Kolom

COVID-19 dan Narasi Konspirasi Menurut Pandangan beberapa Ulama

Oleh : Ahmad Rifai (Kader HMI Cabang Poso)

Peserta Advance Training LKIII HMI Badko Riau-Kepri

POSOLINE.COM- Penyebaran informasi menenggelamkan sumber informasi terpercaya yang pada akhirnya membuat publik bingung. Kebingungan publik membuat warga tidak siap untuk menghantam krisis kesehatan masyarakat. Hingga akhirnya menjadikan penyebaran yang lebih besar dan mitigasi penularan virus yang tidak efisien.

Dalam menghadapi pandemi, penting bagi pemerintah untuk menjadi transparan dan menyampaikan informasi yang jelas dan jujur kepada publik. Selain itu, berbahaya untuk politisi untuk mempolitisasi pandemi ini.

Pada saat seperti ini, pesan dari para pemimpin pemerintah perlu konsisten bahwa masyarakat bisa mendapatkan kembali kepercayaan pada pegawai negeri sipil . Perdebatan tentang respon Islam terhadap Covid19 sudah muncul ke permukaan terutama antara Islamis dengan pihak berwenang (Pemerintah).

Di berbagai daerah ada beberapa yang tidak puas dengan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, seperti penutupan masjid dan tempat ibadah lainnya. Tantangan Pemerintah  bertambah besar ketika konspirasi menyebar di media sosial. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa banyak teori konspirasi menyebar di seluruh dunia mengenai asal-usul virus, pengobatan dan prediksi yang akan terjadi dimasa depan.

Media digital telah meningkatkan potensi keragaman suara, otoritas keagamaan yang sebelumnya dilihat sebagai sesuatu yang formal atau berupa kelembagaan berubah menjadi karakteristik yang lebih cair. Kemunculan media baru (new media) sejak dekade 1980an juga mentransformasi wajah otoritas keagamaan di Indonesia.

Fragmentasi dan pluralisasi otoritas agama Islam yang dipicu oleh disrupsi teknologi media baru melahirkan apa yang disebut Anderson (2003) sebagai ‘penerjemah Islam baru’.
Di Indonesia, kelahiran ‘penerjemah Islam baru’ ini dimungkinkan oleh dua faktor struktural yang saling berkaitan, yakni gelombang liberalisasi ekonomi-politik di saat reformasi 1998 yang secara simultan diiringi dengan revolusi teknologi informasi dan komunikasi di akhir tahun 1990an (Slama, 2018). Sehingga otoritas agama seperti ustad dan kiyai memiliki peranan yang signifikan ditengah masyarakat yang religius. Otoritas agama secara aktif merespon situasi pandemi Covid-19 dengan berbagai landasan sumber yang mereka pegang.

Berita Lainnya   124 Tahun Poso Tanpa Identitas

Mengutip dari Weber otoritas muncul dari tradisi sakral, karisma yang dirasakan karena ditanamkan dengan kekuatan ilahi spritual. Dalam otoritas agama dapat didekati sebagai tatanan dan kualitas komunikasi yang dalam era elektronik diturunkan dari media dan dibangun secara dinamis. Jadi otoritas agama dapat dikonstruksikan yang dibentuk dari berbagai perspektif yang mengacu pada serangkaian pemikiran tentang kontrol dan pengaruh yang berkaitan dengan ketuhanan dan ketaatan (Cheong).

