POSO – Pemerintah Kabupaten Poso menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tematik Stunting Tahun 2026 di Aula Bapelitbangda Poso, Kamis (30/4/2026). Dalam forum tersebut, Bupati Poso dr. Verna G.M. Inkiriwang menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting merupakan prioritas utama demi menjamin kualitas SDM masa depan.
“Stunting bukan sekadar masalah fisik, tapi ancaman bagi daya saing daerah. Penanganannya tidak bisa hanya bertumpu pada Dinas Kesehatan, melainkan harus menjadi gerakan bersama lintas sektor,” tegas Bupati Verna saat membuka acara.
Poin Strategis Musrenbang:
- Digitalisasi Data: Bupati menginstruksikan penguatan Web Aksi Bangda sebagai instrumen evaluasi. Admin di tingkat kecamatan, puskesmas, dan PLKB diminta disiplin dalam penginputan data untuk akurasi kebijakan.
- Inovasi Daerah: Pemkab Poso terus mendorong program unggulan seperti “Mosintuwu Mamporewu Balita Stunting” (M2BS) dan “GERTAK PENTING”.
- Tren Penurunan: Data EPPGBM menunjukkan penurunan konsisten prevalensi stunting di Poso, dari 12,38% (2021) menjadi 5,08% (2025).
Meski mencatatkan progres positif, Wakil Bupati Poso, H. Soeharto Kandar, memaparkan bahwa masih ada disparitas antarwilayah. Kecamatan Lore Peore tercatat memiliki prevalensi tertinggi (13,69%), sementara Lore Timur terendah (0,69%).
Selain itu, Pemkab Poso masih memberikan perhatian khusus pada beberapa indikator yang belum mencapai target, seperti akses sanitasi rumah tangga (66,73%) dan skrining anemia remaja putri (31,44%).
Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid ini dihadiri oleh unsur Forkopimda, pimpinan DPRD, serta jajaran kepala perangkat daerah hingga kepala desa se-Kabupaten Poso. Forum ini diharapkan memperkuat konvergensi intervensi dari hulu ke hilir guna mewujudkan generasi Poso yang unggul. **

Opini Anda