POSO– Ada yang menarik perhatian dalam gelaran pameran benda-benda bersejarah yang dibawa oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) ke Kabupaten Poso. Dari sekian banyak replika dan artefak zaman Alkitab yang diboyong langsung dari Museum LAI Jakarta, replika dan visualisasi tanaman Mahkota Duri menjadi salah satu objek yang paling memikat rasa ingin tahu pengunjung.
Melalui pendekatan interaktif ini, masyarakat Poso mulai dari tokoh agama hingga mahasiswa STT Tentena, diajak untuk tidak hanya membaca narasi penyaliban di teks Kitab Suci, melainkan memahami langsung konteks botani dan sejarah di balik peristiwa tersebut.
Kehadiran replika Mahkota Duri Yesus menjadi pusat perhatian utama masyarakat dalam pembukaan rangkaian kegiatan Pekan Alkitab Tahun 2026 pada Rabu (21/10/2026) di Aula Sekolah Tinggi Teologi (STT) Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Helat edukatif yang digelar atas kolaborasi LAI dan STT GKST Tentena ini berlangsung selama tiga hari hingga Jumat (23/10/2026) kemarin.
Melalui pameran museum keliling yang memboyong koleksi dari Museum LAI Jakarta ini, para pengunjung mulai dari akademisi, tokoh agama, hingga mahasiswa STT Tentena diajak untuk membedah sejarah dan latar belakang botani di balik mahkota duri tersebut secara mendalam, bukan sekadar membaca narasi teks Kitab Suci.
Paliurus Spina-Christi: Rahasia Botani Duri Tajam Sang Raja
Selama ini, masyarakat umum sering membayangkan mahkota duri terbuat dari semak berduri biasa. Namun, lewat edukasi interaktif yang dihadirkan LAI, para pengunjung diajak mengenal tanaman Paliurus spina-christi (Duri Kristus Yerusalem). Tanaman ini diyakini kuat oleh para ahli botani dan arkeolog sebagai bahan dasar mahkota yang dikenakan kepada Yesus Kristus oleh prajurit Romawi.


Prajurit Romawi memilih tanaman ini bukan tanpa alasan:
- Batang yang Lentur: Batang tanaman Paliurus spina-christi memiliki karakteristik sangat lentur sehingga memudahkan prajurit Romawi menganyamnya menjadi wujud lingkar mahkota.
- Duri yang Kaku dan Tajam: Di balik kelenturan batangnya, tanaman ini menyimpan bahaya nyata karena ditumbuhi duri-duri tajam, kaku, dan kokoh dengan panjang mencapai 5 hingga 10 sentimeter.
Selain Paliurus spina-christi, pameran ini juga mengulas alternatif tanaman lain yang dikaji para ilmuwan, seperti Ziziphus spina-christi (Bidara Arab) serta pelepah pohon kurma (Phoenix dactylifera) yang memiliki duri tajam di bagian pangkalnya.
Memperdalam Pemahaman Iman Lewat Bukti Visual
Kepala Perwakilan LAI Manado, Ansye Wattimury, menjelaskan bahwa penekanan pada wujud fisik mahkota duri ini bertujuan membawa dimensi baru dalam pemahaman Alkitabiah.
“Umat tidak hanya sekadar membaca ayat atau narasi teks mengenai kisah sengsara, tetapi mereka bisa menyaksikan langsung wujud fisik dan karakteristik dari tanaman bersejarah tersebut. Ini memberikan latar belakang sejarah dan budaya yang nyata,” ujar Ansye.
Kehadiran replika mahkota duri ini berhasil mengubah pola belajar Alkitab konvensional di Poso menjadi petualangan visual yang edukatif dan bermakna bagi generasi muda di Bumi Sintuwu Maroso. SON

Opini Anda