Kolom

Apakah Indonesia Siap menyambut MEA?

Oleh: Ahmad Rifai

Oleh : Ahmad Rifai (Badko Sulawesi NOTengah)

Peserta Advance Training (LKIII)
Badko HMI Riau-Kepri

POSOLINE.COM – Masyarakat Ekonomi ASEAN atau yang biasa disingkat menjadi MEA secara singkatnya bisa diartikan sebagai bentuk integrasi ekonomi ASEAN yang artinya semua negara-negara yang berada dikawasan Asia Tenggara (ASEAN) menerapkan sistem perdagangan bebas.

Indonesia dan seluruh negara-negara ASEAN telah menyepakati perjanjian MEA tersebut atau yang dalam bahasa Inggrisnya adalah ASEAN Economy Community (AEC).

Tahun 2016 adalah tahun di mana kebijakan MEA mulai diterapkan oleh pemerintah negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia yang menjadi bagian dalam MEA. Artinya, tenaga kerja asing akan berseliweran di negara ini. Begitu pula sebaliknya, pekerja Indonesia pun akan tersebar di beberapa negara ASEAN.

MEA adalah sebuah pasar tunggal yang disetujui oleh negara-negara di ASEAN pada dekade lalu. MEA sendiri adalah singkatan dari Masyarakat Ekonomi ASEAN. Dalam istilah asing, MEA disebut sebagai ASEAN Economics Community.
MEA dilakukan agar daya saing ASEAN meningkat serta bisa menyaingi Tiongkok dan India untuk menarik investasi asing.

Penanaman modal asing di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan bagi penduduk di negara-negara ASEAN.
Saya melihat bahwa industri nasional belum siap menghadapi MEA.

Mendengar lansiran Kementerian Perindustrian bahwa, hanya 31% industri manufaktur yang punya kemampuan daya saing di pasar ASEAN. Sisanya 69% industri lainnya masih megap-megap bertarung di pasar bebas, ini saya jadikan patokan mengapa indonesia saya katakan belum mampu menghadapi MEA.

Tentu sebuah tantangan yang kita hadapi saat ini pasti mempunyai celah untuk melahirkan solusi dan ide-ide menarik. Ada strategi yang perlu diterapkan oleh Indonesia dalam menghadapi MEA. Pertama, strategi ofensif, yakni strategi menyerang guna memperluas pasar industri ke luar negeri.

Berita Lainnya   Rambu-rambu Pasangan Calon Perseorangan Kepala Daerah

Strategi ini berlaku bagi 31% produk industri nasional yang memiliki daya saing di pasar ASEAN. Sektor industri ini antara lain industri karet, tekstil, makanan dan minuman serta otomotif. “Industri yang kami jagokan untuk ekspansi dan bisa merebut pasar luar negeri. Kedua, strategi defensif, strategi mempertahankan pasar industri dalam negeri. Strategi ini berlaku bagi 69% industri yang kesulitan bersaing dengan produk ASEAN.

Masyarakat Ekonomi ASEAN tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya. Oleh karena itu, MEA secara langsung akan memengaruhi kualitas tenaga ahli di Indonesia.

Tentu juga dengan banyaknya tantangan yang dihadapi saya pikir bahwa harusnya Indonesia lebih memproritaskan kualitas SDM untuk menyambut MEA dan meningkatkan produksi dalam negeri.

Opini Anda

Selengkapnya

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!
Close