Menaklukkan Umbi Beracun Ondo Demi Ketahanan Pangan di Pedalaman Morowali Utara
Oleh: Novianto Lamondja
Menjelang musim kemarau yang kian panjang, denyut kehidupan di desa-desa pedalaman pedalaman Wana Mamosalato, Kabupaten Morowali Utara, mulai beradaptasi dengan alam.
Disaat bayang-bayang paceklik dan ancaman kekeringan menghantui, warga di beberapa perkampungan seperti Desa Lijo, Sea, dan sekitarnya tidak tinggal diam. Mereka kembali melirik kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun: mengolah Ondoβatau yang lebih dikenal dalam bahasa Indonesia sebagai Umbi Gadungβsebagai makanan alternatif pengganti nasi.
Namun, mengonsumsi ondo bukanlah perkara mudah. Di balik potensi karbohidratnya yang diandalkan saat musim sulit, umbi ini menyimpan risiko mematikan karena mengandung racun sianida. Butuh kesabaran ekstra dan ritual pengolahan yang panjang serta teliti agar umbi liar ini aman untuk dinikmati di meja makan.
Mega Kapang, seorang warga Desa Lijo yang ditemui di tepian aliran Sungai Bongka, menceritakan bagaimana proses panjang mengubah racun menjadi pangan.
“Umbinya dikupas dulu sampai bersih, diiris tipis-tipis, dimasukkan dalam karung, lalu didiamkan di air yang mengalir selama 3 hari untuk menghilangkan racunnya,” tutur Mega.
Air sungai yang mengalir deras menjadi kunci utama untuk melunturkan kandungan beracun pada irisan umbi tersebut. Perendaman ini bukan tahap akhir; dari awal pembersihan hingga ondo benar-benar steril dan layak dikonsumsi oleh keluarga, dibutuhkan waktu hingga sepekan penuh.
Bagi masyarakat pedalaman Morowali Utara, proses panjang ini adalah simbol ketangguhan hidup. Di tengah tantangan alam dan musim kemarau yang kian tak menentu, kearifan lokal mengolah ondo membuktikan bahwa ketahanan pangan masyarakat adat selalu menemukan jalannya sendiri untuk bertahan.**

Opini Anda