Di bawah langit Tentena yang khidmat pada Jumat, 20 Februari 2026, sebuah perjalanan panjang selama 104 tahun akhirnya mencapai garis finis. Tomakaka Tampa’i, sosok yang lahir di Lembobelala saat zaman kolonial masih mencengkeram bumi pertiwi (12 November 1921), kini telah berpulang menuju keabadian.
Kepergiannya bukan sekadar kehilangan bagi keluarga, melainkan redupnya satu cahaya kearifan bagi masyarakat Pamona dan suku Mori.
Antara Bedil dan Iman
Bagi negara, beliau adalah seorang pejuang. Hal ini dibuktikan dengan penghormatan terakhir melalui upacara pemakaman militer yang dipimpin langsung oleh Danramil 1307-02 Pamona Puselemba, Kapten Inf. Djoni Palandi. Sebagai seorang veteran, disiplin dan keteguhan hati adalah nafasnya.
Namun di mata tetangga dan jemaat, ia adalah “Opa Tampa’i”—sosok yang merakyat, rendah hati, dan begitu taat beribadah. Ia membuktikan bahwa ketegasan seorang prajurit bisa bersanding lembut dengan kesalehan seorang hamba Tuhan.
Warisan Sepuluh Sarjana
Kesuksesan sejati Opa Tampa’i tidak diukur dari harta benda, melainkan dari keberhasilannya mendidik 10 orang anak. Di masa yang penuh tantangan, ia mampu memastikan seluruh buah hatinya mengenyam pendidikan hingga menyandang gelar sarjana.
Bagi Eva Christina Tampai, anak ketujuh almarhum, warisan terbesar sang ayah adalah sebuah pesan Alkitabiah yang selalu terngiang:
“Hormatilah ayah dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu.”
Nasihat ini bukan sekadar kata-kata, melainkan prinsip hidup yang ia contohkan hingga ia sendiri dianugerahi umur panjang melewati satu abad.
Montombori: Penghormatan Terakhir Sang Raja
Sebagai keturunan bangsawan, pemakaman Opa Tampa’i diselenggarakan dengan ritual Adat Montombori khas suku Mori, Morowali Utara. Tradisi ini menunjukkan betapa tingginya derajat almarhum di mata adat.
Suasana berkabung berubah menjadi sakral saat seluruh anak, cucu, hingga cicit mengenakan “pakaian pertarungan” dengan ikat kepala kain hitam (pobololi). Ini adalah simbol duka sekaligus kesetiaan. Selama 40 hari ke depan, tawa lebar akan diredam dan pesta akan dijauhi sebagai bentuk laku prihatin.
Ikat kepala hitam itu barulah akan dilepas dan diantarkan ke makam sang ayah setelah masa berkabung usai—sebuah janji tak tertulis bahwa kehormatan orang tua akan selalu dijaga oleh keturunannya.
Selamat Jalan, Tomakaka Tampa’i. Tentena kini menjadi saksi bisu kembalinya seorang pejuang, pendidik, dan penjaga adat ke pangkuan Sang Pencipta. Meski raga telah menyatu dengan tanah, nilai-nilai yang ia tanamkan akan tetap hidup dalam langkah kaki sepuluh anak dan seluruh keturunannya. (Simson Towengke)

Opini Anda