Tersembunyi di balik lebatnya kanopi hutan Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, berdiri tegak sebuah keajaiban alam yang memukau. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Watu Mora’a yang dalam bahasa Pamona berarti batu bercabang atau bersusun. Sekilas pandang dari kejauhan, formasi batu ini tampak menyerupai relief megah yang dipahat oleh tangan-tangan alam tak kasat mata.
Namun, pesona keajaiban ini tidak hanya berhenti di rimba daratan. Tabir misteri semakin terkuak tatkala air Danau Poso mengalami surut yang cukup jauh. Sekitar 1 kilometer dari garis pantai saat kondisi air normal, tersingkaplah hamparan batu purba yang terendam di dasar danau. Tekstur, lekukan vertikal, dan formasi tajamnya begitu identik dengan Watu Mora’a di Pamona Selatan.
Pertanyaannya kemudian menyeruak: apakah formasi batu-batu ini memiliki hubungan erat, atau bahkan dulunya merupakan satu kesatuan lanskap sebelum Danau Poso terbentuk ribuan tahun silam?
Menelusuri Jejak Geologi Purba
Secara ilmiah, wilayah Sulawesi Tengah dikenal sebagai kawasan geologi yang sangat dinamik akibat aktivitas tektonik masa lampau. Danau Poso sendiri diyakini terbentuk melalui proses tektonik purba—sebuah amblesan atau patahan muka bumi ribuan tahun lalu yang membentuk cekungan raksasa yang kemudian terisi air.
Melihat kemiripan struktur antara Watu Mora’a di daratan Pamona Selatan dengan batu yang tersingkap saat air danau surut, para pemerhati geologi melihat adanya benang merah pembentukan batuan yang sejenis.
Dahulu kala, sebelum air bening memenuhi lembah tersebut, kawasan ini kemungkinan besar merupakan satu kesatuan tebing atau perbukitan purba yang terpapar proses alam yang sama seperti erosi air, angin, dan tekanan tektonik bumi yang membentuk lekukan vertikal khas.
Saat patahan tektonik melahirkan Danau Poso, sebagian formasi batuan ini ambles dan tenggelam ke dasar air, sementara sebagian lainnya tetap menjulang kokoh di perbukitan daratan. Ketika air danau menyusut, alam seolah sengaja “membuka jendela masa lalu” dan menampilkan kembali kembaran batu yang selama ini tersembunyi di kedalaman.
Antara Mitos dan Pesona Nyata
Bagi masyarakat lokal, Watu Mora’a bukan sekadar fenomena geologi. Keberadaannya diselimuti aura magis dan cerita tutur leluhur yang diwariskan turun-temurun.
Penemuan batu kembarannya di dasar danau saat surut seolah memperkuat legenda bahwa kawasan darat dan perairan Poso dulunya tersambung erat dalam satu peradaban alam yang sama.
Keberadaan batu purba ini baik yang menembus pepohonan hutan Pamona Selatan maupun yang sesekali menyapa dari balik surutnya Danau Poso mengajak kita merenungkan betapa bumi Poso menyimpan memori geologi yang sangat kaya.
Mereka berdiri sebagai saksi bisu perjalanan waktu, menunggu untuk terus dijaga dan diungkap misterinya oleh generasi mendatang.
Simson Towengke

Opini Anda