POSO– Perubahan zaman merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari oleh masyarakat modern saat ini. Derasnya arus globalisasi yang berkelindan erat dengan lompatan teknologi digital terbukti telah merombak hampir seluruh tatanan kehidupan manusia secara fundamental, baik di wilayah perkotaan hingga ke pelosok daerah.
Kehadiran gawai dalam genggaman, penetrasi internet tanpa batas, hingga lahirnya sistem kerja baru berbasis digital di satu sisi menawarkan berbagai kemudahan efisiensi. Namun, di sisi lain fenomena ini juga membawa tantangan yang sangat serius terhadap eksistensi budaya lokal, identitas sosial, serta keharmonisan hidup bersama dalam ruang publik.
Untuk membaca, memahami, sekaligus memetakan arah perubahan sosial yang bergerak begitu cepat ini, kehadiran sebuah literatur yang komprehensif menjadi sangat relevan. Buku baru berjudul “Sosiologi Kontemporer: Globalisasi, Teknologi, dan Identitas Sosial” hadir sebagai panduan teoretis sekaligus praktis dalam membedah berbagai fenomena kontemporer tersebut secara jernih, tajam, dan berimbang.
Identitas Buku:
- Judul Buku: Sosiologi Kontemporer: Globalisasi, Teknologi, dan Identitas Sosial
- Penulis: Dr. I Ketut Yakobus, S.Th, M.Si., dkk. (Kolaborasi 10 Akademisi)
- Editor: Dr. Hj. Chuduriah Sahabuddin, M.Si. & Dr. Rudi Hardi, M.Si.
- Penerbit: Eureka Media Aksara, Makassar
- Tebal Buku: XVI + 411 Halaman
- Tahun Terbit: Mei 2026
- ISBN: 978-634-271-895-7
Kehidupan global hari ini digambarkan sebagai sebuah dunia yang tidak lagi sekadar berputar pada porosnya, melainkan bergerak horizontal secara melesat. Fenomena riil memperlihatkan bagaimana seorang pekerja lepas (freelancer) di pelosok desa kini dapat bekerja langsung untuk perusahaan teknologi di Silicon Valley melalui skema gig economy. Namun pada malam harinya, masyarakat disuguhi perang narasi penuh emosi di media sosial yang mampu mengubah konstelasi politik nasional dalam sekejap.
Dunia kontemporer menjadi ruang yang cair, ringkih, sekaligus saling bertautan. Di tengah bisingnya transformasi digital dan tarikan arus globalisasi inilah, buku kolaboratif yang ditulis oleh sepuluh akademisi lintas disiplin ilmu dan perguruan tinggi ini hadir sebagai sebuah “kompas” jernih. Para penulis mencoba memotret, membedah, dan mendefinisikan ulang cara kita melihat diri sendiri di tengah masyarakat yang terus berubah.
Dari Menara Teori ke Realitas Empiris
Kekuatan utama dari buku setebal 411 halaman ini terletak pada keberaniannya menjembatani teori-teori sosiologi mutakhir dengan fenomena riil yang sedang hangat terjadi di tengah masyarakat. Buku ini berhasil menghindar dari jebakan teks akademis yang kering dan berjarak di dalam menara gading. Melalui struktur sepuluh bab yang tertata apik, pembaca diajak bertualang melintasi berbagai lanskap sosial kontemporer.
Pada bagian awal, Dr. I Ketut Yakobus membangun fondasi yang kokoh mengenai apa dan bagaimana sosiologi kontemporer bekerja merespons isu lokal dan global. Estafet pembahasan kemudian dilanjutkan secara tangkas oleh Dr. Muhammad Yahya yang membedah transformasi sosial akibat globalisasi ekonomi dan budaya, lengkap dengan studi kasus komparatif yang kontras antara Asia Tenggara dan Eropa.
