Bagi siapa saja yang baru pertama kali bertemu dengannya, postur tubuh pria ini pasti langsung mencuri perhatian. Dengan tinggi badan di atas 180 sentimeter dan otot-otot yang terlatih layaknya binaragawan legendaris Ade Rai, sosoknya tampak begitu dominan di dalam ruangan. Tegas, gagah, dan berwibawa itulah kesan pertama yang tak terhindarkan.
Namun, begitu ia menyapa dan melempar senyum, kesan intimidatif itu langsung luruh, berganti dengan kehangatan yang merangkul. Pria itu adalah Mohamad Farid Podungge, sosok yang kini mengemban amanah penting sebagai Bendahara DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sulawesi Tengah.
Pria kelahiran Kayamanya, Poso Kota pada 2 Mei 1984 ini bukanlah orang baru dalam panggung pergerakan. Sejak muda, Farid dikenal aktif di berbagai organisasi daerah dan memiliki jaringan yang sangat kuat dengan para politisi senior, baik di tingkat lokal maupun nasional. Pengalaman matang itulah yang membentuknya menjadi pribadi yang tidak hanya luwes, tetapi juga taktis.
Di kalangan teman, kolega, dan masyarakat sekitar, Farid memiliki sebuah julukan unik yang melekat erat: “Panglima”.
Julukan ini bukan lahir karena ia memimpin pasukan militer, melainkan karena sebuah reputasi sosial yang ia bangun bertahun-tahun. Bagi orang-orang di sekitarnya, Farid adalah tempat bersandar saat badai masalah datang. Ia adalah tipe orang yang selalu memiliki jalan keluar. “Familiar memberikan solusi tanpa masalah,” begitu seloroh kawan-kawannya, memplesetkan jargon terkenal, dalam arti yang sebenar-benarnya.
Karakter solutif itu kembali terlihat nyata dalam kepulangannya ke tanah kelahiran baru-baru ini. Menghabiskan waktu kurang lebih tiga malam di Poso, agenda utamanya murni untuk merawat tali silaturahmi dengan warga dan kerabat lama. Tak sekadar melepas rindu, kehadiran “Sang Panglima” juga membawa misi khusus sebagai sponsor utama yang menuntaskan gelaran Turnamen Fishing DPD PSI Poso, yang sukses dipungkasi pada 30 Mei 2026 kemarin. Lewat ajang tersebut, ia kembali menunjukkan dukungannya pada ruang rekreasi dan kebersamaan masyarakat di akar rumput.
Sebagai seorang yang bergerak di dua dunia yang menuntut ketajaman berpikir politik dan bisnis Farid memang berhasil mengawinkan ketegasan seorang pengusaha dengan keluwesan seorang politikus muda. Karakter tegasnya membuat ia disegani dalam negosiasi bisnis dan rapat-rapat partai, namun sifatnya yang ramah dan ringan tangan membuatnya selalu dicintai di mana pun ia memijakkan kaki.
“Dia itu berbadan besar, tapi hatinya jauh lebih besar,” ungkap salah seorang rekan dekatnya.
“Panglima tidak pernah tebang pilih. Siapa saja yang datang membawa masalah, pulang pasti membawa solusi atau minimal ketenangan.”
Sifat ringan tangannya bukan sekadar pencitraan politik. Jauh sebelum namanya tercatat sebagai Bendahara PSI Sulteng, putra asli Poso ini sudah terbiasa turun tangan membantu sesama. Baginya, jabatan politik, jaringan luas dengan para tokoh senior, dan dunia usaha hanyalah alat atau sarana untuk bisa berbuat lebih banyak bagi tanah kelahirannya.
Di tengah dinamika politik yang sering kali kaku, sosok Farid Podungge hadir memberikan warna yang berbeda. Ia membuktikan bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin tidak hanya diukur dari ketegasan garis wajah atau kekarnya postur tubuh, melainkan dari seberapa erat ia merawat silaturahmi dan seberapa sering tangan itu terulur untuk meringankan beban orang lain.
Bagi Sulawesi Tengah, ia bukan sekadar politikus atau pengusaha. Ia adalah Sang Panglimaβpenjaga harapan yang selalu siap sedia memberikan solusi, kapan pun dan bagi siapa pun yang membutuhkan. (Simson Towengke)
Farid Podungge, ‘Panglima’ Penjaga Harapan dari Sulawesi Tengah
Merawat Akar Rumput: Hadirkan Solusi Lewat Silaturahmi di Tana Poso

Opini Anda