Di balik riak jernih air yang membelah perbukitan Kota Tentena, ada sebuah cerita panjang tentang konsistensi, benturan idealisme, dan jalan sunyi menuju rekonsiliasi lingkungan. Dua puluh satu tahun bukanlah waktu yang singkat bagi PT Poso Energy (PE) untuk bertahan, apalagi untuk terus konsisten membawa misi perubahan bagi bumi di tanah Sintuwu Maroso.
Melalui visual yang dirilis dalam akun facebook CSR, Poso Energy merefleksikan semangat baru di usia mereka yang ke-21. Angka “21” yang didesain apik dengan helai daun hijau dan lekukan menyerupai aliran air, seolah menegaskan identitas mereka saat ini: energi yang lahir dari alam, mengalirkan kehidupan, dan menjaga bumi tetap lestari. Namun, keindahan visual hari ini adalah buah dari perjalanan panjang yang penuh dengan batu terjal.
Kilas Balik Berdiri di Atas Puing Tantangan
Menengok kembali ke belakang, merintis sebuah mega proyek ramah lingkungan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ketika Kalla Group mulai merintis pembangunan fisik Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) ini sekitar tahun 2004β2005, masyarakat Poso sebenarnya tengah berada dalam fase sensitif, menata kembali puing-puing kehidupan pasca-konflik sosial.
Kehadiran investasi raksasa di aliran Sungai Poso dan pendudukan kawasan Air Terjun Sulewana sempat memicu kekhawatiran besar. Gelombang protes datang silih berganti dari tokoh adat, budayawan, pencinta lingkungan, hingga aliansi masyarakat. Isu pencemaran, hilangnya destinasi wisata alam, kejelasan dokumen AMDAL, hingga polemik penataan berkepanjangan terkait pembongkaran Jembatan Pamona (Yondo Pamona) lama sempat menjadi ujian berat yang menguras energi sosial di wilayah tersebut. Ada masa-masa di mana pro dan kontra menjadi konsumsi sehari-hari, menuntut perusahaan untuk tidak sekadar membangun turbin, tetapi juga membangun kepercayaan.
Menjawab Keraguan Melalui Aksi Nyata
Dua puluh satu tahun berjalan, Poso Energy menjawab keraguan tersebut bukan dengan narasi pembelaan diri, melainkan lewat pembuktian di lapangan. Slogan angka 21 “Mengalirkan Energi Bersih, Menguatkan Transisi Energi Berkelanjutan”βmenjadi komitmen hidup yang diwujudkan melalui kerja-kerja berbasis lingkungan dan sosial (CSR).
Untuk meredam laju erosi di zona kritis, Poso Energy bergerak melakukan rehabilitasi hutan dan lahan seluas 131,4 hektare di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Meko, Pamona Barat, dengan menanam sedikitnya 20 ribu pohon durian bersama pemerintah daerah dan komunitas pencinta alam.
Tak hanya di darat, kelestarian ekosistem perairan Danau Poso pun dijaga ketat. Mengandeng para ahli dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Universitas Tadulako, perusahaan secara berkala melakukan pelepasan kembali indukan ikan Sidat atau Sogili (Anguilla marmorata) ke habitat alaminya di muara sungai agar mereka tetap bisa bermigrasi ke laut untuk bereproduksi dan terhindar dari kepunahan. Bahkan hingga ke laut lepas, lewat program CSR-nya, Poso Energy mendukung komunitas lokal melakukan transplantasi terumbu karang di Pantai Madale demi menjaga rantai kehidupan bawah air.
Harmoni Baru di Ujung Turbin
Ketegangan masa lalu kini perlahan melunak menjadi sebuah harmoni. Jembatan Pamona dan Taman Rekreasi generasi kelima yang diresmikan oleh Gubernur Sulteng dan Bupati Poso beberapa waktu lalu kini berdiri megah dan menjadi ikon baru estetika kota Tentena, melengkapi proyek penataan sungai (Poso River Improvement) yang didanai hingga ratusan miliar rupiah.
Hari ini, air yang mengalir dari Danau Poso tidak hanya menghidupi ekosistem di sekitarnya, tetapi juga telah dikonversi menjadi energi bersih tanpa limbah yang menerangi pulau Sulawesi. Melalui PLTA Poso I (120 MW), PLTA Poso IIA (195 MW), dan PLTA Poso IIB (200 MW), jutaan masyarakat dari Palu hingga Sulawesi Selatan kini menikmati pasokan listrik yang andal berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).
Logo angka 21 berdaun hijau adalah sebuah simbol kemenangan bersama. Kemenangan sebuah komitmen yang berhasil melewati badai ujian sosial, membuktikan bahwa industri modern dan kelestarian alam di Poso dapat mengalir bersama dalam satu ritme yang berkelanjutan.** Simson Towengke

Opini Anda