Tradisi SUNAT Suku Bada Tempo Dulu
𝐎𝐥𝐞𝐡 : 𝐀𝐠𝐚𝐦 𝐏𝐚𝐦𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐬 𝐋𝐮𝐛𝐚𝐡
Sebagian besar masyarakat Poso khususnya suku Bada di Tampo Lore dewasa kini mungkin belum mengetahui bahwasannya ‘sunat’ yang umumnya dilakukan oleh umat Muslim ternyata menjadi tradisi sakral yang wajib bagi suku Bada jaman dahulu. Sunat adalah rangkaian ritual anak-anak To Bada setelah rangkaian proses pendewasaan anak-anak yang disebut dengan ‘motinuwu’i’. Biasanya anak laki-laki To Bada memasuki usia 7 tahun proses sunat ini akan dimulai.
Yuk kita simak ceritanya:
Anak laki-laki biasanya disunat pada saat perayaan besar, seperti nowaha’ tambi “menodai rumah dengan darah”.
Tujuan sunat bagi To Bada adalah untuk mencegah parafimosis dalam hubungan seksual, disamping manfaatnya hasil sperma kaum lelaki kelak akan menghasilkan kesuburan. Ada juga yang berpendapat bahwa orang yang tidak disunat akan diambil jiwa orang yang meninggal dan roh bumi.
Sunat (mohuwai, mohuede) dilakukan dengan sayatan. Anak akan berlutut di atas sehelai kain katun, matanya ditutup dengan kau bana, kain tua yang berharga, lehernya digantung dengan manik-manik. Kemudian dukun akan memasukkan ujung pisau di bawah kulup, setelah menariknya ke depan, lalu memukul kulup dengan palu fuya sehingga terbelah. Namun ada juga yang melakukan dengan cara lain. Seperti, golok ditanam miring di tanah dan kulupnya ditarik ke atas ujung bilahnya. Setelah operasi, sebatang bambu kering dibakar dan lukanya diasapi. Kemudian ditambahkan perasan daun simpuua’, dende-dende atau balimbonga.
Selama lukanya belum sembuh, anak laki-laki itu tidak boleh makan garam atau cabai selama 7 hari. Jika dia melakukannya dia akan merasakan sakit yang menusuk, seolah-olah garam atau merica telah ditaburkan di atas lukanya. Selama sisa hari itu anak laki-laki itu akan berjalan-jalan dengan jubah mandi dan ikat kepala, bersenjatakan pedang dan tombak. Ini disebut ‘mopaelo’ atau ‘mopaka’. Seolah-olah menunjukan jiwa kesatrianya dikemudian hari kelak dan dapat diandalkan menjadi calon pemimpin.
Dan jika dua saudara laki-laki disunat pada saat yang sama, seorang anak laki-laki yang tidak berhubungan dengan mereka harus disunat di antara mereka sehingga jika salah satu jatuh sakit tidak menulari saudaranya (podana mom-beharu hadua).
Demikian tradisi sunat To Bada jaman dahulu sebagaiman yang tulis, Jacob Woensdregt dalam Artikelnya yang berjudul, “Zwangerschap en Geboorte bij de To Bada in Miden Celebes” Koloniaal Tijdscrift, 1930 Vol.6 No.S2
Sumber photo: ilustrasi google
Semoga Manfaat.
HISTORIA Tangsel
Padepokan Roemah Boemi Pamulang
Selasa, 21 November 2023

Opini Anda