Nama Mr. Darius Raupa, tokoh Gerakan Pemuda Sulawesi Tengah (GPST) yang tragis dieksekusi pada peristiwa berdarah KM 22 Pandiri di Poso tahun 1960, bukan hanya dikenang sebagai seorang pejuang dan tokoh pergerakan. Di balik peran sentralnya dalam sejarah Sulawesi Tengah, tersimpan kisah asmara yang melintasi pulau dan menyatukan dua wilayah: Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kisah ini berpusat pada perkawinan kedua Mr. Darius Raupa dengan seorang perempuan yang memiliki darah bangsawan dari wilayah timur Indonesia, Yuliana Sarimata Blegur. Ia diidentifikasi sebagai Putri Bangsawan Alor, NTT.
Misi Pendidikan yang Menemukan Jodoh
Pertemuan antara Mr. Darius Raupa dan Yuliana Sarimata Blegur diduga kuat berawal dari penugasan yang diemban Darius. Sebelum dikenal sebagai Asisten Wedana di Luwuk dan koordinator GPST wilayah Jawa Timur, Mr. Darius Raupa adalah seorang pemuda terpelajar dari Poso.
Gelar ‘Mr.’ (singkatan dari Meester in de Rechten yang setara Sarjana Hukum) ditemukan dalam salah satu dokumen surat resmi dari Kantor Sosial RI tahun 1957 yang berkaitan dengannya, menunjukkan latar belakang pendidikannya yang tinggi di bidang Hukum, (dokumennya masih tersimpan).
Berdasarkan catatan riwayat hidupnya, Mr. Darius Raupa pernah mengemban tugas dari Pemerintah Pusat di Jakarta untuk membantu membuka sekolah di wilayah Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Pulau Pantar, Alor (SD Langgadopi).
Misi pengabdian di tanah Alor inilah yang menjadi jembatan takdir bagi Darius Raupa. Di tengah kesibukannya merintis pendidikan, ia menjalin hubungan dengan Yuliana Sarimata Blegur, seorang putri dari kalangan bangsawan setempat. Pernikahan ini, yang tercatat dilangsungkan pada 23 Desember 1955 di Pantar, Alor, menjadi simbol persatuan dua tokoh penting dari Poso dan Alor.
Bunga Pantar, Tali Pengikat Dua Wilayah
Daripada perkawinan keduanya dengan Yuliana Sarimata Blegur, Mr. Darius Raupa dikaruniai seorang putra yang namanya sarat makna dan mengenang tempat pertemuan mereka: Jefferson Amorius Bunga Pantar Raupa.
Berdasarkan dokumen resmi catatan kelahirannya yang tersimpan, sang putra lahir pada 13 Februari 1957, tepat pukul 06.30 pagi, dengan berat 3,15 Kg. Kelahiran bersejarah ini tercatat berlangsung di Rumah Sakit Umum Kalamahi.
Penyebutan “Bunga Pantar” dalam nama sang anak secara jelas merujuk pada Pulau Pantar, Alor, tempat sang ayah menunaikan tugas negara dan menemukan cinta sejatinya. Nama ini bukan sekadar identitas, melainkan sebuah penanda historis ikatan keluarga lintas wilayah yang dijalin oleh seorang tokoh pergerakan Poso.
Jejak Sang Pejuang yang Menghargai Keluarga
Perkawinan Darius Raupa dengan Putri Bangsawan Alor ini menunjukkan bahwa sosoknya adalah pribadi yang memiliki jaringan luas dan peran yang diakui secara nasional.
Keterlibatannya di Alor adalah bagian dari sumbangsihnya pada negara, jauh sebelum ia kembali ke Poso dan menjadi martir dalam Tragedi Berdarah Pandiri.
Ia meninggalkan jejak bukan hanya dalam lembar sejarah berdirinya Provinsi Sulawesi Tengah, tetapi juga dalam jejak keturunan yang tersebar di berbagai wilayah—termasuk melalui ikatan perkawinan dengan bangsawan Alor, yang mewariskan darah kepemimpinan dan perjuangan hingga generasi berikutnya.
Kisah cinta Mr. Darius Raupa dan Yuliana Sarimata Blegur ini melengkapi mozaik sejarah Indonesia, membuktikan bahwa pada masanya, tokoh-tokoh daerah telah menjalin koneksi kultural dan kekeluargaan yang kuat, melintasi batas-batas geografis pulau, demi cita-cita pengabdian yang lebih besar.
Ditulis: Simson Towengke
Catatan: Sumber ini diperoleh dari Yosi Raupa masih menyimpan beberapa Dokumen penting.

Opini Anda