Menariknya, buku ini memberikan porsi khusus pada aspek lokalitas yang selama ini sering luput dari radar sosiologi arus utama. Dr. Ahdan, misalnya, secara jeli menghadirkan analisis sosiologi komunikasi pada masyarakat maritim dan pesisir. Di tengah dorongan modernisasi, bab tersebut memotret bagaimana masyarakat bahari mempertahankan ruang hidup dan cara berkomunikasi mereka, sehingga menjadi oase lokalitas yang sangat menyegarkan dalam karya ini.
Ironi Digital dan Identitas Generasi Z
Dua isu yang paling menyita perhatian dalam buku ini adalah pembahasan mengenai identitas baru dan cengkeraman kapitalisme digital. Prof. Andi Tenri Machmud secara spesifik menyoroti bagaimana Generasi Z membentuk, merombak, dan menegosiasikan identitas sosial mereka di ruang publik yang kini telah bergeser ke ranah digital. Identitas tak lagi tunggal; ia menjadi cair, hibrida, dan terkadang rentan konflik—sebuah isu multikulturalisme yang kemudian dibedah secara mendalam oleh Dr. Sudirman pada bab berikutnya.
Namun, ruang digital ditegaskan tidaklah netral. Nikolaus Beni, S.Sos, M.I.Kom secara tajam membongkar sisi kelam dari apa yang disebut sebagai kapitalisme digital. Melalui fenomena “Uberisasi” dan gig economy, teknologi yang awalnya digadang-gadang membebaskan manusia, justru kerap melahirkan bentuk eksploitasi baru dan mempertegas sekat kelas pekerja modern di era digital.
Anatomi digital ini semakin lengkap ketika Assoc. Prof. Abdul Malik Iskandar mengulas sosiologi emosi—bagaimana algoritma media sosial mampu memanipulasi emosi kolektif, memicu ujaran kebencian (hate speech), hingga menggerakkan radikalisasi. Media kini bukan lagi sekadar penyampai pesan, melainkan agen perubahan yang, meminjam analisis Prof. Muh Yunus di Bab 8, memiliki kuasa penuh dalam melakukan pembingkaian (framing) dan agenda-setting ingatan publik.
Memperluas Cakupan: Ekologi dan Manajemen
Tidak berhenti pada isu layar gawai dan identitas semata, buku ini memperluas cakrawala sosiologinya pada isu eksistensial kemanusiaan yang sangat krusial, yaitu krisis iklim. Dr. Arda mengaitkan perubahan iklim dengan ketimpangan sosial dan keadilan ekologis, memberikan pengingat kuat bahwa bencana lingkungan selalu memukul kelompok masyarakat miskin dan rentan terlebih dahulu.
Sebagai penutup, Dr. Kristian H.P. Lambe membawa sosiologi masuk ke ruang-ruang korporasi dan organisasi melalui sosiologi manajemen. Bab ini memperlihatkan secara gamblang bagaimana struktur kekuasaan bekerja dalam pengambilan keputusan manajerial di tengah era transformasi digital yang masif.
Sebagai sebuah karya kompilasi, buku yang diedit oleh Dr. Hj. Chuduriah Sahabuddin dan Dr. Rudi Hardi ini berhasil mempertahankan konsistensi mutu akademis di setiap babnya. Latar belakang penulis yang beragam justru memperkaya diskursus, membuat buku ini kaya akan perspektif teoretis namun tetap inklusif.
Secara keseluruhan, Sosiologi Kontemporer: Globalisasi, Teknologi, dan Identitas Sosial bukan sekadar bacaan wajib bagi mahasiswa atau peneliti ilmu sosial. Buku ini adalah cermin bagi siapa saja—warga negara, praktisi, maupun pembuat kebijakan—yang ingin memahami mengapa masyarakat kita hari ini bergerak dengan cara yang demikian rumit. Buku ini sukses mengingatkan kita: di tengah gempuran teknologi dan globalisasi yang impersonal, kemanusiaan yang inklusif harus tetap menjadi jangkar utama kehidupan bermasyarakat. SON

Opini Anda