Otoritas agama juga didefinisikan sebagai ‘titik referensi’ (point of reference) dan identitas dalam tradisi keagamaan tertentu yang berkembang menjadi sebuah pengetahuan, agama, kepercayaan, dan struktur simbolik yang direpresentasikan dalam pengalaman ritual dan komunitas beragama (Azra, Djik dan Kaptein, 2010). Para otoritas agama seperti ustad dan kiyai memberikan respon secara beragam . Di kalangan pemuka agama, ada yang sangat pro-aktif memitigasi risiko penularan wabah namun ada juga yang tetap menyelenggarakan kajian dengan berkerumun bahkan melakukan disinformasi soal korona.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ust. Zulkifli M.Ali dalam akun youtube Ya ngaji yang piknik pada 27 Maret 2020 bahwa :
1. Covid 19 didatangkan oleh Allah SWT akibat perbuatan manusia
2. Melalui Covid-19 Allah sedang memperlihatkan kekuasaan, kekuatan-Nya kepada para penyombong-penyombong di muka bumi
3.Ketika gereja di Korea Selatan, dari sana sumber penyebaran Covid-19 di Korsel sehingga menjadi penyakit dalam penyebaran virus yang tak terkendali.
4. Mengapa Muslim yang di Cina tidak terkena Covid 19? Sesuai hadis Nabi SAW yang mengatakan bahwa akan keluar cahaya dati tubuh orang-orang yang beriman pada hari kiamat.
5.Ada misi terselubung atau rencana rahasia dari 50 protokoler di illuminati dimana mereka bercitacita kedepan dibawah payung “The New World Order” mengurangi populasi manusia di muka bumi. Yang boleh bertahan hanyalah ras mereka, diluar harus binasa semua Dan semua itu adalah illuminati.

Berita Lainnya   Poso Berbenah : Setelah Parasamya Menanti Adipura

Dan disisi lain juga oleh Gus Najih Maimoen Channel Youtube: Ya ngaji yang piknik pada 27 Maret 2020 bahwa :
1. Covid-19 belum wabah, belum ta’un. Ta’un itu yang mati kalau seribu, dua ribu bahkan sepuluh ribu. Ini rekaya oleh Amerika yang diperintahkan oleh zionis karen zionis bilang di protocol atau apa tahun 2020 ini yang boleh hidup hanya 500 juta, berarti harus dibunuh. Mereka menghancurkan umat Islam, tidak ada shalat jumat berjamaah. Ini penjajahan UNESCO, WHO, PBB, Amerika dan China.
Inilah pernyataan ustad yang tidak sejalan dengan pemerintah yang kemudian dianggap konspirasi. Hal ini bisa terjadi karena pemerintah Indonesia dinilai lamban dalam merespons dan melakukan aksi pencegahan. Otoritas pemerintah juga cenderung meremehkan bahkan bersikap denial terhadap ancaman virus korona yang sudah di depan mata di bulan Januari-Februari.

Misalnya, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, mengatakan tidak perlu takut dengan virus corona karena yakin doa telah membuat Indonesia ‘kebal’ dari virus korona. Pernyataan pejabat pemerintah yang cenderung meremehkan Covid-19 juga nampak dari statemen Wakil Presiden RI, Ma’ruf Amin (26/02/2020),yang mengatakan bahwa para kyai dan ulama membaca do’a qunut untuk menolak bala sehingga corona hilang dari Indonesia.

Terjadinya peningkatan penyebaran konspirasi selama pandemi bukanlah sebuah fenomena baru, terutama di saat krisis. penyebaran tersebut hanya bentuk dari sifat manusia yang rentan terhadap kepercayaan akibat situasi krisis. Mengutip dari Van Prooijen, teori konspirasi adalah bagian dari sifat manusia dan orang-orang telah rentan terhadap kepercayaan seperti ini dalam sepanjang sejarah. Kemudian faktor yang memprediksi keyakinan tersebut adalah situasi krisis.

Teori konspirasi juga erat kaitannya dengan pemikiran dan perasaan subyektif yang dimiliki orang ketika dihadapkan dengan situasi krisis seperti pandemi saat ini. Sehingga orang yang menyebarkan teori konspirasi bisa jadi ungkapan perasaan akan kekecewaan terhadap peraturan yang dibuat oleh pihak berwenang. Teori konspirasi juga ditemukan lebih mungkin terjadi pada orang yang cenderung tidak berpikir analitis.

Opini Anda

Selengkapnya

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!
Close