PALU β Puluhan ribu warga dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah memadati Lapangan Imanuel, Kota Palu, pada Jumat (19/6/2026) malam. Massa yang berasal dari Palu, Sigi, Parigi Moutong, Poso, hingga Morowali tersebut berkumpul untuk menggelar doa bersama lintas agama pasca-gempa bermakna 6,7 yang mengguncang wilayah tersebut beberapa hari lalu.
Kegiatan yang mengusung tema βSatu Doa, Satu Hati, dan Satu Aksiβ ini menghadirkan lima perwakilan tokoh agama resmi, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Para tokoh agama tersebut secara bergantian memimpin doa di atas panggung utama untuk memohon pemulihan serta kekuatan bagi para korban terdampak.
Acara ini awalnya diinisiasi oleh Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) Sulawesi Tengah sebagai bagian dari perayaan Paskah berupa konser rohani. Namun, panitia memutuskan untuk mengubah total format acara menjadi aksi solidaritas kemanusiaan inklusif setelah berkolaborasi dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulteng.
“Tidak memungkinkan kita berpesta di tengah masyarakat yang sedang mengalami musibah. Karena itu, kegiatan ini kami ubah menjadi doa bersama. Ini bukan soal seiman atau tidak seiman, tetapi tentang kemanusiaan,” ujar Ketua FKUB Sulawesi Tengah, Prof. Zainal Abidin.
Sebelum malam puncak doa bersama, panitia gabungan dilaporkan telah bergerak ke lapangan untuk menyalurkan logistik darurat ke wilayah terdampak parah, khususnya di wilayah Palolo, Kabupaten Sigi. Bantuan yang disalurkan berupa ribuan dus mi instan dan kebutuhan pokok lainnya. Panitia memastikan distribusi bantuan dilakukan secara inklusif tanpa memandang latar belakang suku, ras, dan agama.
Ketua Panitia Pelaksana, Gerry Liyanto, menjelaskan bahwa keputusan mengubah haluan acara ini diambil secara cepat setelah pihak panitia berdiskusi langsung dengan Gubernur Sulawesi Tengah.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, yang hadir langsung dalam acara tersebut menyampaikan apresiasi atas inisiatif BAMAG dan FKUB. Anwar menceritakan bahwa dirinya langsung membatalkan agenda kenegaraan bersama DPD RI di Jakarta pada 17 Juni lalu demi meninjau langsung tenda pengungsian di Sigi.
Dalam pidatonya, Gubernur juga menyoroti ketangguhan warga di pengungsian dan mengajak seluruh masyarakat untuk terus memperkuat gotong royong, berkaca dari pengalaman mitigasi gempa tahun 2018 silam.
“Kita berdoa bersama agar persatuan kita semakin kuat. Saya melihat masyarakat saling bahu-membahu membantu sesama. Pengalaman gempa tahun 2018 telah mengajarkan kita betapa pentingnya kebersamaan,” kata Anwar Hafid.
Acara doa bersama ini ditutup dengan aksi bergandengan tangan oleh seluruh warga yang hadir sembari menyanyikan lagu nasional “Indonesia Tanah Air Beta” dan lagu “Kita Semua Bersaudara”, diikuti penampilan dari beberapa artis ibu kota yang membawakan lagu bertema perdamaian. SON
Sumber :.Media Alkhairaat.id
Puluhan Ribu Warga Sulteng Melebur dalam Doa Bersama Lintas Agama Pasca-Gempa
Satu Doa, Satu Hati, Satu Aksi

Opini Anda