POSO– Sejarah komunikasi publik di Sulawesi Tengah (Sulteng) pada masa awal kemerdekaan kembali diulas dengan adanya Kartu Pos kuno yang diklaim sebagai salah satu Kartu Pos pertama yang beredar luas di Sulteng. Kartu Pos ini terkait erat dengan sosok Darius Raupa, Wedana DPB pada Residen Koordinator Sulawesi Tengah di Palu, sekaligus tokoh penting Gerakan Pemuda Sulawesi Tengah (GPST) dan Koordinator GPM di Alor, NTT.
Klaim ini dilontarkan oleh pihak keluarga yang menyimpan Kartu Pos dan arsip bersejarah milik Darius Raupa.
“Hingga saat ini belum terdeteksi Kartu Pos pertama di Sulawesi Tengah. Kami mengklaim bahwa gambar Kartu Pos milik Darius Raupa beredar luas di Sulawesi Tengah pada saat itu. Beberapa keluarga dan sahabat Darius memberi tahu bahwa foto ‘Opa’ (Darius Raupa) ada sama kami simpan,” ujar salah seorang perwakilan keluarga.
Potret Pejabat dan Pesan Emosional
Kartu Pos yang menjadi fokus klaim tersebut unik karena memuat dua elemen bersejarah dalam satu kesatuan:
Sisi Foto: Menampilkan foto Darius Raupa yang menggunakan kacamata dan dasi, dengan keterangan resmi jabatan: “WEDANA DPB PADA RESIDEN KOORDINATOR SULAWESI TENGAH – PALU.”


Sisi Kartu Pos: Memuat tulisan tangan yang mencatat pengabdiannya kepada rakyat Alor/Pantar, yang merupakan wilayah penugasan sosialnya dari pemerintah pusat (sebagai pembuka sekolah dan Koordinator GPM).
Pesan tersebut berbunyi:
“Hormat pengabdiianku, untuk se- luruh Rakjat ALOR/PANTAR/ KEDANG/ADONARA dan budi djasa tetap kukenang. Semo- ga Allah pertemukan kita kelak.”


Pesan ini diyakini menyebar bersama foto Darius Raupa, menunjukkan ikatan emosional dan dedikasi seorang pejabat yang ditugaskan ke daerah lain, sekaligus menjadi bentuk komunikasi massal non-resmi yang paling awal di kalangan tokoh-tokoh Poso dan Sulawesi Tengah pada era 1950-an.
Menguatkan Sejarah Lokal Poso dan Palu
Penemuan dan klaim ini tidak hanya menambah dimensi baru pada sejarah komunikasi di Sulawesi Tengah, tetapi juga memperkuat profil Darius Raupa, seorang putra Poso yang diakui sebagai salah satu pendiri GPST dan ditugaskan untuk menggerakkan pembangunan di Indonesia Timur.
Jika Kartu Pos ini terbukti menjadi bentuk publikasi atau surat gambar resmi pertama yang beredar luas di kalangan masyarakat dan pejabat Sulteng, arsip ini akan menjadi tonggak sejarah yang tak ternilai.
Keluarga berharap agar arsip-arsip bersejarah seperti ini dapat dicatat dan dipelihara, sebagai warisan yang menggambarkan kontribusi totalitas tokoh daerah dalam membangun Indonesia, mulai dari Sulteng hingga NTT. SON

Opini Anda