh hormat, sang kapten berlutut, meletakkan tangan kanan di pundak kiri, dan berbisik lembut: “Kakek, maaf kalau kami mengganggu tidurmu, mohon pergi dengan tenang.” Tanpa ada kekerasan atau kepanikan, buaya itu berlalu begitu saja, seolah memahami pesan sang kapten. Bagi masyarakat Pamona saat itu, buaya adalah bagian dari tatanan sosial yang harus dihormati.
Keyakinan “Saudara Kembar” Buaya
Salah satu fenomena paling menarik yang dicatat Kruyt (halaman 8) adalah kepercayaan bahwa seorang manusia bisa lahir bersama saudara kembar berupa buaya. Kruyt sendiri mengaku pernah bertemu dengan tiga orang di wilayah Pamona yang meyakini diri mereka memiliki saudara kembar buaya.
Salah satu kisah yang paling menonjol berasal dari Desa Boe, sekitar 4 km dari Pendolo. Seorang kepala desa di sana diyakini lahir bersama seekor buaya kecil.
“Awalnya buaya itu ditaruh di mangkuk kecil, lalu pindah ke palung babi yang diisi air, hingga akhirnya ditaruh di perahu saat ia semakin besar. Ketika sudah tidak tertampung lagi, keluarga melepasnya ke Danau Poso dengan ikatan batin yang tetap terjaga.”
“Boetoe”: Buaya yang Membantu Keluarga
Buaya tersebut, yang sering dipanggil dengan nama Boetoe, membuktikan kasih sayangnya melalui tindakan nyata. Setiap kali keluarga akan mengadakan upacara adat atau pesta kurban, mereka cukup pergi ke tepi danau dan berseru: “Boetoe, besok kita akan mengadakan upacara pengorbanan.”
Keesokan harinya, seolah menjawab panggilan tersebut, seekor rusa atau babi hutan hasil tangkapan Boetoe akan tersedia di pinggir danau untuk diambil oleh keluarganya. Namun, keharmonisan ini mulai memudar seiring masuknya pasukan Belanda yang sering menembaki buaya-buaya di danau, membuat mereka semakin jarang menampakkan diri.
Menelusuri Sosok di Balik Sejarah
Siapakah kepala desa yang dimaksud dalam catatan Kruyt tersebut? Berdasarkan penelusuran data dan konfirmasi dari tokoh masyarakat, Jenly Bonde, besar kemungkinan sosok tersebut adalah Ngkai Njelu Dongalemba.
Silsilahnya cukup jelas:
- Ngkai Njelu Dongalemba awalnya menjabat sebagai Sekretaris Desa Boe mendampingi pamannya, Sira Ngkai Lanti (Tamembue).
- Setelah Ngkai Lanti menjabat sebagai Witi Mokole di Tentena, Ngkai Njelu naik menjadi Kepala Desa Boe.
- Istrinya merupakan sepupu dari istri Ngkai Lanti, yang bernama Nene Meawa Siwasipa (Pomelinja).
Kisah Boetoe dan Ngkai Njelu Dongalemba menjadi pengingat berharga tentang masa lalu Danau Poso, di mana alam dan manusia hidup dalam harmoni yang melampaui logika modern. Sebuah penghormatan terhadap leluhur dan keseimbangan ekosistem yang kini menjadi bagian penting dari sejarah lisan masyarakat Pamona. Tablet
Sumber : facebook Pramaartha Pode

Opini Anda