PALU – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tengah melaporkan angka inflasi tahunan (year-on-year/yoy) provinsi tersebut pada Maret 2026 sebesar 2,83 persen. Dari empat wilayah pantauan, Kabupaten Banggai (Luwuk) dan Kabupaten Morowali menunjukkan tren yang kontras namun signifikan.
Kepala BPS Sulawesi Tengah, Daryanto, mengungkapkan bahwa Kabupaten Banggai mencatatkan rekor inflasi tahunan tertinggi, sementara Morowali mendominasi pada kenaikan harga bulanan.
Luwuk, Kabupaten Banggai, menjadi wilayah dengan tekanan harga paling kuat secara tahunan. Berdasarkan data BPS, inflasi di Luwuk menembus angka 4,97 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 115,06.
“Inflasi tertinggi terjadi di Luwuk sebesar 4,97 persen. Angka ini dipicu oleh kenaikan harga pada sejumlah komoditas utama seperti emas perhiasan, tarif listrik, beras, serta beberapa jenis ikan seperti cakalang dan lajang,” ujar Daryanto dalam rilis resminya di Palu.
Selain komoditas pangan, biaya pendidikan dan kenaikan harga di kelompok perawatan pribadi memberikan andil besar terhadap melambungnya angka inflasi di wilayah timur Sulawesi Tengah ini.
Di sisi lain, Kabupaten Morowali mencatatkan fenomena yang unik. Meski secara tahunan (yoy) Morowali memiliki inflasi terendah di Sulteng, yakni hanya 1,10 persen, wilayah ini justru mengalami lonjakan harga bulanan (month-to-month) yang paling tajam.
BPS mencatat inflasi bulanan di Morowali pada Maret 2026 mencapai 0,62 persen. Angka ini merupakan yang tertinggi jika dibandingkan dengan Kota Palu, Luwuk, maupun Tolitoli.
“Secara bulanan, Kabupaten Morowali mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,62 persen. Komoditas seperti cabai rawit, telur ayam ras, tomat, dan bensin menjadi pemicu utama kenaikan harga di wilayah tersebut selama bulan Maret,” tambah Daryanto.
Secara umum, inflasi di Sulawesi Tengah dipengaruhi oleh kenaikan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai 13,04 persen, disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 4,36 persen.
Beberapa komoditas pangan seperti telur ayam ras, daging ayam, dan ikan-ikanan juga terus memberikan andil inflasi seiring dengan fluktuasi pasokan di pasar lokal.
Pemerintah daerah melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) diharapkan terus melakukan pemantauan stok, terutama di wilayah dengan IHK tinggi seperti Banggai, guna menjaga daya beli masyarakat tetap stabil.**
Editor: Redaksi Online
Sumber: ANTARA News Sulteng

Opini Anda