POSOLINE.COM- Ini patut di contoh, bagaimana tidak, disaat harga minyak goreng meroket justru pelajar Menengah Atas sederajat melakukan aksi dalam membantu masyarakat setempat, sudah produksi puluhan botol minyak goreng.
Lihat saja para pelajar dari 24 Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Sederajat di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) membuat minyak goreng dari kelapa (honenga), seperti dilansir dari zonasultra.com.
Puluhan SMA itu mewakili pulau Wangiwangi, Kahedupa, Tomia dan Pulau Binongko. Pembuatan minyak kelapa tersebut dipusatkan di SMA Negeri II (SMANDU) Wangiwangi.
Ada 61 tungku yang disiapkan untuk memasak minyak dari 240 buah kelapa, diolah langsung oleh para pelajar melalui pendampingan guru dan kepala sekolah hingga menghasilkan sekira 60 botol lebih minyak goreng beraroma khas.
Kepala SMA Negeri II (SMANDU) Wangiwangi Hasanuddin mengungkapkan, pembuatan minyak kelapa secara tradisional itu merupakan instruksi Dinas Pendidikan (Dikbud) kerja sama dengan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Sultra.
Kemudian Kepala Cabang Dinas (KCD) Kabupaten Wakatobi, Dikbud Provinsi Sultra membagi setiap sekolah dengan rincian setiap tungku memasak 10 buah kelapa. Dalam satu tungku dijaga lima orang siswa.
“SMA Negeri I (SMANSA) Wangiwangi 16 tungku, SMANDU Wangiwangi 13 tungku, SMA Negeri III (SMANTIG) Wangiwangi 3 tungku, SMA Negeri IV (SMAPAT) 3 tungku, SMA Negeri V (SMANLA) 2 tungku, SMA Negeri VI (SMANAM) 3 tungku, dan SMA SMK Negeri I Wangiwangi 3 tungku. Sementara dari SMA/SMK dari Kahedupa, Tomia dan Binongko masing-masing satu tungku, begitu juga Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Wakatobi satu tungku,” ungkapnya saat ditemui di SMANDU Wangiwangi, Kecamatan Wangiwangi Selatan (Wangsel), Sabtu (2/4/2022).
Lebih lanjut kepala sekolah yang akrab disapa Dion Ketre itu menjelaskan, kegiatan tersebut juga untuk menumbuhkan kembali kearifan lokal masyarakat setempat kepada para pelajar dalam hal mengolah minyak goreng secara tradisional.
“Bahwa memang orang tua kita dulu bisa memproduksi minyak goreng secara tradisional. Adanya isu kelangkaan nasional sehingga kita lakukan kegiatan ini. Di samping itu juga kita di Sultra, khususnya di Wakatobi ini isu minyak goreng tidak terlalu berpengaruh, karena daerah kita penghasil kelapa,” terangnya.
Ia menyampaikan, SMANDU bakal mengembangkan terus kegiatan tersebut setiap semester untuk mata pelajaran prakarya. Sehingga mata pelajaran prakarya itu tidak hanya berkonsentrasi ke makanan saja.
“Tetapi juga di hal-hal seperti ini. Kita berharap kegiatan seperti ini berkelanjutan sehingga ada nilai manfaatnya bagi generasi muda kita,” harapnya.
Terpisah, KCD Kabupaten Wakatobi, Dikbud Provinsi Sultra, Masidiy menyebutkan, pihaknya ditunjuk Dikbud Provinsi untuk menyiapkan 60 tungku yang diikuti 24 sekolah.
Lanjut dia, adanya kegiatan seperti itu tentu mengingatkan kembali generasi muda agar jangan terlalu berharap pada teknologi di tengah kelangkaan minyak goreng di Indonesia.
“Sehingga salah satu strategi kita adalah menumbuhkan kembali pembuatan minyak secara tradisional. Diharapkan kepada para Kepala sekolah se-Wakatobi agar setiap kegiatan akhir semester atau di mata pelajaran pra karya diusahakan dengan kegiatan yang semacam ini,” ujarnya. **

Opini Anda