MAKASSAR — Prof. Dr. H. Tahir Kasnawi, S.U. kembali dipercaya memimpin Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) Sulawesi Selatan. Ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua KKI Sulsel periode 2026–2031 dalam Musyawarah Daerah (Musda) KKI Sulsel 2026 di Aula Kantor BKKBN Sulsel, Makassar, Sabtu (29/8/2026).
Musda ini dihadiri oleh utusan KKI dari 17 kabupaten/kota, pengurus KKI Sulsel, Koalisi Muda Kependudukan, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, serta berbagai stakeholder terkait.
Ketua Panitia Musda KKI Sulsel 2026, Dr. Nur Riswandy Marsuki, M.Si., menyampaikan bahwa Musda ini merupakan momentum konsolidasi organisasi sekaligus penyusunan arah langkah KKI Sulsel dalam menghadapi dinamika kependudukan lima tahun ke depan.
Rapat Pleno Terpilih Aklamasi
Rapat pleno pemilihan Ketua KKI Sulsel dipimpin oleh Dr. Hj. Nurhayati Azis, S.E., M.Si., dengan didampingi Dr. Hj. St. Syamsudduha, M.Ag. Dalam forum tersebut, seluruh peserta sepakat secara bulat kembali mengamanahkan kepemimpinan KKI Sulsel kepada Prof Tahir Kasnawi.
Selain memilih ketua, peserta Musda memberikan mandat kepada Prof Tahir untuk menyusun tim formatur guna melengkapi struktur kepengurusan KKI Sulsel periode 2026–2031.
Dalam sambutannya, Prof Tahir menegaskan komitmennya untuk menjalankan amanah ini melalui semangat kerja sama dan kolaborasi interdisipliner.
Menurutnya, kepengurusan baru harus bergerak lebih dinamis serta merangkul seluruh elemen yang berfokus pada isu kependudukan.
“Amanah ini akan kami jalankan bersama dengan membangun kolaborasi lintas sektor untuk menggerakkan roda organisasi,” ujar Prof Tahir.
Konsolidasi KKI hingga Tingkat Kabupaten dan Kota
Fokus utama kepengurusan KKI Sulsel periode 2026–2031 setelah pelantikan adalah mempercepat konsolidasi organisasi di tingkat daerah. Pembentukan serta penguatan kepengurusan KKI di 24 kabupaten/kota se-Sulsel menjadi agenda prioritas.
Prof Tahir menjelaskan bahwa keaktifan KKI di tingkat daerah sangat krusial. Hal ini agar program kependudukan yang dirancang dapat menjawab tantangan dan karakteristik spesifik tiap wilayah di Sulawesi Selatan.
Ia juga mengapresiasi kerja keras panitia pelaksana serta dukungan penuh dari seluruh peserta yang menyukseskan gelaran Musda KKI Sulsel 2026.
Mitra Strategis BKKBN dan BPS
Musda KKI Sulsel 2026 dibuka secara resmi oleh Kepala Perwakilan BKKBN Sulawesi Selatan yang diwakili oleh Dr. Irvan Roberto, S.Sos., M.I.Kom. Irvan menekankan pentingnya sinergi erat antara KKI Sulsel, BKKBN, dan Badan Pusat Statistik (BPS).
Sinergi ini dinilai mendesak seiring dengan penyusunan peta jalan (roadmap) kependudukan di berbagai daerah. KKI diharapkan hadir sebagai mitra strategis yang memberikan gagasan saintifik dan keahlian teknis dalam pembuatan kebijakan pembangunan berbasis data kependudukan.
BKKBN juga menyoroti lima program unggulan Kemendukbangga/BKKBN yang membutuhkan peran aktif KKI Sulsel, yaitu:
GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting): Fokus pendampingan gizi keluarga pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak): Layanan pengasuhan anak yang aman bagi orang tua pekerja.
GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia): Penguatan peran dan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.
GENRE & PIK-R: Pembekalan serta pemahaman isu-isu remaja bagi generasi muda.
SIDAYA (Lansia Berdaya): Pemberdayaan kelompok lanjut usia agar tetap aktif dan produktif.
Memperkuat Peran sebagai Think Tank Kependudukan
Ke depan, KKI Sulsel didorong untuk makin mengukuhkan posisinya sebagai think tank (lumbung pikir) dalam pembangunan berwawasan kependudukan. Forum ini menjadi ruang perjumpaan bagi para akademisi, pakar, praktisi, dan aktivis masyarakat.
Peran KKI mencakup riset berbasis data, penyusunan rekomendasi kebijakan, advokasi kependudukan, hingga edukasi publik. Dengan peran ini, KKI tidak sekadar menjadi mitra sosialisasi, tetapi juga memberi masukan kritis terhadap kebijakan pemerintah. Dr. Nur Riswandy Marsuki menambahkan bahwa pelibatan perguruan tinggi dan generasi muda pada Musda kali ini menjadi bukti bahwa isu kependudukan harus diselesaikan secara kolaboratif.
Perguruan tinggi berperan menyediakan kajian ilmiah berbasis data, sementara generasi muda dilibatkan sebagai garda depan yang akan menghadapi langsung dampak perubahan struktur kependudukan di masa depan.**

Opini Anda