Dua lembar dokumen bertulis tangan dari pertengahan 1950-an, yang tersimpan apik oleh Bapak Darius Raupa, kembali membuka lembaran penting sejarah pendidikan di Pulau Pantar, Alor. Dokumen-dokumen tersebut mengisahkan perjuangan lokal yang penuh semangat dalam mendirikan sekolah-sekolah rakyat di bawah naungan Jajasan Perguruan “Merah Putih” (JPMP).
Titik Awal Inisiatif Rakyat
Dokumen pertama, sebuah surat resmi berkop JPMP dari 19 Desember 1956, menandai titik permulaan inisiatif ini. Surat yang ditujukan kepada Bapak Sja Tanoefa ini mengkonfirmasi dan menyambut gembira langkah pendirian sekolah rakyat di Pantar.
JPMP menyatakan bahwa perjuangan ini tidak mudah. Dalam surat tersebut disebutkan adanya tantangan berupa “pembangkangan dan kesulitan adat” yang harus diatasi. Namun, tekad JPMP dan dukungan dari para tetua adat (“kepala”) sangat kuat, dengan tujuan menjadikan sekolah-sekolah ini sebagai “pelindung” bagi masyarakat.
“Dengan amat gembira Rakjat kami merasa sekolah Bapak didirikan Rakjat jang berbisa bagi kami,” demikian kutipan dari surat tahun 1956, menunjukkan betapa besarnya harapan rakyat terhadap lembaga pendidikan ini.
Setahun Penuh Kemuliaan
Keberhasilan perjuangan ini kemudian dikonfirmasi oleh dokumen kedua, sebuah laporan atau catatan syukuran bertanggal 12 Desember 1957. Dokumen yang ditandatangani oleh Kepala Raja Baloe dan H.M. Tuati Sekretaris Umum JPMP ini, merayakan bahwa “Sekolah Rakjat di mulai 18 Des. 1956” dan kini telah membuka kembali ruang belajar di seluruh Pantar.
Laporan tersebut menggunakan bahasa yang sarat makna, menyebutkan bahwa setelah rakyat menderita akibat “kekejaman dari Negri dan Tjuri,” inisiatif pendidikan ini telah membawa kesedjukan dan kebahagiaan.
“Sekolah-sekolah Rakjat di Wilaja Rakjat Pantar menjadi kemuliaan bagi Rakjat sendiri kami sangat senang atas pertjobaan Rakjat di seluruh Wilajah Pantar,” bunyi laporan tahun 1957.
Dokumen ini menggarisbawahi semangat gotong royong dan kemandirian, karena keberhasilan ini adalah hasil dari dukungan segenap Pantar sendiri dan dianggap sebagai berkah spiritual. Penandatanganan oleh para pemimpin lokal menegaskan bahwa ini adalah gerakan yang didorong dari bawah, oleh dan untuk rakyat Pantar.
Arsip Berharga Penjaga Sejarah
Kedua arsip ini tidak hanya sekadar surat, melainkan bukti otentik dari gerakan pembangunan bangsa melalui jalur pendidikan di daerah terpencil pada masa itu.
Dokumen yang kini dijaga oleh Yosi Raupa, dan sebelumnya oleh Darius Raupa, ini menjadi saksi bisu betapa pentingnya peran lembaga non-pemerintah seperti Jajasan Perguruan “Merah Putih” dalam merintis harapan dan cahaya melalui pendidikan bagi generasi muda Pantar di masa-masa awal kemerdekaan Indonesia.
Ditulis : Simson Towengke

Opini Anda