Kolom

Veteran Perang Belanda Yang Mendapat Tempat di Hati Sultan Banten 

𝐎𝐥𝐞𝐡: 𝐀𝐠𝐚𝐦 𝐏𝐚𝐦𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐬 𝐋𝐮𝐛𝐚𝐡  

Jika kita berjalan-jalan ke daerah Banten maka tak lengkap rasanya jika kita tidak mengunjungi salah satu peninggalan sejarah keemasan Kesultan Banten di abad ke 16 yaitu Masjid Banten. Masjid ini dibangun pertama kali oleh Sultan Banten Pertama, Maulana Hasanudin pada tahun 1566 M, sekaligus juga merupakan satu-satunya warisan Kesultanan Banten yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Namun tahu kah kita dibalik keindahan arsistektur bagunan bergaya Jawa, Eropa dan Cina itu ada keterlibatan seorang veteran perang Belanda yang konon dikabarkan telah memeluk ajaran Islam?

Yah, dialah Hendrik Lucasz Cardeel. Sang veteran perang Belanda yg mendapat tempat di hati Sultan Ageng Tirtayasa dan dipercayai Sultan untuk mendesain kembali Menara Masjid Banten.

Menara setinggi 24 meter yang terletak di sebelah timur masjid ini bentuknya segi delapan, pintu masuk melengkung pada bagian atas, konstruksi tangga melingkar seperti spiral, dan kepalanya memiliki dua tingkat. Ini adalah arsitektur khas Belanda. Semula bangunan ini bukanlah menara azan, tetapi menara rambu dan pengintai untuk pelabuhan Banten yang terkenal sibuk saat itu.

Tidak hanya itu saja, Cardeel juga dipercaya untuk membangun Tiamah di sebelah selatan masjid yg difungsikan sebagai bangunan semacam paviliun yang dahulu sering digunakan para Ulama dan Umara Banten untuk berdiskusi masalah-masalah keagamaan.

Lalu bagaimana kisah sehingga Lucasz Cardeel bisa berada dalam pusaran istana Banten?

Semua bermula ketika terjadi Kebakaran Istana Sultan Ageng Tirtayasa di Surosowan pada 1675. Hal ini kemudian membuat dirinya berempati datang untuk membantu Sultan Ageng Tirtayasa di Banten. Cardeel kala itu mengaku sebagai Arsistek yang sedang melarikan diri dari Batavia karena ingin memeluk Islam. Sultan Ageng pun bersimpati kepadanya dan memberikan pekerjaan berupa pemugaran istana.

( Denys Lombard, Nusa Jawa: SIlang Budaya Volume 1 ,1996)

Berita Lainnya   Bagaimana Menjadi Kritikus Sastra dan Karya Tulis Seseorang 

Namun tak ada yg menyangka di balik kemelut  Istana Surosowan mengenai perebutan tahta kerajaan  antara Sultan Ageng dan Putranya Sultan Haji, Cardeel menjadi salah satu aktor di dalamnya. Ia berpihak kepada putra mahkota Sultan Haji yg ingin merebut tahta ayahnya yang dianggap anti compeni. Sultan Haji memanfaatkan Cardeel sebagai mediasi dng VOC untuk membantu upaya perebutan tahta ayahnya. Dan upaya mediasi itu pun berhasil. Sultan Haji yang dibantu penuh oleh VOC berhasil merebut tahta kesultanan Banten dan  menggantikan posisi ayahnya sebagai Sultan Banten.

Dan atas jasa2nya tersebut Sultan Haji memberikan ijin pada Cardeel dan putrinya Christin Helena Cardeel untuk tinggal di istana setelah memeluk Islam.

Hendrik Lucasz Cardeel diberi gelar oleh Sultan Haji sebagai Pangeran Wiraguna dan Christin Helena Cardeel diberi gelar Ratoe Sangkat.

Bahkan dirinya diberi beberapa pekerjaan besar oleh Sultan,(opsigter over de werkwn en het arbeijtsvolck).

Namun lama kelamaan Cardeel mulai tak kerasan berada di Banten. Orang-orang Banten yang mulanya mendukung keberadaan Cardeel, makin hari tak menyukainya karena dianggap banyak mencampuri urusan internal kerajaan. Karena itu, Cardeel kemudian pamit kepada sultan dengan alasan akan kembali ke Belanda agar segera mendapat izin dari Sultan.

Kendati demikian, Cardeel sesungguhnya tak benar-benar pulang ke Belanda. Sebagaimana diungkap Windoro Adi dalam buku Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi (2010),

Cardeel nyatanya memilih menetap di Batavia. Di Batavia, ia menjadi tuan tanah kaya raya. Semasa di Batavia, Cardeel sempat menjadi kepala wilayah (wijkmeester) Blok M.

Ia juga membeli lahan di selatan Batavia dekat Land Tjinere. Dan setelah dirinya meninggal di tahun 1711, lahan tersebut diteruskan oleh putri semata wayangnya Helena sampai ke anak cucunya hingga tahun 1928.

Berita Lainnya   Membedah Sejarah Asal Muasal Orang Betawi (Part.3)

(Algemeen Handelsblad, 28-07-1929).

Nama Pangeran Wiraguna yang disandangnya kemudian diabadikan sebagai nama kawasan perkebunannya yang kemudian hari dikenal oleh masyarakat dengan sebutan, Ragunan.

Rangunan sendiri berasal dari kata Wiraguna, yaitu gelar yang disandang Cardeel yang diperolehnya dari Sultan Banten Abunasar Abdul Qahar atau biasa disebut Sultan Haji,” tulis Rachmat Ruchiat dalam buku Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta (2011).

Wallahu a’lam bishawab. Semoga Manfaat Padepokan Roemah Boemi Pamoelang, 23 Juli 2022

Opini Anda

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!
Close