SIGI β Ketika kebanyakan anak seusianya masih terlelap dalam mimpi, Farel (7), siswa kelas 1 SDN Soulowe di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, justru sedang bersiap memulai petualangannya mencari ilmu.
Selama enam bulan terakhir, Farel telah menuliskan definisinya sendiri tentang kedisiplinan: ia rutin berangkat sekolah antara pukul 02.00 hingga 03.00 dini hari, tiba di gerbang sekolah saat gelap pekat dan dingin masih menusuk. Kisah bocah yang dijuluki “Pahlawan Pagi Buta” ini pun kini viral, menyentuh hati banyak orang tentang arti sebenarnya dari semangat belajar.
Jika ada perlombaan siapa yang tiba di sekolah paling pagi, Farel, siswa kelas 1 SDN Soulowe, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, mungkin akan memenangkan gelar juara abadi. Bukan karena takut terlambat, tetapi karena sebuah semangat yang luar biasa, Farel telah menjadi sorotan publik setelah videonya viral, menunjukkan kedisiplinannya yang melampaui batas anak seusianya.
Matahari bahkan belum menunjukkan sinarnya, dan langit masih diselimuti kegelapan pekat, namun Farel sudah siap dengan seragam sekolahnya.
“Ponakan saya sudah sekitar enam bulan melakukan aktivitas ini,” ungkap sang paman dalam video yang diunggah oleh akun Facebook Zain Alex. “Sampai mamanya kelelahan setiap hari untuk mengantarnya, makanya saya menggantikannya.”
Aktivitas tak biasa ini membuat Farel, yang tinggal di Desa Soulowe, Kecamatan Dolo Induk, sudah bergegas menuju sekolahnya antara pukul 02.00 hingga 03.00 dini hari. Sebuah waktu di mana sebagian besar orang masih terlelap.
Farel, yang kini menjadi ikon kedisiplinan, diketahui hampir setiap hari berangkat sekolah tanpa gentar, seolah tak peduli dengan dinginnya udara subuh atau hujan yang mungkin turun.
Setelah videonya menyebar luas, Farel menuai banyak pujian dari warganet yang takjub sekaligus terharu melihat tekadnya. Kisah Farel bukan hanya sekadar tentang tiba di sekolah paling cepat, tetapi melambangkan hasrat kuat seorang anak untuk menuntut ilmu.
βIni ciri-ciri anak yang ingin sukses. Senang sekali dia ke sekolah, bukan karena takut terlambat, tapi malu jika terlambat,” tulis salah satu netizen. “Sehat selalu Nak Farel,β tambahnya, bahkan mengusulkan agar Farel diberi penghargaan atas kedisiplinannya yang tak tertandingi.
Kisah Farel di Sigi ini membuktikan bahwa semangat dan tekad baja untuk bersekolah tidak mengenal usia, cuaca, apalagi waktu. Ia adalah pengingat bagi kita semua, bahwa pendidikan adalah cahaya yang patut dikejar, bahkan sejak dini hari.**
Foto : Zain Alex

Opini Anda