Kolom

Membangun Kehidupanku yang Harmoni dengan Pendekatan Islam dan Pancasila

Oleh : Ahmad Rifai

Oleh : Ahmad Rifai (Kader HMI Cabang Poso)

Peserta Advance Training LKIII Badko Riau-Kepri

POSOLINE.COM- Gelombang reformasi yang dimulai awal tahun 1998 berhasil mengubah wajah perpolitikan Indonesia secara signifikan. Semangat demokratisasi telah mendorong kekuatan-kekuatan politik massa untuk mengartikulasikan cita-cita politiknya secara bebas yang sebelumnya seolah-oleh terpendam oleh segala otoritarianisme kekuasaan yang diperankan oleh Orde Baru.

Secara singkat dapat dijelaskan bahwa nilai-nilai Pancasila; ke-Tuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sejatinya adalah nilai-nilai universal yang luhur, yang telah digali oleh pendiri bangsa Indonesia secara brilian. Semangat dari nilai-nilai Pancasila tersebut adalah sangat sesuai dengan nilai-nilai Islam. Penegasan tersebut berdasarkan pemikiran bahwa yang dimaksud adalah nilai-nilai Pancasila bersesuaian dengan Islam tanpa harus menjadikan Indonesia sebagai negara Islam secara formal.

Pemikiran ini pula sangat menganjurkan bahwa nilai-nilai Islam dapat tumbuh dan berkembang pada sebuah negara yang tidak menegaskan sebagai negara yang berafesiliasi pada Islam.

Logika ini dibangun berdasarkan fakta historis dimana ijma’ founding fathers bangsa ini bersepakat bahwa Indonesia tidaklah dibangun sebagai negara Islam, dan itu berarti jika masih ada yang mencoba untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, maka dapat dianggap sebagai pengingkaran bahkan pengkhianatan terhadap cita-cita tersebut. Selain itu, jika dilihat dari aspek sosiologis, psikologis dimana Indonesia tidak hanya dihuni oleh orang Islam tetapi juga oleh penganut agama-agama lain yang notabene turut pula berjuang dalam meraih kemerdekaan, maka sama artinya menafikan eksistensi penganut agama lain tersebut yang dalam Islam kelompok penganut agama lain tersebut disebut sebagai ahl al-Kitab dimana eksitensinya sangat dihargai oleh Islam.

Jika sejenak merenungkan bagaimana suasana perumusan Pancasila pertamakali, dapat dibayangkan betapa para “orang tua kita” telah bersusah payah mencurahkan segenap pikiran mereka dalam rangka memikirkan nasib dan perjalanan bangsa ini dan tentu saja nasib anak cucu mereka yang terdiri dari berbagai macam suku, bahasa dan agama, agar dapat mengisi kemerdekaan bangsa secara demokratis dan egaliter.

Berita Lainnya   Rambu-rambu Pasangan Calon Perseorangan Kepala Daerah

Sukarno sebagai salah satu perumus Pancasila mengungkapkan peristiwa disaat ia harus bertafakur dan memohon kepada Allah SWT agar diberikan petunjuk untuk merumuskan dasar negara Indonesia yang representatif dan aspiratif, sehingga dapat diterima oleh semua golongan yang ada. Dalam buku yang dikarang oleh Yudi Latif diceritakan “ditengah malam yang sunyi, Sukarno keluar rumah dan dengan kerendahan hati memohon kepada Allah agar diberikan jalan keluar guna memberikan jawaban terhadap apa yang ditanyakan oleh ketua BPUPKI tentang dasar negara yang tepat bagi negara Indonesia.

Walaupun pada awalnya terjadi perdebatan hebat tentang landasan dasar yang akan dijadikan pijakan bagi Republik Indonesia. Nasionalis muslim atau setidaknya yang secara Islami mengilhami orang-orang nasionalis, menginginkan Indonesia yang merdeka berlandaskan Islam, dan itu berarti mengimplikasikan berdirinya negara Islam Indonesia (Islamic State of Indonesia).

Nasionalis sekuler itu juga mengingatkan bahwa menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara Islam sama saja dengan merendahkan, secara tidak adil penganut agama lain kedalam warga negara kelas dua. Kelompok ini menghendaki yang dijadikan dasar negara Indonesia adalah Pancasila. Setelah melalui diskusi dan perdebatan yang panjang, maka Pancasila yang diterima oleh semua pihak ketika itu untuk dijadikan sebagai dasar negara Indonesia dan sebagai kontrak sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pilihan founding fathers tersebut tegas Nurcholish Madjid, bisa dikatakan cukup tepat, untuk tidak mengatakan mutlak adanya. Apa yang terjadi seandainya negara ini dimerdekakan dengan bentuk negara agama atau negara sekuler.
Jika semua hal tersebut disadari dan diimplementasikan secara konsisten oleh setiap komponen bangsa, jargon Pancasila sebagai common platform, titik temu, dan kontrak sosial atau bahkan belakangan disebut civil religion bagi masyarakat Indonesia sangatlah tepat, karena akan melahirkan manusia baru Indonesia yang menyadari keberagaman identitas dan kekayaan budaya sebagai sesuatu yang harus dipelihara dan dirawat tanpa harus membenturkannya satu sama lain dengan visi mengkaitkan segala keragaman serta menerobos batas-batas sentimen etno-religius. Hal lain yang perlu diingat, bangsa Indonesia mempunyai harapan yang begitu besar dan mulia, karena di samping merdeka bangsa ini juga berharap akan bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Berita Lainnya   Melawan Lupa, Tragedi Berdarah Kilometer 22 Pandiri 10 Desember 1960

Untuk mewujudkan harapan tersebut, rakyat Indonesia harus menyadari bahwa kebersamaan dan ke bersatupaduan tanpa melihat latar belakang suku, agama, budaya dan lain-lain merupakan modal utama untuk mengisi, memaknai dan meneruskan perjuangan para pendiri bangsa yang telah berkorban untuk kemerdekaan anak cucu mereka, sesuai dengan motto dalam cengkraman kaki burung Garuda “Bhinneka Tunggal Ika”; meskipun berbeda tetap bersatu, dengan begitu kita akan dapat membangun harmonisasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Ingat Pancasila adalah benda mati, yang menghidupkannya adalah seluruh elemen bangsa Indonesia sendiri, dengan begitu kompatibilitas dan kebernasannya akan semakin terasa. ***

Opini Anda

Selengkapnya

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!
Close