Membedah Sejarah Asal Muasal Orang Betawi bagian 3;
Setelah pekerjaan penggalian Sungai Chandrabagha dan Gomati oleh Purnawarman tersebut, maka dilakukanlah upacara besaran (kriyaan). Dan raja menghadiahkan 100 ekor lembu kepada rakyat dan para Brahmana yg telah berjasa membangun Sungai tersebut.
Seperti dikutip dari, Harian Minggu Merdeka, Minggu ke-5, November 1992, dlm acara tersebut ditanamkan pula patung Ganesha dan Dewa Keselamatan ut mencegah bahaya.
Jika demikian kriyaannya, maka timbul pertanyaan.Β Rakyat yg mana disantuni ol sang raja? Bukankah itu menandakan ada komunitas di wilayah tersebut yg disantuni oleh kekuasaan? Komunitas yg bersusah payah bahu membahu bersama kekuasaan demi kesejahteraan bersama?
Bisa dibayangkan betapa banyak tenaga kerja yg dilibatkan dlm proses penggalian sungai tersebut, dan betapa ramainya pesta yg digelar saat itu. Ingat loh, kejadian ini terjadi di abad ke-5. Artinya, jauh sebelum Pajajaran dan Belanda menancapkan kekuasaannya di Batavia di abad ke-12 dan 16.
Komunitas Melayu Jawa atau Sundapura sdh terlebih dahulu mendiami wilayah kekuasaan Purnawarman yg berpusat di pedalaman dan kontrol politiknya ada di tepi Kali Citarum Bekasi. Komunitas ini hidup di pesisir utara dan menempati wilayah yg mereka sebut dengan Kalapa. Sementara Kalapa sendiri adl nama yg paling purba dari kawasan yg dikemudian hari dikenal dengan Jakarta.
Dan seperti kita ketahui juga jika kata ‘kalapa’ berasal dari khasanah Melayu Polinesia yg sering dituturkan orang-orang yang berasal dari timur seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dll, yang jika dituturkan dalam Melayu Austronesia menjadi, ‘nyiur’.
Melacak tahap penggunaan lingua franca di pelabuhan Kalapa cukup relevan untuk memahami karakter kota ini yg sdh belasan abad menjadi bandar raya.
Menurut Prof.Slamet Mulyana, Kerajaan Tarumanegara meredup di abad ke-7 M. Itu menandakan ada tenggang waktu yang cukup lama antara abad ke-7 sampai dengan abad ke-12 masuknya Pajajaran.
Sementara penduduk lokalnya tetap mendiami wilayah mereka meski berganti-ganti rezim kekuasaan dan kepentingan.
Mereka tetap hidup sebagai manusia Melayu Jawa. Seperti yg diungkap pakar bahasa C.D. Grijns yg telah banyak melakukan penelitian tentang bahasa Melayu Betawi, bahwa percakapan di pelabuhan Sunda Kalapa pada abad ke-17 berupa Melayu campuran. Itu berarti ada sebuah komunitas yg terus mempertahankan tradisi lisannya secara turun temurun dan tdk terpengaruh dng bahasa rezim kekuasan.
Bahkan hingga abad modern saat ini bahasa tersebut tetap eksis penggunaanya meski berganti2 rezim kepala daerahnya dng latar belakang suku yg berbeda2. BahkanΒ menjadi ibukota negara sekalipun tdk mempengaruhi penggunaan bahasanya. Tetap saja bahasa Melayu Jawa atau Betawi yg menjadiΒ bahasa penghubung sehari2 masyarakat ibukota…***
Bersambung ke Part.4
Wallahu a’lam bishawab, Semoga Manfaat.
Padepokan Roemah Boemi Pamoelang,11 November 2022

Opini Anda