Pro kontra soal asal muasal orang Betawi telah berlangsung sejak lama. Bahkan hampir selama tiga dasawarsa polemik itu terus berkembang menjadi stigma2 yg absurd. Hal itu dikarenakan kebudayaan Betawi yg mengandung ciri pluralisme sehingga sinkritisme serba sumber adalah keniscayaan.
Sebagian orang beranggapan kelompok etnik Betawi adalah suku bangsa yg tulang belulangnya masih muda dan empuk. Orang Betawi menurut mereka kelompok masyarakat yg baru nongol di planet bumi takala Jan Pieterszon Coen dan Van der Varra mendatangkan budak dari delapan penjuru mata angin, ditambah satu dari negara api oleh Avatar. Lalu dng menggunakan mashab ‘cocokiyah’, lahirlah suku bangsa Betawi yg berasal dari nama Batavia yakni nama leluhur orang Belanda (Batavieren).
Suku bangsa baru ini menurut mereka adl hasil perkawinan silang antara budak2 yg berasal dr pelbagai penjuru Nusantara dan luar negeri sprt Burma, Andaman dan Malabar (India). Para budak2 itu kemudian kawin mawin entah dng siapa lalu lahirlah suku bangsa Betawi. Nah, lo!
Tentu saja pandangan yg keliru ini mesti diluruskan demi kebenaran ilmiah dan fakta sejarah sesungguhnya.
Ada sejumlah alasan yg menyebabkan terjadinya kekeliruan ini. Salah satu di antaranya adl kesalahan para pakar dlm mendefinisikan letak geografis negeri Batavia saat itu. Wilayah budaya orang Betawi diidentikan oleh Study Lance Castle 1967, dng pusat kekuasaan VOC di Kali Besar dan sekitarnya. Sehingga sensus tentang Penduduk Kali Besar dan sekitarnya dianggap merupakan cacah jiwa seluruh orang2 yang bermukim di kawasan yang berbudaya Betawi.
Untuk itu melalui tulisan remeh teme sy ini mencoba ut mengurai sedikit demi sedikit benang kusut ini biar gak jadi kusut kaya bihun sodaranya su’un.
Itulah alasan kenapa sy coba memberanikan diri ut menulis catatan kecil ini meski sy tahu masih banyak terdapat kekurangan di sana sini. Tapi sy yakin hal itu dpt disempurnakan lebih jauh oleh generasi berikutnya yg berminat mempelajari sejarah dng tekun dan bukan dari sisi mistisnya semata.
Kita mulai!
Dalam membahas profil asal muasal orang Betawi ini, sy menggunakan pendekatan holistik. Baik dari segi sejarah, budaya, maupun rumpun bahasanya.
Dari segi sejarahnya. Seperti kita ketahui bersama bahwa sejak abad ke-12 kekuasaan Sunda Pajajaran membangun pelabuhan terbesarnya di daerah Kalapa. Sebuah kawasan yg sebelumnya telah dihuni oleh sekelompok masyarakat pesisir yg disebut dng komunitas Melayu Jawa atau Sundapura.
Sehingga infra struktur bertumbuh kembang dng pesatnya di sana. Mulai dari pasar, kantor2 pengutip cukai, sampai ke tempat2 penimbangan barang didirikan di sini oleh kerajaan Pajajaran yg berpusat di di pedalaman Bogor.
Seiring dng terus berkembangnya arus perniagaan dan meningkatnya perekonomian yg berpusat di wilayah Kalapa, maka Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi selaku penguasa tatar Pasundan saat itu kemudian merasa perlu untuk menjadikan Kalapa sebagai pusat pelabuhan terbesarnya setelah Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk.
Kondisinya berubah menjadi balau kacau, eh kacau balau ketika Sunda Kelapa sedang lucu2nya bermesraan dng Portugis melalui perjanjian kerjasama pada 21 Agustus 1522. Yg mana Portugis berjanji bakal ngebangun loji (perkantoran), dan pemukiman lengkap dng benteng2nya sgala, asalkan Pajajaran mau nuker dng rempah2.
Sepakat! Prabu Surawisesa yg saat itu telah naik tahta menggantikan ayahanda Prabu Siliwangi pun bersedia dan berjanji bakal ngasih setiap tahunnya 1000 karung lada pada Portugis. Apa maksud dari perjanjian ini? Tak lain adl Pajajaran lagi ketar-ketir dng popularitas Demak saat itu.
Mereka khawatir pasukan gabungan Demak dan Cirebon akan menyerbu Sunda Kelapa dan mengambil alih wilayahnya. Walhasil, kejadian. Sunda Kelapa berhasil ditaklukan oleh Demak pada 22 Juni 1527 di bawah pimpinan Fatahillah, lalu merubah namanya menjadi Jayakarta (Kota Kemenangan) yg kemudian ditetapkan sbg hari jadi kota Jakarta skg.
Lantas pegimana hubungannya dng orang Betawi yg abang jadikan judul topik di atas bang? Sabar! Tar juga nyampe ke sana. Yg namanya juga tulisan lepas, bukan desertasi. Kudu pelan2 bacanya dan santai, gak pake baper. Kita tunggu aja sambungannya di Part.2 biar pembaca gak boring dan ngantuk, kei?…**
Bersambung ke Part.2
Wallahu a’lam bishawab. Semoga Manfaat
Padepokan Roemah Boemi Pamoelang, 08 November 2022

Opini Anda